"Bom Waktu" Iran Terus Berdetak, Nasionalisme Jadi Jawaban?

Sedang Trending 7 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran menggencarkan propaganda nasionalisme di tengah tekanan ekonomi, bentrok berkepanjangan, dan meningkatnya ketidakpuasan publik di dalam negeri. Di beragam perspektif ibu kota Teheran, poster-poster besar dipasang untuk menampilkan narasi persatuan nasional dan kemenangan melawan kekuatan Barat.

Kampanye propaganda itu muncul hanya beberapa bulan setelah pemerintah Iran dituduh melakukan penumpasan sadis terhadap demonstrasi antipemerintah. Kini, di tengah perang dan tekanan internasional, pemerintah mencoba membangun gambaran solidaritas nasional lewat simbol-simbol patriotik baru.

Pemerintah apalagi menggelar pernikahan massal bertema militer, training senjata di masjid, hingga parade simbolik Garda Revolusi untuk memperkuat semangat "perlawanan nasional".

Berbeda dengan propaganda revolusioner Iran pada masa lampau nan sarat simbol keagamaan Syiah, kampanye terbaru justru lebih menonjolkan nasionalisme Persia dan identitas kebangsaan.

"Ideologi lama Republik Islam sudah tidak lagi mempunyai daya tarik besar di masyarakat. Karena itu, mereka mencoba memanfaatkan komponen identitas Iran lainnya untuk memobilisasi massa," ujar Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, seperti dikutip Reuters, Jumat (22/5/2026).

Meski begitu, efektivitas propaganda tersebut dinilai tetap dipertanyakan di tengah masyarakat nan kian frustrasi terhadap kondisi ekonomi dan politik.

Iran sebelumnya sukses menahan serangan udara dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, serta menekan Presiden AS Donald Trump kembali ke meja perundingan lewat ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengedaran minyak dunia.

Namun di kembali narasi kemenangan itu, ekonomi Iran disebut berada di periode kehancuran. Pemerintah juga memperketat penindakan terhadap potensi gelombang protes baru.

Profesor sejarah modern Universitas St Andrews, Ali Ansari, menilai propaganda terbaru Iran bermaksud menciptakan kesan bahwa situasi domestik tetap stabil.

"Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa semuanya normal di Iran, kita semua bersatu, dan pemerintah tidak sedang membantai rakyatnya sendiri," kata Ansari. Menurut dia, strategi tersebut mungkin tetap bisa memengaruhi golongan masyarakat moderat, tetapi kebanyakan penduduk Iran tetap skeptis.

Salah satu konsentrasi utama propaganda Iran adalah keberhasilan mereka mengendalikan Selat Hormuz. Poster-poster nan beredar menggambarkan Garda Revolusi menangkap kapal dan jet tempur AS, hingga visual nan menyindir Trump menggunakan corak geografis selat tersebut.

Selain simbol anti-Barat, pemerintah Iran sekarang juga mulai mengangkat tokoh-tokoh nasionalis Persia nan sebelumnya jarang ditampilkan dalam propaganda resmi Republik Islam.

Salah satunya adalah Rais Ali Delvari, pejuang gerilya anti-Inggris dari wilayah Teluk Persia, nan sekarang muncul berdampingan dengan komandan Garda Revolusi dalam poster-poster besar di Teheran.

Para pengamat juga memandang adanya perubahan besar dalam struktur kekuasaan Iran selama perang berlangsung. Pengaruh ustadz disebut mulai tergeser oleh kekuatan Garda Revolusi.

Propaganda patriotik juga diperkuat lewat tayangan tim nasional sepak bola Iran memberi hormat kepada bendera negara, serta kemunculan Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei dalam beragam simbol nasionalisme.

Meski demikian, respons publik tetap terbelah. Banyak penduduk menilai pemerintah hanya sibuk membangun gambaran dibanding memperbaiki ekonomi.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News