Bank sentral di sejumlah negara berkembang Asia mulai mencari langkah baru untuk menjaga stabilitas mata uang tanpa terus mengandalkan persediaan devisa. Langkah ini dilakukan di tengah ketidakpastian global, mulai dari bentrok di Timur Tengah hingga prospek suku kembang Amerika Serikat (AS) nan memperkuat tinggi dalam waktu lama.
Ketegangan di Iran dan AS sempat mendorong nilai minyak bumi melonjak. Kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan bagi negara-negara Asia nan tetap berjuntai pada impor energi. Dampaknya, sejumlah mata duit Asia masuk dalam jejeran mata duit dengan keahlian terburuk sepanjang tahun ini.
Dikutip dari Bloomberg, Minggu (9/8), sejumlah bank sentral di area Asia sekarang memperluas strategi. Selain meningkatkan suku kembang dan melakukan intervensi di pasar kurs asing (valas), mereka berupaya menarik lebih banyak aliran dolar dari dalam maupun luar negeri.
Salah satunya India nan sukses menghimpun nyaris USD 40 miliar alias sekitar Rp 715 triliun dari masyarakat diaspora melalui simpanan dolar dengan imbal hasil tinggi. Langkah tersebut ikut menopang pemulihan rupee setelah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Mei.
Selain itu, Korea Selatan juga mendorong perusahaan untuk mempercepat repatriasi alias membawa kembali pendapatan dalam dolar ke dalam negeri. Kebijakan tersebut membantu won mencatat penguatan bulanan terbesar sejak 2022.
Sementara itu, Indonesia menarik sekitar USD 1,6 miliar alias sekitar Rp 28,6 triliun aliran biaya ke pasar obligasi dalam dua bulan terakhir. Pemerintah juga memberikan sejumlah insentif untuk menarik kembali minat penanammodal asing terhadap aset finansial domestik.
Lebih lanjut, Taiwan juga mengambil langkah serupa dengan meminta eksportir menjual dolar AS pada saat mata duit lokal mengalami tekanan. Strategi tersebut menjadi pengganti bagi bank sentral untuk mendapatkan pasokan kurs asing tanpa kudu terus menjual persediaan devisa di pasar.
“Berbagai aspek memang mendorong kebijakan ini, tetapi pada dasarnya semuanya bermuara pada upaya mempertahankan persediaan devisa sebaik mungkin di tengah volatilitas dan ketidakpastian nan secara struktural lebih tinggi,” kata Head of Asia FX and Rates Strategy BofA Global Research, Claudio Piron.
Claudio menilai negara-negara Asia juga kudu menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan kebutuhan mempertahankan likuiditas domestik. Oleh lantaran itu, menarik aliran biaya masuk menjadi salah satu strategi penting.
Rupiah Masuk 5 Mata Uang Terburuk
Tekanan terhadap mata duit Asia terlihat dari keahlian sepanjang tahun ini. Rupiah Indonesia, rupee India, dan baht Thailand masuk ke dalam lima mata duit dengan keahlian terburuk dari 22 mata duit negara berkembang nan dipantau Bloomberg.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Amerika Latin. Peso Kolombia, real Brasil, dan peso Meksiko justru menjadi mata duit dengan keahlian terbaik.
Salah satu kelebihan negara-negara Amerika Latin adalah tingkat suku kembang nan relatif lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara berkembang lainnya. Selain itu, banyak negara di area tersebut merupakan eksportir minyak sehingga lebih terlindungi ketika nilai daya meningkat.
Head of Investment Management Western Asset Management di Singapura, Desmond Fu, mengungkapkan jika ditinjau dari sisi imbal hasil total, mata duit Amerika Latin mungkin tetap mempunyai kelebihan lantaran imbal hasil nan lebih tinggi.
Namun, menurut dia, sejumlah mata duit Asia berkesempatan mempersempit jarak andaikan imbal hasil obligasi AS mulai stabil, gangguan pasokan daya tidak kembali memburuk, dan siklus investasi kepintaran buatan (AI) tetap menopang ekspor teknologi serta shopping modal di area tersebut.
Dolar AS dan The Fed Jadi Penentu
Ke depan, arah kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menjadi salah satu aspek utama nan menentukan pergerakan mata duit Asia. Pasar mencermati sikap Federal Reserve setelah tiga pejabat The Fed berbeda pendapat dalam keputusan bulan lampau untuk mempertahankan suku bunga. Mereka juga memperingatkan bahwa terlambat mengendalikan inflasi dapat memaksa bank sentral AS mengambil langkah nan lebih garang di kemudian hari.
Michael Wan, Senior Currency Analyst MUFG Bank di Singapura, mengatakan bank sentral Asia sekarang memilih untuk menyimpan lebih banyak amunisi kebijakan menghadapi ketidakpastian global.
“Bank sentral Asia mempertahankan lebih banyak amunisi lantaran ketidakpastian nan lebih besar mengenai beragam peristiwa global, termasuk arah nilai minyak, El Nino, imbal hasil AS, dan dolar,” ujar Michael.
Dengan kondisi tersebut, Michael menilai menarik lebih banyak aliran dolar dapat menjadi salah satu strategi nan kemungkinan terus digunakan negara-negara Asia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·