Dry Ice untuk Urai Kabut Asap Karhutla di Sumatra dan Kalimantan(Dok.BMKG)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengevaluasi efektivitas penyemaian dry ice alias es kering untuk mengurai kabut asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Pemantauan selama beberapa hari penyelenggaraan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menunjukkan indikasi perbaikan jarak pandang di sejumlah wilayah terdampak, salah satunya Palembang.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan, evaluasi penggunaan dry ice dilakukan dengan mengukur sejumlah parameter, terutama perubahan jarak pandang (visibility) dan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara. Kedua parameter tersebut digunakan untuk memandang perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara setelah intervensi dilakukan.
“Astungkara, dalam beberapa hari pelaksanaan, intervensi dry ice menunjukkan indikasi akibat nan cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti nan sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu,” kata Seto dalam keterangan resmi, Rabu (21/10).
Menurut dia, perbaikan jarak pandang krusial untuk mendukung operasional armada udara satuan tugas penanganan karhutla, termasuk helikopter water bombing dan pesawat patroli. Kondisi tersebut juga dapat membantu aktivitas penerbangan sipil kembali melangkah lebih normal dengan tetap memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan.
Meski menunjukkan indikasi perbaikan, BMKG tetap memerlukan pemantauan dan kajian info secara berkepanjangan untuk menilai perkembangan akibat intervensi. Efektivitas penggunaan dry ice juga berjuntai pada kondisi atmosfer serta perkembangan kebakaran di lapangan.
Penyemaian dry ice dilakukan untuk mengatasi lapisan inversi atmosfer nan dapat memerangkap asap di dekat permukaan. Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terjebak hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki, apalagi lebih tinggi, sehingga susah terurai secara vertikal.
Seto menjelaskan, lapisan inversi bekerja seperti penutup nan menghalang pergerakan udara vertikal. Melalui penyemaian dry ice dari pesawat di atas lapisan tersebut, BMKG berupaya mengubah kondisi atmosfer agar aliran konveksi kembali terbuka dan asap dapat naik.
“Lapisan inversi bertindak seperti tutup nan menghalang pergerakan udara vertikal. Melalui penyemaian dry ice dari pesawat di atas lapisan tersebut, kita berupaya menghilangkan tutup inversi ini,” ujarnya.
Seto menambahkan, penggunaan dry ice memiliki sasaran berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. Teknik tersebut ditujukan untuk mengintervensi lapisan inversi nan menahan asap, terutama ketika kondisi langit condong kering dan jumlah awan potensial untuk disemai terbatas.
BMKG bekerja sama dengan TNI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi lintas lembaga tersebut mendukung penyelenggaraan intervensi atmosfer sekaligus penanganan karhutla di lapangan.
BMKG menegaskan, OMC bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi karhutla. Pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dan organisasi nonpemerintah tetap diperlukan untuk menghentikan kebakaran dan menekan akibat kabut asap. (H-4)
“Semua pihak mempunyai tujuan nan sama, ialah mengakhiri karhutla secepat mungkin. Karena itu, setiap upaya kudu melangkah selaras, saling mendukung, dan berkesinambungan,” tegas Seto. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·