Murid PAUD dan TK membaca kitab di perpustakaan keliling saat aktivitas belajar dan bermain di Hutan Kota Tibang, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/7/2026).(Antara/Akramul Muslim)
SEGERA jawab tantangan nan dihadapi dalam upaya penerapan deep learning pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk melahirkan generasi penerus nan berkekuatan saing di masa depan.
"Penguatan kapabilitas pembimbing sebagai ujung tombak transformasi pada penerapan deep learning (pembelajaran mendalam) pada PAUD kudu segera dilakukan, sehingga sistem pembelajaran itu dapat diimplementasikan," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7)
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Rabu (22/7), menegaskan bahwa deep learning merupakan paradigma pembelajaran nan perlu diadopsi dalam sistem pendidikan nasional sejak PAUD.
Deep learning adalah pendekatan pembelajaran nan menekankan pemahaman mendalam, bukan hafalan. Sehingga anak mempunyai keahlian menganalisa, menerapkan, dan berinovasi.
Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi penerapan pendekatan tersebut, nan didukung pemetaan minat dan tahap perkembangan anak serta lingkungan belajar nan kondusif dan membikin setiap anak merasa diterima dalam proses belajar.
Menurut Lestari, pemahaman atas proses deep learning tetap perlu dipertajam lagi, agar sistem pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan dalam proses pendidikan.
Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Semester Genap 2025/2026 mencatat ada 6.230.051 peserta didik dan 509.359 pendidik PAUD di Indonesia.
Berdasarkan studi mengenai Persepsi Guru tentang pembelajaran mendalam, sebanyak 37% pembimbing menghadapi tantangan nan berasal dari keterbatasan pemahaman, sarana, minimnya pelatihan, dan beratnya tugas administratif.
Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD untuk anak usia 3-6 tahun baru mencapai sekitar 46% pada 2026.
Sementara itu, porsi anggaran PAUD tetap di bawah 2% dari anggaran pendidikan nasional, jauh dari rekomendasi dunia sebesar 10%.
Berdasarkan kondisi itu, Rerie, sapaan berkawan Lestari, menegaskan bahwa ekspansi akses dan peningkatan kualitas kudu melangkah beriringan.
"Peran pembimbing nan didukung oleh orang tua, sangat signifikan untuk melakukan perubahan dalam mewujudkan proses belajar mengajar nan lebih baik," ujar Rerie nan juga personil Komisi X DPR RI itu.
Dukungan itu, tegas Rerie, juga kudu diikuti dengan penyediaan sarana nan memadai dan pengurangan beban manajemen nan berlebihan, sehingga memungkinkan pembimbing konsentrasi pada pembelajaran nan berkualitas.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu beranggapan bahwa prinsip dari deep learning adalah pendidikan nan holistik, sehingga pembimbing kudu bisa menjawab keingintahuan siswa dan menumbuhkan kemandirian belajar.
Rerie meyakini bahwa deep learning sangat dibutuhkan dalam upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional nan handal dan berkekuatan saing di masa datang
Menurut Rerie, upaya mendidik adalah investasi bagi masa depan bangsa, nan lahir dari kepercayaan bahwa setiap anak mempunyai kemungkinan untuk menjadi lebih baik.
"Optimisme itu kudu diwujudkan melalui kerjasama erat antara pemerintah, guru, orangtua, dan seluruh pemangku kepentingan, agar pendidikan nan berarti dapat dinikmati oleh seluruh anak Indonesia," pungkas Rerie. (*/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·