eorang laki-laki menggembala ternak kerbaunya di persawahan tadah hujan nan mengering di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (17/9/2024).(Antara)
BENCANA hidrometeorologi di Kabupaten Majalengka terus menurun. Kesiapsiagaan musibah kekeringan di musim kemarau pun disiapkan.
Wawan Suryawan, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama di Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Majalengka menjelaskan mulai awal hingga pertengahan Juni 2026 ini musibah di Kabupaten Majalengka tercatat sebanyak 2 kejadian. Dari jumlah tersebut kejadian musibah alam berupa cuaca ekstrem sekali dan kejadian non musibah alam berupa kebakaran gedung dan pemukiman sekali.
“Sedangkan pada Mei 2026, kejadian nan dilaporkan ke kami sebanyak 7 kejadian,” tutur Wawan.
Jumlah tersebut terdiri dari musibah alam sebanyak 5 kejadian nan terdiri dari longsor dua kejadian dan cuaca ekstrem sebanyak 3 kejadian. Sedangkan untuk musibah non-alam tercatat sebanyak dua kejadian.
Diakui Wawan kejadian musibah hidrometeorologi di musim penghujan jumlahnya semakin menurun seiring bakal masuknya musim kemarau. Siaga musibah hidrometeorologi di Kabupaten Majalengka berasas surat ketetapan Bupati berhujung pada 30 April 2026.
“Untuk penetapan siaga darurat kekeringan dan kebakaran rimba lagi on proses dan bakal ditetapkan oleh Bupati Majalengka,” tutur Wawan.
BPBD Majalengka juga sudah memetakan wilayah nan rawan kekeringan di musim kemarau. Daerah nan rawan kekeringan dan krisis air bersih tersebar di 98 desa dan kelurahan di 18 kecamatan di Kabupaten Majalengka.
Wilayah nan berpotensi terdampak kekeringan sebagian besar berada di dataran rendah bagian utara Majalengka. Namun beberapa wilayah dataran tinggi di bagian selatan juga masuk dalam kategori rawan kekeringan. BPBD Majalengka berencana segera berkoordinasi dengan TNI dan Polri. Langkah tersebut dilakukan untuk merumuskan strategi penanganan saat musim tandus tiba. (UL/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·