Biaya Tersembunyi di Perhelatan Piala Dunia Termahal Sepanjang Sejarah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Merchandise Piala Dunia dipajang di Bandara Kansas City menjelang Piala Dunia 2026 di Kansas City, Kansas, Amerika Serikat (5/5/2026). Foto: Jamie Squire/Getty Images/AFP

Turnamen paling terkenal Piala Dunia FIFA 2026 bakal resmi bergulir pada 11 Juni 2026 di tiga negara tuan rumah: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, terdapat sejumlah catatan kontroversi seputar turnamen termahal dalam sejarah ini justru menjadi sorotan utama.

Dengan nilai tiket nan meroket hingga menyentuh nomor enam digit, biaya transportasi dan parkir nan bikin geleng-geleng kepala.

Belum lagi ditambah kekhawatiran terhadap kebijakan anti-imigrasi dari pemerintahan Donald Trump, membikin sejumlah suporter ekstrem memutuskan untuk batal menonton langsung di stadion.

Sementara itu, kota-kota tuan rumah sekarang tengah memutar otak untuk menghindari kerugian finansial. Mereka mencoba menutup pembengkakan biaya operasional pertandingan dengan membebankannya kepada konsumen dan wajib pajak lokal.

Di area New York, tempat laga final Piala Dunia bakal digelar, New Jersey Transit mematok nilai tiket menuju Stadion MetLife sebesar USD 98.

Padahal perjalanan tersebut biasanya hanya menyantap biaya sekitar USD 13. Ini hanyalah salah satu contoh tarif premium nan melekat pada arena nan diproyeksikan bakal menghasilkan pendapatan dahsyat hingga USD 13 miliar bagi FIFA.

Dokumenter mingguan Bloomberg Originals kali ini mengulas karakter Piala Dunia tahun ini dan kenapa arena ini berisiko mencetak 'gol bunuh diri'.

Sistem Dynamic Pricing Pertama Kali

Seorang anak berpose untuk foto di depan mural bertema sepak bola seluas lebih dari 200 meter persegi, nan bermaksud untuk memecahkan Rekor Dunia Guinness sebelum Piala Dunia 2026, di Mexico City, Meksiko, 24 Mei 2026. Foto: REUTERS/Luis Cortes

Tahun ini menjadi momen pertama kalinya FIFA memperkenalkan sistem penentuan nilai tiket bergerak (dynamic ticket pricing).

Mengutip The Guardian, tiket bergerak merupakan praktik nan membikin nilai tiket berfluktuasi tergantung pada permintaan.

Namun pada kenyataannya, dynamic pricing (penentuan nilai dinamis) biasanya berakibat pada kenaikan nilai tiket masuk secara keseluruhan, dan tren tersebut sangat terlihat pada Piala Dunia musim panas ini.

Harga rata-rata tiket pertandingan Piala Dunia telah berkisar di atas USD 1.000 sejak tiket mulai dijual, meskipun tampaknya ada pemisah nilai bawah sekitar USD 60 per tiket.

Fifa menyatakan bahwa permintaan tiket untuk turnamen kali ini mencapai rekor nan belum pernah terjadi sebelumnya, dengan lebih dari separuh miliar pengajuan tiket pada fase pertama penjualan.

Mengingat karakter dari sistem nilai dinamis, lonjakan permintaan secara otomatis mengerek nilai jual ke tingkat tertinggi nan pernah ada dalam sejarah sepak bola.

Kota Tuan Rumah Terancam Tekor

Bagi kota-kota tuan rumah, pendanaan untuk sektor keamanan dan transportasi telah menjadi kekhawatiran besar sejak awal.

Pemerintah AS memang telah menyetujui kucuran biaya hibah sebesar 625 juta dolar AS untuk 11 kota tuan rumah di AS.

Namun, biaya tersebut baru didistribusikan pada bulan Maret lampau dan dinilai tetap belum cukup untuk menutup seluruh pengeluaran di lapangan.

Kondisi ini terasa kian berat bagi pemerintah wilayah lantaran kota-kota penyelenggara sama sekali tidak mendapatkan bagian dari pendapatan tiket maupun kewenangan siar pertandingan seluruh untung tersebut mengalir langsung ke kantong FIFA.

Di sisi lain, FIFA berkilah bahwa biaya miliaran dolar tersebut dialokasikan kembali untuk mengembangkan sepak bola di seluruh penjuru dunia.

Alhasil, kota-kota tuan rumah praktis hanya bisa berjuntai pada akibat ekonomi dari shopping visitor internasional untuk menutup modal besar nan telah mereka keluarkan.

Sayangnya, skenario kembali modal ini jarang sekali sukses terwujud.

"Itu jumlah duit nan lumayan, tetapi tetap jauh dari cukup untuk menangani potensi masalah keamanan," ujar Andrew Zimbalist, penulis sekaligus guru besar ekonomi di Smith College, saat mengomentari biaya hibah dari pemerintah.

"Jika Anda menghadapi beban biaya nan besar di satu sisi, sementara di sisi lain pendapatan langsung Anda bisa dibilang nol, maka Anda bakal mengalami kerugian bersih nan besar. Memang, sebagian dari biaya itu bakal ditutup oleh kesepakatan sponsor lokal dan bantuan pihak swasta, tetapi sisa subsidinya tetap kudu ditanggung oleh para wajib pajak," jelasnya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan