Ilustrasi, obat pereda nyeri parasetamol.(Dok. Magnific)
KEBIASAAN mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa pengawasan medis rupanya menyimpan akibat kesehatan nan serius. Dokter ahli saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), memperingatkan bahwa penggunaan obat antinyeri nan berlebihan justru dapat memicu sakit kepala berulang.
Dokter nan berkawan disapa Sena ini menjelaskan bahwa penggunaan obat mempunyai dua sisi nan bertolak belakang. Jika dikonsumsi sesuai anjuran, obat efektif meredakan gejala. Namun, jika digunakan secara sembarangan, pasien berisiko mengalami medication-overuse headache (MOH) alias sakit kepala akibat dosis obat nan berlebihan.
Mengenal Medication-Overuse Headache (MOH)
Menurut dr. Sena, MOH terjadi ketika seseorang mengonsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang alias tidak sesuai dosis, termasuk obat-obatan nan dijual bebas (over-the-counter).
"Konsumsi obat nyerinya itu tidak sesuai dengan rekomendasi master alias mengonsumsi itu jangka panjang, misalnya obat seperti parasetamol, ibuprofen nan bisa beli bebas. Itu bisa menyebabkan kebalikannya, nyeri kepala nan disebabkan lantaran overuse," ujar dr. Sena di Jakarta, Jumat (19/6).
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan di mana pasien terus menambah dosis lantaran merasa sakit kepalanya tidak kunjung hilang, padahal justru konsumsi obat itulah nan menjadi penyebab utamanya.
Bahaya Self-Diagnose dan Media Sosial
Salah satu pemicu utama kejadian ini adalah tren self-diagnose alias pemeriksaan mandiri. dr. Sena menyoroti gimana info kesehatan nan beredar di media sosial sering kali membikin masyarakat merasa cukup mendiagnosis diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.
Selain itu, kebiasaan membeli obat secara berdikari dengan mengulang resep lama tanpa kontrol master juga menjadi masalah. Praktik ini sering kali berujung pada peningkatan dosis nan tidak terkendali, misalnya dari dosis dua kali sehari menjadi empat kali sehari tanpa pertimbangan medis.
Sakit kepala tidak selalu merupakan migrain biasa. dr. Sena menegaskan bahwa dugaan semua sakit kepala bisa disembuhkan dengan obat bebas adalah mitos. Sakit kepala bisa menjadi indikasi kondisi fatal seperti perdarahan otak nan memerlukan penanganan darurat di akomodasi kesehatan.
Langkah Pencegahan
Untuk menghindari akibat sakit kepala kronis akibat obat, masyarakat diimbau untuk:
- Berhenti melakukan pemeriksaan berdikari berasas info media sosial.
- Selalu berkonsultasi dengan master sebelum mengonsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang.
- Tidak menambah alias mengulang dosis obat tanpa petunjuk medis.
- Segera melakukan pemeriksaan ke akomodasi kesehatan jika sakit kepala terasa tidak biasa alias menetap.
Dengan memahami akibat medication-overuse headache, diharapkan masyarakat lebih bijak dalam mengelola kesehatan saraf dan tidak meremehkan indikasi sakit kepala nan muncul secara berulang. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·