Kamu Beneran Baik-Baik Aja atau Cuma Terbiasa Pura-Pura? Psikologi Menjawab

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sendirian di tengah keramaian | Sumber: Pexels/Gokce Gok

Ternyata, kita nggak bisa bohongi emosi kita sendiri loh.

Kadang kita pikir, kita sudah cukup kuat untuk pura-pura tidak merasakan apa-apa. Bodo amat. Bilang ke diri sendiri: "Gapapa kok, kondusif aja, udah biasa." Seolah-olah dengan mengucapkannya, semuanya bisa selesai begitu saja.

Padahal jauh di dalam sana, ada nan berisik. Ada nan belum betul-betul selesai.

Di depan orang lain, kita bisa terlihat baik-baik saja. Ketawa, ngobrol, tampil normal sepenuhnya. Tidak ada nan curiga. Tidak ada nan tahu.

Tapi begitu sendirian, sunyi itu datang. Hal-hal nan coba kita lupakan, tiba-tiba terasa lagi. Pelan-pelan, alias sekaligus.

Dan di titik itulah kita sadar: kita nggak bisa bohongi diri sendiri. Semuanya tumpah, entah dalam corak air mata, kelelahan, alias rasa nan susah dijelaskan namanya.

Ternyata Ini Namanya Apa?

Apa nan kita alami itu rupanya ada namanya loh! ialah emotional suppression.

Psikolog James Gross dari Stanford University (1998) menjelaskan bahwa emotional suppression adalah langkah kita menekan tanda-tanda luar dari emosi nan ada di dalam. Sederhananya: emosinya tetap ada, tapi kita paksa agar tidak kelihatan. Senyum tetap terpasang, bunyi tetap stabil, jawaban tetap "baik-baik aja", sementara di dalam, semuanya tetap penuh.

Dan nan perlu digarisbawahi: ini bukan tanda kelemahan. Ini sistem nan otak kita lakukan, perihal ini seringkali tanpa kita sadari, apalagi tanpa kita minta.

Kenapa Sih Kok Kita Jadi Terbiasa Pura-Pura?

Lalu kenapa kita bisa sampai terbiasa melakukan ini?

Seringkali jawabannya ada di lingkungan. Ada orang nan dari mini memang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan, entah lantaran tidak ada ruang untuk itu, alias lantaran pernah merasa bahwa emosinya tidak dianggap. Lama-lama, menyimpan emosi jadi sesuatu nan terasa "normal."

Ada juga nan terlalu terbiasa memikirkan orang lain. Takut merepotkan, tidak lezat mengungkapkan apa nan dirasakan, lebih nyaman jadi pendengar daripada nan didengar. Perasaan sendiri? Nanti dulu.

Dan ketika pola itu terus berulang, emosi nan tidak pernah diungkapkan itu menumpuk. Satu per satu, diam-diam. Sampai suatu titik, tubuh dan pikiran sudah terlalu capek untuk pura-pura kuat. Lalu semuanya meledak, kadang dalam corak nan apalagi kita sendiri tidak mengerti dari mana asalnya.

Tanda-Tanda Kamu Lagi Membohongi Perasaan Sendiri

Lalu gimana mengenali bahwa kita sedang membohongi emosi sendiri? Tandanya seringkali halus, apalagi kita sendiri tidak menyadarinya.

Kamu mungkin sangat mudah menangis ketika sendirian, tapi begitu ada orang lain, Anda bisa bersikap ramah, tertawa, seolah tidak ada nan terjadi. Kamu refleks menjawab "baik-baik aja" ketika ditanya, apalagi sebelum sempat betul-betul merasakannya. Kamu lebih nyaman mendengar cerita orang lain daripada menceritakan dirimu sendiri. Dan kadang, Anda merasa capek alias kosong, tapi tidak tahu capek lantaran apa.

Ketika sendirian, semuanya terasa berbeda | Sumber: Pexels/Khoa Vo

Tanda-tanda ini bukan kelemahan. Ini sinyal bahwa ada sesuatu di dalam nan belum betul-betul didengar.

Apa nan Terjadi Kalau Terus Dibiarkan?

Lalu apa nan terjadi jika semua ini terus dibiarkan?

Penelitian dari Baylor University nan dipublikasikan di PubMed (2023) menemukan bahwa emotional suppression berangkaian dengan reaktivitas stres fisiologis nan lebih tinggi, artinya tubuh kita tetap "menanggung" beban itu meski kita pura-pura tidak merasakannya. Jantung, hormon stres, semuanya ikut terdampak. Perlahan, tanpa kita sadari.

Tidak hanya tubuh. Hubungan dengan orang lain pun ikut terpengaruh. Gross & John (2003) menemukan bahwa kebiasaan menekan emosi berangkaian dengan kegunaan interpersonal nan lebih buruk, kita jadi susah terhubung secara tulus dengan orang lain, lantaran sebagian diri kita selalu berjaga-jaga.

Dan pada akhirnya, kesehatan mental pun ikut berbicara. Emotional suppression nan dibiarkan terlalu lama berkorelasi dengan meningkatnya akibat depresi dan kecemasan. Bukan lantaran kita tidak cukup kuat, tapi lantaran tidak ada manusia nan bisa terus menyimpan tanpa pernah melepaskan.

Langkah Kecil Untuk Mulai Jujur ke Diri Sendiri

Lalu dari mana kita mulai?

Tidak perlu langsung berubah drastis. Mulai dari nan mini saja.

Coba biasakan menulis di jurnal alias catatan setiap malam sebelum tidur, hari ini ngapain aja, ketemu siapa, dan nan paling penting: hari ini rasanya gimana? Tidak perlu panjang, tidak perlu bagus. Ini bukan untuk dibaca orang lain, tapi ini untuk Anda sendiri. Psikologi menyebutnya expressive writing, dan penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini membantu kita mengenali dan memproses emosi nan selama ini tersimpan.

Menulis jurnal, salah satu langkah mini untuk mulai jujur pada diri sendiri | Sumber: Pexels/Arina Krasnikova

Selain itu, coba biasakan untuk tidak langsung menjawab "baik-baik aja" ketika ada sesuatu nan sebenarnya terasa berat. Tidak kudu cerita semuanya tapi izinkan dirimu untuk mengakui, minimal ke diri sendiri, bahwa ada nan sedang tidak baik-baik saja.

Dan jika sudah siap, cerita. Ke satu orang nan Anda percaya. Tidak kudu semuanya, tidak kudu sempurna. Sedikit dulu, cukup.

Pada akhirnya, tidak ada nan bisa kita lakukan untuk betul-betul lari dari emosi kita sendiri. Cepat alias lambat, semuanya bakal berbicara, entah lewat air mata di malam nan sepi, entah lewat ledakan nan tidak kita duga.

Jadi daripada terus berpura-pura, mungkin sudah waktunya kita mulai jujur. Pelan-pelan. Tidak kudu sekaligus.

Karena dirimu itu berharga. Dan seseorang nan berbobot layak untuk diperlakukan dengan baik, termasuk oleh dirinya sendiri. Kalau bukan Anda nan mulai menyayangi dirimu, siapa lagi?

Semuanya bakal baik-baik saja. Insyaallah.

____________________________________

Oleh Shafwa Alima, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan