Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak anak muda di Indonesia nan rupanya tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan saat ini. Banyak dari mereka apalagi sudah mengirimkan curriculum vitae (CV) alias lamaran cukup banyak, tetapi tidak ada jua membuahkan hasil.
Riset dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menjelaskan proses transisi dari pendidikan ke bumi kerja di Indonesia tetap dihadapi beragam tantangan, nan berakibat banyak pencari kerja kudu menunggu cukup lama sebelum memperoleh pekerjaan.
Riset tersebut menjelaskan berasas info dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, lama rata-rata untuk mendapat kerja setelah menyelesaikan pendidikan terakhir di Indonesia adalah 19,8 alias nyaris 20 bulan.
"Durasi rata-rata pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan mencapai 19,8 alias nyaris 20 bulan (1 tahun, 8 bulan)," kata riset LPEM FEB UI, dikutip Senin (8/6/2026). Beberapa aspek mempengaruhi lama alias lamanya masyarakat mendapat pekerjaan. Berikut faktor-faktornya.
1. Tingkat Pendidikan
Salah satu aspek penentu utama lama pencarian kerja adalah tingkat pendidikan.
Meskipun pendidikan nan lebih tinggi secara teoritis meningkatkan kesempatan kerja, dalam praktiknya lulusan pendidikan tinggi di Indonesia justru sering mengalami lama pencarian kerja nan lebih panjang dibandingkan dengan nan berilmu lebih rendah.
Hal lantaran bagi mereka nan berilmu menengah ke bawah, pekerjaan nan tersedia tidak banyak menuntut persyaratan nan ketat sehingga pekerjaan apa pun bakal dapat mereka kerjakan dan dapat dengan mudah terserap di pasar kerja, asalkan mereka tidak keberatan melakukan pekerjaan tersebut, nan umumnya diasosiasikan dengan pekerjaan kasar (blue collar).
Selain itu, perihal ini juga disebabkan oleh adanya mismatch antara bidang pendidikan nan diampu dengan kesiapan lapangan kerja di beragam sektor di pasar kerja, serta ekspektasi terhadap jenis pekerjaan dan tingkat upah, nan lebih tinggi bagi lulusan pendidikan tinggi.
"Fenomena ini juga menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan belum sepenuhnya diiringi dengan keterhubungan nan kuat dengan bumi industri," lanjut riset tersebut.
Selain itu, aspek demografis seperti usia, di mana ada perbedaan generasi pencari kerja dan jenis kelamin turut memengaruhi perbedaan lama pencarian kerja.
"Misalnya S1-S3, generasi kelahiran 1990-2000, lama mendapat pekerjaan 18,28 bulan, sedangkan diploma untuk generasi 1990-2000, lamanya mencapai 15,25 bulan, dan diploma generasi 2011-2025, lamanya mencapai 18,29 bulan," terang riset tersebut.
2. Lowongan Pekerjaan Tidak Sesuai Jurusan
Faktor lain nan berpengaruh adalah apakah pekerjaan nan tersedia sudah sesuai dengan bidang nan dipelajari.
"Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan dan kebutuhan bumi kerja belum sepenuhnya selaras," jelas riset tersebut.
Selain itu, ekspektasi terhadap jenis pekerjaan dan tingkat bayaran nan lebih tinggi juga dapat membikin lulusan pendidikan tinggi memerlukan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan.
"Durasi rata-rata mendapatkan pekerjaan nan tidak sesuai bidang mencapai 17,07 bulan, sedangkan nan sesuai bidang mencapai 16,68 bulan," ujar LPEM FEB UI.
3. Pengalaman Kerja
Begitu juga pengalaman kerja, di mana di Indonesia, perihal ini tetap menjadi modal krusial lebih sigap mendapatkan pekerjaan.
"Mereka nan pernah bekerja, mengikuti pelatihan, alias mempunyai keahlian tertentu condong lebih sigap terserap ke pasar kerja. Sebaliknya, pencari kerja nan belum mempunyai pengalaman kerja, terutama lulusan baru, sering menghadapi tantangan nan lebih besar saat mencari pekerjaan," imbuh LPEM FEB UI.
Dalam riset ini, masyarakat nan belum pernah magang lama mendapat pekerjaan mencapai 20,06 bulan. Sedangkan masyarakat nan pernah magang tanpa sertifikat mencapai 17,75 bulan, dan masyarakat nan pernah magang dan mendapat sertifikat mencapai 16,43 bulan.
"Artinya, pencari kerja nan pernah magang dan mempunyai sertifikat bisa mendapatkan pekerjaan sekitar 3,6 bulan lebih sigap dibandingkan mereka nan tidak mempunyai pengalaman magang," terangnya lagi.
4. Lokasi Tempat Tinggal
Lokasi tempat tinggal juga condong mempengaruhi lama mendapatkan pekerjaan.
Perbedaan akses terhadap lapangan kerja, info pasar kerja, dan aktivitas ekonomi membikin lama pencarian keria tidak merata antarwilayah.
Secara umum, wilayah di luar Pulau Jawa durasinya bisa mencapai 23,38 bulan, Pulau Jawa sekitar 17,4 bulan, perdesaan sekitar 23,27 bulan, dan perkotaan sekitar 18,7 bulan.
5. Ekspektasi Upah
Sementara itu, besarnya bayaran nan diharapkan (reservation wage) juga berpengaruh terhadap sigap alias lambatnya seseorang mendapatkan pekeriaan.
"Pencari kerja nan menginginkan bayaran lebih tinggi biasanya lebih selektif dalam memilih pekerjaan, sehingga proses pencarian kerja bisa berjalan lebih lama," jelasnya lagi.
Sebaliknya, mereka nan menghadapi tekanan ekonomi lebih besar condong lebih sigap menerima pekerjaan, meskipun tidak selalu sesuai dengan preferensi alias kualifikasinya.
Riset tersebut menjelaskan ekspektasi bayaran nan lebih rendah umumnya dimiliki oleh pencari kerja dengan karakter seperti wanita nan tidak bersekolah, tinggal di desa dan sudah menikah.
Sedangkan ekspektasi bayaran nan lebih tinggi umumnya dimiliki oleh pencari kerja laki-laki, berilmu tinggi, tinggal di kota, dan belum menikah.
6. Jenis Kelamin
Jenis kelamin pun mempengaruhi lama mendapatkan pekerjaan, di mana laki-laki memerlukan waktu nan lebih lama untuk memperoleh pekerjaan pertama setelah menyelesaikan pendidikan dibandingkan perempuan, di mana laki-laki berdurasi 20,95 bulan, sedangkan wanita mencapai 18,51 bulan.
"Laki-laki condong mempunyai ekspektasi bayaran nan lebih tinggi sehingga lebih selektif dalam memilih pekeriaan. Di sisi lain, tuntutan untuk memperoleh pekerjaan nan dianggap layak secara ekonomi dan status sosial juga dapat membikin mereka memerlukan waktu lebih lama sebelum menerima pekerjaan," kata riset lagi.
(chd/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·