Ratusan mahasiswa Stanford University melakukan tindakan walk-out saat CEO Google Sundar Pichai berpidato.(Dok. Yahoo Tech)
Ratusan mahasiswa Stanford University melakukan tindakan walk-out massal sebagai corak protes saat CEO Google, Sundar Pichai, memberikan pidato wisuda pada akhir pekan lalu. Aksi ini dipicu oleh ketidakpuasan mendalam terhadap keterlibatan raksasa teknologi tersebut dalam kontrak militer dan pengawasan domestik.
Berdasarkan laporan nan dihimpun pada Selasa (16/6), sekitar 200 lulusan dari total 2.000 mahasiswa sarjana Stanford meninggalkan bangku mereka tepat saat Pichai naik ke podium. Para demonstran menyuarakan ejekan, meniup peluit, dan membentangkan spanduk di hadapan bos teknologi tersebut, menciptakan suasana nan sangat kontras dengan seremoni umum biasanya.
Protes Terhadap Project Nimbus dan Kontrak Militer
Aksi protes ini secara spesifik menyoroti peran Google dalam "Project Nimbus", sebuah perjanjian jasa cloud senilai miliaran dolar dengan pemerintah Israel. Mahasiswa menuduh Google memfasilitasi tindakan nan mereka sebut sebagai penindasan terhadap penduduk Palestina.
Selain itu, para pengunjuk rasa mengkritik kerja sama Google dengan badan penegak norma Amerika Serikat, seperti Immigration and Customs Enforcement (ICE), serta perjanjian kepintaran buatan (AI) terbaru dengan Pentagon melalui Google DeepMind.
"Kami tidak butuh miliarder teknologi lain untuk memberi tahu kami langkah menjadi kaya dari pembunuhan dan pengawasan terhadap penduduk Palestina serta imigran AS. Katakan pada CEO Google bahwa dia tidak disambut di sini," ungkap penyelenggara d=dilansir dari Yahoo tech, Selasa (16/6).
Upacara Tandingan "People's Commencement"
Setelah meninggalkan letak utama, para mahasiswa mengadakan upacara pengganti nan disebut "People's Commencement" di seberang tempat aktivitas resmi. Acara tandingan ini menghadirkan Mahmoud Khalil, seorang aktivis Aljazair-Palestina dan mantan organisator mahasiswa Universitas Columbia, sebagai pembicara utama.
Khalil sendiri mempunyai sejarah panjang dalam aktivisme dan sempat ditahan oleh pemasok ICE pada tahun 2025 selama 104 hari tanpa dakwaan resmi, sebuah kasus nan menjadi simbol perlawanan bagi para mahasiswa tersebut.
Respons Sundar Pichai
Meskipun menghadapi gangguan besar, Sundar Pichai tetap melanjutkan pidatonya. Menariknya, Pichai dilaporkan menghindari topik kepintaran buatan (AI) nan saat ini sedang sensitif di kalangan akademisi. Ia memilih untuk konsentrasi pada narasi perjalanan hidup pribadinya.
Namun, tindakan walk-out ini menunjukkan bahwa narasi individual tidak cukup untuk meredam kemarahan mahasiswa. Fenomena ini mencerminkan tren nan lebih luas di Amerika Serikat, di mana lembaga pendidikan tinggi menjadi medan tempur bagi isu-isu etika teknologi dan tanggung jawab korporasi global. (Yahoo tech/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·