Ilustrasi.(Magnific)
PERSOALAN mengenai norma membaca doa awal dan akhir tahun sering kali memicu perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian pihak melabeli ibadah ini sebagai bidah nan diharamkan lantaran dianggap tidak mempunyai dasar spesifik dari Sunah Nabi.
Namun, tinjauan mendalam dari para ustadz otoritatif memberikan perspektif nan berbeda dan lebih luas. Berikut ulasannya oleh Ustaz Fajar Ramdhani melalui akunnya di IG dengan mengutip pendapat Prof. Dr. Syauqi Ibrahim Allam.
Hukum Mengkhususkan Waktu untuk Berdoa
Mengkhususkan hari tertentu dalam setahun dengan angan alias ibadah tertentu nan berasal dari ibadah orang-orang saleh merupakan perihal nan diperbolehkan secara syariat. Praktik ini telah dijalankan oleh umat Islam selama berabad-abad.
Para ustadz dari beragam ajaran menegaskan kebolehannya. Catatan pentingnya ialah ibadah tersebut tidak diyakini sebagai Sunah Nabi (hadis), melainkan sebagai corak amal shalih nan baik.
Klaim nan menyatakan bahwa mengkhususkan waktu tertentu untuk bermohon adalah bidah justru dinilai oleh sebagian ustadz sebagai bidah metodologis. Hal ini karena klaim tersebut menghalangi umat untuk merutinkan kebaikan dan zikir kepada Allah SWT sesuai dengan kesiapan waktu dan kondisi mereka.
Warisan Ulama Mazhab Hambali dan Maliki
Doa awal dan akhir tahun bukanlah perkara baru. Amalan ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh para ustadz besar, khususnya dari ajaran Hambali, sejak sekitar 1.000 tahun nan lalu. Salah satu tokoh utama nan menganjurkan angan ini adalah Asy-Syaikh Al-Imam Abu Umar Al-Maqdisi (wafat 607 H), kerabat kandung dari penulis kitab monumental Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah.
Selain itu, sejarawan Syamsuddin Abu Al-Muzhaffar (Sibt Ibnu Al-Jauzi) dalam kitab Mir'at Az-Zaman fi Tawarikh Al-A'yan mencatat bahwa para pembimbing mereka selalu merutinkan angan ini dan tidak pernah melewatkannya sepanjang hidup. Dalam tradisi ajaran Maliki, angan ini juga tercatat dalam kitab-kitab mu'tamad (otoritatif) seperti Hasyiyah Al-Allamah Abu Abdullah Muhammad bin Al-Madani Kannun.
Teks Doa Awal Tahun:
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ القَدِيمُ الْأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَ كَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أسألُكَ العِصْمَةَ فِيهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
Allaahumma antal abadiyyul qadiimul awwal. Wa 'alaa fadhlikal 'azhiimi wa kariimi juudikal mu'awwal wa haadzaa 'aamun jadiidun qad aqbal as'alukal ishmata fiihi minasy syaithaani wa auliyaa ih wal 'auna 'alaa haadzihin nafsil ammaarati bis suu i wal isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraam.
Tuhanku, Kau nan Abadi, Qadim, dan Awal atas karunia-Mu nan besar dan kemurahan-Mu nan mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari rayuan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu nan kerap mendorongku bertindak jahat. Kepada-Mu, saya memohon pengarahan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.
Teks Doa Akhir Tahun:
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيهَا عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدُتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ
Allaahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu, wa lam atub minhu, wa halumta fiihaa 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii, wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa atii 'alaa ma'shiyatik fa innii istaghfartuka faghfirlii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardha, wa wa'attanii 'alaihits tsawaaba, fa as aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaa ii minka yaa kariim.
Tuhanku, atas perbuatanku di tahun ini nan termasuk Kau larang sementara saya belum sempat bertobat, perbuatanku nan Kau maklumi lantaran kemurahan-Mu sementara Kau bisa menyiksaku, dan perbuatan (dosa) nan Kau perintahkan untuk taubat sementara saya menerjangnya nan berfaedah mendurhakai-Mu maka sesungguh saya memohon maaf kepada-Mu ampunilah aku. Dan atas perbuatanku nan Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku nan terjanjikan pahala-Mu, maka saya memohon terimalah amalku, janganlah Kau membuatku putus asa wahai Tuhan nan Maha Pemurah.
Menjaga Syiar dan Keseimbangan
Islam secara absolut menganjurkan umatnya untuk bermohon tanpa batas waktu nan kaku. Perintah angan nan berkarakter absolut mencakup keumuman waktu, tempat, dan keadaan. Melarang seseorang merutinkan kebaikan justru dianggap sebagai upaya menyempitkan sesuatu nan luas dalam syariat.
Di tengah gempuran beragam intermezo duniawi nan melalaikan, keberadaan angan rutin tahunan ini menjadi pengingat krusial bagi umat Islam untuk tetap terhubung dengan Tuhannya. Prinsipnya adalah menjaga keseimbangan: beramal untuk alambaka seolah bakal meninggal besok hari, dan bekerja untuk bumi seolah bakal hidup selamanya.
Oleh lantaran itu, umat diimbau untuk mewaspadai fatwa-fatwa nan secara serampangan melabeli doa-doa mulia ini sebagai bid'ah tanpa dasar pengetahuan nan kuat. Menghormati warisan para ustadz salaf dan pemimpin ajaran adalah kunci dalam menjaga kepercayaan terhadap khazanah keilmuan Islam.
Wallahu a'lam bisshawab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·