Cinta Pertama Seorang Putri Seharusnya Bernama Ayah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi ini menampilkan kehangatan pelukan seorang ayah kepada putrinya sebagai simbol cinta pertama nan membentuk rasa aman, nilai diri, dan langkah seorang wanita memahami kasih sayang hingga dewasa. Foto: Gemini AI

Di tengah maraknya pembahasan tentang hubungan toksik, trauma relasi, dan rendahnya standar anak muda dalam memilih pasangan, ada satu akar persoalan nan sering luput dibicarakan secara jujur: banyak anak wanita tumbuh tanpa pernah betul-betul merasakan kasih sayang ayah nan sehat. Bukan tanpa ayah secara biologis, melainkan tanpa kehadiran emosional seorang ayah dalam kehidupan mereka.

Ayah datang di rumah, tetapi tidakhadir dalam perhatian. Ayah memenuhi kebutuhan finansial, tetapi kandas memenuhi kebutuhan afeksi. Akibatnya, tidak sedikit wanita tumbuh dewasa dengan kebingungan mendasar tentang seperti apa cinta nan layak diterima.

Ketika seorang anak wanita tidak pernah belajar sejak mini bahwa dirinya layak dicintai dengan hormat, dihargai dengan lembut, dan diperlakukan dengan penuh perhatian, dia bakal sangat mungkin terkejut ketika menerima kasih sayang dari orang lain—termasuk dari pasangan.

Dalam banyak kasus, keterkejutan itu justru berubah menjadi ketergantungan. Ia merasa siapa pun nan memberinya perhatian adalah penyelamat. Ia menganggap perlakuan dasar sebagai corak cinta luar biasa. Ia susah membedakan antara kasih sayang tulus dan manipulasi emosional. Karena itulah, cinta pertama seorang putri semestinya berjulukan ayah.

Ilustrasi ayah dan anak perempuan. Foto: TimeImage Production/Shutterstock

Pernyataan ini bukan romantisasi berlebihan terhadap figur ayah, melainkan pengingat bahwa peran ayah dalam kehidupan anak wanita jauh melampaui tugas memberi nafkah. Ayah adalah figur laki-laki pertama nan membentuk persepsi seorang anak wanita tentang gimana laki-laki semestinya memperlakukan dirinya. Dari ayah, seorang putri belajar apakah dirinya layak dihormati, layak didengar, dan layak dicintai tanpa syarat.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis anak perempuan. Sebuah studi terhadap remaja putri di Indonesia menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan kontribusi nyata terhadap psychological well-being remaja perempuan, dengan pengaruh statistik sekitar 20 persen terhadap tingkat kesejahteraan psikologis mereka. Temuan ini menegaskan bahwa ayah bukan pelengkap dalam pengasuhan, melainkan fondasi krusial bagi kesehatan emosional anak.

Lebih jauh, penelitian lain menunjukkan bahwa kelekatan ayah berkontribusi pada meningkatnya rasa percaya diri, keahlian izin emosi, dan keahlian komunikasi anak. Anak wanita nan tumbuh dengan ayah nan datang secara emosional condong lebih percaya diri, lebih stabil secara mental, dan mempunyai standar nan lebih sehat dalam menjalin hubungan ketika dewasa.

Sebaliknya, ketiadaan figur ayah—baik secara bentuk maupun emosional—sering meninggalkan kekosongan psikologis nan tidak sederhana. Banyak wanita dewasa nan sebenarnya tidak sedang mencari pasangan, tetapi sedang mencari pengesahan nan dulu tidak pernah mereka dapatkan dari figur ayah.

Ilustrasi anak wanita menangis saat berbareng ayah. Foto: Shutterstock

Mereka mendambakan rasa aman, perhatian, dan afirmasi nan semestinya mereka kenal pertama kali dari rumah. Ketika kebutuhan emosional masa mini itu tidak terpenuhi, hubungan romantis kerap menjadi tempat pelarian.

Fenomena ini menjelaskan kenapa sebagian wanita begitu mudah memperkuat dalam hubungan nan tidak sehat. Bukan lantaran mereka tidak tahu hubungan itu menyakitkan, melainkan lantaran standar kasih sayang mereka sejak awal sudah rendah. Ketika seseorang hanya terbiasa menerima dingin, sedikit kehangatan bakal terasa seperti cinta besar.

Di sinilah urgensi peran ayah menjadi sangat nyata. Ayah nan memeluk putrinya ketika dia sedih sedang mengajarkan bahwa emosi tidak perlu dipendam sendirian. Ayah nan mendengarkan cerita putrinya tanpa menghakimi sedang mengajarkan bahwa suaranya berharga. Ayah nan menghormati ibu di depan anak sedang memberi contoh konkret tentang gimana laki-laki memperlakukan perempuan. Semua hubungan mini itu membangun cetak biru psikologis dalam diri anak tentang relasi nan sehat.

Sayangnya, budaya pengasuhan di banyak family Indonesia tetap menempatkan ayah semata sebagai pencari nafkah. Banyak laki-laki merasa tugasnya selesai ketika kebutuhan materi family terpenuhi. Mereka lupa bahwa anak tidak hanya memerlukan duit sekolah dan makan malam, tetapi juga pelukan, percakapan, validasi, dan rasa kondusif emosional. Dalam banyak rumah, ayah diposisikan sebagai figur nan ditakuti, bukan didekati. Dihormati, tetapi tidak dirindukan. Hadir, tetapi asing.

Ilustrasi ayah memeluk anak. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Padahal, anak wanita tidak memerlukan ayah nan sempurna. Mereka hanya memerlukan ayah nan hadir. Ayah nan bertanya tentang harinya. Ayah nan tahu warna favoritnya. Ayah nan menyadari kapan putrinya sedang sedih meski dia tidak berbicara apa-apa. Ayah nan tidak menertawakan tangisnya. Ayah nan tidak menganggap kedekatan emosional sebagai kelemahan.

Kehadiran semacam itu membangun self-worth anak wanita sejak dini. Ia tumbuh dengan kepercayaan bahwa dirinya layak diperlakukan baik. Ia tidak mudah terpikat oleh perhatian minimum. Ia tidak mengira pencemburu adalah cinta. Ia tidak salah mengartikan manipulasi sebagai kepedulian. Ia tidak memperkuat dalam hubungan hanya lantaran takut kehilangan satu-satunya orang nan memberinya perhatian.

Studi lain apalagi menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berangkaian dengan pembentukan standar relasi dan preferensi pasangan anak wanita ketika dewasa. Keterlibatan ayah dan self-esteem mempunyai pengaruh dalam preferensi pemilihan pasangan wanita dewasa muda. Dengan kata lain, kualitas hubungan ayah-anak dapat membentuk gimana seorang wanita memilih pasangan di masa depan.

Namun, krusial untuk ditegaskan bahwa peran ayah bukan berfaedah menjadikan ayah sebagai satu-satunya penentu masa depan psikologis anak. Banyak wanita tumbuh kuat tanpa figur ayah ideal.

Ilustrasi balita bermain dengan ibu. Foto: Ekkasit A Siam/Shutterstock

Banyak ibu tunggal sukses membesarkan anak dengan luar biasa. Kualitas relasi dalam family tetap lebih krusial daripada sekadar struktur keluarga. Namun ketika seorang ayah memang datang dalam keluarga, keterlibatan emosionalnya bukan bonus, melainkan tanggung jawab moral.

Menjadi ayah tidak hanya tentang memberi nama belakang kepada anak. Tidak hanya tentang bayar biaya hidup. Menjadi ayah berfaedah ikut membentuk langkah seorang anak memandang dirinya sendiri. Cara dia memahami cinta. Cara dia menerima perlakuan orang lain. Cara dia menentukan pemisah dalam relasi.

Karena itu, para ayah perlu memahami bahwa setiap sikap dingin, setiap janji nan diingkari, setiap momen ketika putrinya diabaikan, meninggalkan jejak psikologis nan lebih dalam daripada nan mereka kira. Anak mungkin lupa perincian peristiwanya, tetapi dia mengingat gimana dirinya dibuat merasa tidak penting, tidak didengar, alias tidak cukup berharga.

Sebaliknya, setiap perhatian mini nan diberikan ayah juga membekas lama. Pujian sederhana. Pelukan setelah hari nan buruk. Kesediaan mendengar cerita remeh. Kehadiran di aktivitas sekolah. Semua itu bukan momen biasa bagi anak perempuan. Itu adalah bukti bahwa dirinya dicintai.

Dan anak nan tumbuh dengan cinta semacam itu bakal membawa standar tersebut hingga dewasa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan