Jakarta, CNN Indonesia --
Pemadaman kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menghadapi beragam kendala, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga kondisi letak kebakaran nan susah dijangkau.
Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam mengatakan sejumlah letak tetap menyisakan kepulan asap setelah proses pemadaman.
Berikut daftar masalah nan hambat pemadaman karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Keterbatasan sumber air dan peralatan
Pada Rabu (19/8), petugas campuran menangani sedikitnya 22 titik kebakaran di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang, Kotim di tengah keterbatasan sarana pemadaman.
"Kondisi lapangan tidak mudah. Petugas menghadapi hambatan sumber air nan jauh, keterbatasan selang, hingga gangguan pada mesin pemadam," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, seperti diberitakan detikcom pada Kamis (20/8).
2. Lokasi karhutla susah dijangkau
Penanganan karhutla tetap menyisakan kepulan asap setelah proses pemadaman meski penanganan karhutla berjalan di puluhan titik dalam waktu bersamaan.
"Di beberapa lokasi, api berada di area nan susah dijangkau sehingga memerlukan waktu dan tenaga ekstra untuk melakukan pembasahan," kata Multazam.
"Salah satu area nan menjadi perhatian berada di sekitar Jalan Moh Hatta Lingkar Selatan, Mentawa Baru Ketapang," ujarnya.
"Selain itu, penanganan juga dilakukan di sejumlah titik di Jalan Panglima Hamdan, Jalan MT Haryono Barat, Jalan HM Arsyad hingga area Jalan Jenderal Sudirman," imbuhnya.
3. Keterbatasan BBM
Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah mengatakan kesiapan air dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu hambatan terbesar dalam penanganan karhutla.
Upaya melibatkan masyarakat melalui RT untuk membantu menyuplai air juga menghadapi kendala. Menurut Irpansyah, banyak penduduk tidak mempunyai kendaraan alias sarana nan memadai untuk mengangkut air menuju letak kebakaran.
"Sementara ini kami sudah kerja nyaris satu bulan lebih. Kami Kecamatan Mentawa Baru Ketapang khususnya, itu kami swadaya. Jadi, enggak ada support sama sekali," kata Irpansyah.
Pada Rabu (19/8), pihaknya baru menerima support BBM sebanyak 30 liter dari BPBD Kotim untuk mendukung aktivitas relawan. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan operasional.
Intensitas penanganan nan tinggi juga mulai berakibat terhadap kondisi para relawan. Seorang relawan asal Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Rizky Mubarrak, kudu mendapat penanganan medis di IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas dan kelelahan ketika membantu memadamkan karhutla.
Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah menyebut kondisi Rizky telah stabil setelah mendapatkan pertolongan medis.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mengungkap sebaran titik panas alias hotspot di wilayah Kalimantan tertinggi berada di wilayah Kalimantan Tengah dengan 767 titik. Disusul Kalimantan Barat 560 titik, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing 74 titik, serta Kalimantan Utara ada 3 titik.
(van/agt)
11 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·