PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat telah menyalurkan 6 juta unit Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga awal April 2026 alias senilai Rp 530 triliun. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan refleksi dari perjalanan panjang BTN dalam membangun fondasi pembiayaan perumahan nasional.
“Selama nyaris lima dekade, BTN tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi membangun ekosistem perumahan nan berkelanjutan. Jumlah 6 juta rumah nan telah kami biayai mencerminkan peran BTN dalam mendukung stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi melalui sektor perumahan," ujar Nixon dalam keterangannya, Jumat (10/4).
Dia menjelaskan, perseroan memperkuat transformasi menuju beyond mortgage, di mana BTN tidak hanya melayani pembiayaan rumah, tetapi juga kebutuhan finansial family secara menyeluruh, mulai dari transaksi, usaha, hingga kebutuhan jangka panjang masyarakat.
"Kami juga menghadirkan penemuan pembiayaan melalui bundling KPR dengan kebutuhan isi rumah, sehingga pengguna dapat memperoleh solusi pembiayaan nan lebih terjangkau dan terintegrasi,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar menambahkan bahwa capaian tersebut didorong oleh konsistensi BTN dalam menjaga keahlian penyaluran serta memperluas akses pembiayaan di beragam wilayah.
“Permintaan terhadap kediaman layak dan terjangkau terus meningkat, sementara tantangan di sektor perumahan saat ini lebih banyak berasal dari sisi supply, seperti kesiapan lahan dan perizinan. BTN berupaya menjawab perihal tersebut melalui pendekatan nan lebih proaktif dan terintegrasi, agar penyaluran KPR dapat melangkah efektif dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” jelas Hirwandi.
Dari sisi profil debitur, kebanyakan pengajuan KPR subsidi berasal dari segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp 4,9 juta per bulan, nan didominasi oleh pekerja di sektor informal seperti pedagang kecil, pekerja lepas, dan pelaku upaya mikro, serta sektor umum seperti aparatur sipil negara, tenaga kerja swasta, dan pegawai kontrak. Selain melalui penyaluran KPR, BTN juga berkontribusi dalam memperkuat ekosistem perumahan melalui Kredit Program Perumahan (KPP).
Hingga Maret 2026, BTN mencatatkan realisasi penyaluran KPP dengan total plafon sekitar Rp2,17 triliun kepada lebih dari 3.291 debitur. Secara rinci, penyaluran KPP dari sisi supply mencapai sekitar Rp 1,47 triliun kepada 399 debitur nan difokuskan pada pembiayaan pengembang, kontraktor, serta penyedia bahan bangunan.
Sementara dari sisi demand, BTN menyalurkan sekitar Rp 700 miliar kepada 2.892 debitur nan dimanfaatkan untuk pembelian, pembangunan, hingga pembaharuan rumah. Skema ini memperkuat keterhubungan antara sisi pasokan dan permintaan dalam ekosistem perumahan.
Di luar sektor perumahan, BTN juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai bagian dari support terhadap penguatan ekonomi masyarakat. Hingga Maret 2026, penyaluran KUR BTN mencapai sekitar Rp 2,72 triliun, dengan komposisi KUR mini sebesar Rp 2,04 triliun (75 persen) dan KUR mikro sebesar Rp 687 miliar (25 persen).
Penyaluran KUR tersebut didominasi oleh sektor perdagangan besar dan satuan sebesar 59,22 persen, diikuti sektor akomodasi dan makanan minuman sebesar 12,36 persen, serta bangunan sebesar 10,08 persen.
BTN juga mencatat peningkatan kapabilitas upaya debitur melalui program KUR naik kelas sebanyak 4.719 debitur, termasuk peralihan dari KUR mikro ke KUR mini serta peningkatan plafon pembiayaan.
Ke depan, BTN menargetkan penyaluran KPR sebanyak 240.950 unit pada tahun 2026, sejalan dengan komitmen untuk terus mendukung program perumahan nasional. Melalui penguatan ekosistem digital, penemuan berbasis keberlanjutan, serta kerjasama dengan beragam pemangku kepentingan, BTN bakal terus menghadirkan solusi pembiayaan perumahan nan lebih inklusif, terintegrasi, dan berkepanjangan bagi masyarakat Indonesia.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·