Tenaga kesehatan memasang selang oksigen kepada salah satu pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (27/1/2026). Data Dinas Kesehatan Aceh Barat menyebut sepekan terakhir kasus Infeksi Saluran Pernafa(ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap ancaman kesehatan serius selama musim kemarau tahun ini yakni heatstroke (sengatan panas) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara nan terik di beragam wilayah dipicu oleh minimnya tutupan awan. Kondisi ini membikin paparan sinar mentari langsung ke permukaan bumi menjadi lebih intens.
"Tidak kalah krusial juga sektor kesehatan. Sejalan dengan musim kemarau, itu biasanya cuaca panas lantaran kondisi pada saat musim tandus biasanya tutupan awan itu rendah," ujar Ardhasena dalam konvensi pers di Jakarta, Kamis (30/7).
Ardhasena memaparkan bahwa suhu ekstrem akibat lapisan awan nan tipis sangat berpotensi memicu heatstroke. Kondisi ini sangat rawan bagi penduduk nan mempunyai intensitas aktivitas tinggi di luar ruangan dalam lama lama.
Selain suhu tinggi, musim tandus juga membawa akibat jelek pada kualitas udara. Peningkatan debu dan potensi asap dari kebakaran rimba alias lahan (karhutla) memperburuk kondisi atmosfer nan dihirup masyarakat.
"Kondisi penurunan kualitas udara ini sangat berasosiasi dengan timbulnya penyakit ISPA di tengah masyarakat," tambahnya.
Data Suhu Harian dan Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan harian kondisi cuaca BMKG dalam 24 jam terakhir, suhu panas maksimum harian telah mencapai rentang 30 hingga 34 derajat Celsius di sejumlah titik. Beberapa wilayah nan mencatatkan suhu tinggi tersebut antara lain:
- Sebagian besar wilayah Lampung
- Kualanamu (Sumatera Utara)
- Semarang (Jawa Tengah)
- Banyuwangi (Jawa Timur)
- Sentani (Papua)
- Gorontalo
Guna menekan nomor kesakitan akibat cuaca ekstrem, BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi sigap dari sektor kesehatan dan kesadaran berdikari masyarakat. Berikut adalah pedoman mitigasi nan disarankan:
Panduan Menghadapi Cuaca Ekstrem:
- Hidrasi: Mengonsumsi air minum secara cukup dan teratur untuk menghindari dehidrasi.
- Pelindung Diri: Menggunakan topi alias payung untuk melindungi kepala, serta kacamata hitam untuk melindungi mata.
- Perlindungan Kulit: Menggunakan tabir surya (sunscreen) untuk meminimalisir akibat paparan sinar Ultra Violet (UV).
- Masker: Menggunakan masker saat berada di area terbuka untuk mengurangi paparan polusi udara dan debu.
Ardhasena menegaskan bahwa BMKG bakal terus memperbarui kajian pemantauan dinamika atmosfer dan laut sepanjang tahun 2026. Data ini diharapkan dapat mendukung pemerintah wilayah dalam memetakan wilayah nan rawan terhadap masalah kesehatan lingkungan akibat dampak perubahan suasana musiman. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·