Bocah 3 Tahun Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan, Keluarga Lapor Polisi

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Sleman - Bocah Bantul Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan, Keluarga Lapor Polisi

Seorang anak berinisial NDMP (3) penduduk Piyungan, Bantul, meninggal bumi saat menjalani perawatan RSUD Prambanan, Sleman, DIY. Ibu korban, Anastacia Niken Purwandari (36) menduga anaknya jadi korban malpraktik.

Niken menceritakan dia berbareng anaknya datang ke RSUD Prambanan untuk melanjutkan pemeriksaan tumbuh kembang anak. Setelah hasil pemeriksaan di bulan April lingkar kepala anaknya berada di garis merah. Dalam pemeriksaan tanggal 27 April itu, master menyarankan untuk dilakukan CT scan.

"Tapi rupanya di bulan April itu emang dia emang tetap garis merah di situ. Terus dia diperiksa di situ, terus master meminta untuk CT scan, ya udah saya mengizinkan," kata Niken saat ditemui wartawan di Mapolda DIY, Depok, Sleman, dilansir detikJogja, Selasa (2/6/2026).

Sebelum dilakukan CT scan, Niken sempat menyaksikan anaknya mendapatkan tiga kali suntikan melalui selang infus. Ia mengaku baru keluar dari ruangan setelah anaknya tertidur dan tidak mengetahui lagi tindakan di dalam ruangan.

"Dia diperiksa suntikan lewat perangkat infus infus itu. Di situ tiga kali. Di situ saya mendampingi anak saya. Setelah anak saya tidur, saya baru keluar. Setelah saya keluar itu saya nggak tahu di dalam master melakukan apa," ujarnya.

Niken menuturkan, saat suntikan kedua, anaknya sudah menunjukkan tanda-tanda kurang nyaman dan meminta pulang. Ia pun menggendong sang anak dan berupaya menenangkannya.

"Mungkin merasa nggak enak, dia minta udah mulai nangis, dia udah mulai minta pulang, pengin ketemu kakaknya, itu udah-udah itu. Terus tak gendong itu dia tetap tetap nangis, sampai di suntikan ketiga pun dia tetap tetap nangis. Sampai dia tertidur masih, tertidur pun di pelukan saya," ujarnya.

Selang beberapa waktu, master keluar ruangan, dan menyampaikan anaknya muntah dan tidak sadarkan diri.

"Setelah keluar, master udah mengatakan anak saya seperti itu kondisinya, nan dia udah muntah, dia udah henti napas. Dia nan udah dipasang perangkat bantu pernapasan, dia nan udah nggak sadar," katanya.

Masih Ceria Sebelum Tindakan CT Scan

Niken menyebut anaknya tetap terlihat ceria sebelum dilakukan tindakan oleh rumah sakit.

"Dia ceria, dia tuh di situ nan tetap apa mainan, kan di ada di depan klinik poli itu ada ruang bermain anak. Dia tetap di situ, tetap mainan, tetap lihat-lihat buku," katanya.

Termasuk saat sudah berada di ruang radiologi, dia dan anaknya tetap sempat bersenda gurau.

"Di ruang radiologi pun dia juga tetap makan makan-makanan, dikasih makanan orang itu juga dia tetap dimakan, tetap lihat HP, lihat TV, itu dia tetap masih aktivitas seperti biasa," ujarnya.

Sementara itu di letak nan sama, salah satu pendamping norma korban, Anwar Ary Widodo, menduga dalam peristiwa ini ada dugaan pelanggaran SOP alias kelalaian nan dilakukan.

Karena itu, pihaknya melaporkan kasus itu kepada polisi. Laporan itu dilayangkan pada tanggal 17 Mei 2026 dengan nomor laporan LP/B/319/V/2026/SPKT/Polda DIY. Dalam laporannya, Niken, melaporkan Direktur RSUD Prambanan dan salah seorang dokter.

Respons Rumah Sakit

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prambanan drg. Ratih Susila, M.P.H., saat dimintai konfirmasi menyebut pihaknya merencanakan untuk memberikan keterangan medis untuk keluarga.

"Jadi, saat ini RSUD Prambanan itu sedang merencanakan untuk agenda kami memberikan keterangan medis kepada pihak family dan kuasa hukumnya. Dan ini kami sedang menunggu agenda dari kuasa norma pihak keluarga," ujar Ratih.

Ratih menjelaskan, sesuai prosedur, saat ini rumah sakit sedang melakukan audit medis mengenai kasus ini. Namun, untuk hasilnya, Ratih tetap belum bisa menyampaikan. Ia menjanjikan bakal memberikan keterangan resmi mengenai kronologi kejadian dan penyebab meninggalnya korban.

Baca selengkapnya di sini (idh/idh)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News