Konser Perpisahan Arashi Gerakkan Ekonomi di 5 Kota di Jepang, Capai Rp 13,7 T

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Arashi saat tur JET STORM di Bangkok. Foto: Dok. Vector Group

Tur konser perpisahan grup idol legendaris asal Jepang, Arashi, menghasilkan akibat ekonomi sekitar 137,5 miliar yen (sekitar Rp 13,7 T) dari 15 pagelaran di 5 kota di Jepang. Angka ini diungkap oleh Keizai Koka.NET, website nan unik menganalisis akibat ekonomi.

Berdasarkan analisa Keizai Koka.NET, langkanya pagelaran sebelum Arashi mengakhiri aktivitasnya meningkatkan permintaan di seluruh negeri. Arashi mengakhiri aktivitasnya nan telah melangkah selama 26,5 tahun pada akhir Mei lampau dengan menggelar konser di 5 kota di Jepang. Para fans beramai-ramai datang untuk memandang Arashi tampil untuk nan terakhir kalinya.

Dikutip dari The Mainichi, Keizai Koka.NET memperkirakan akibat ekonomi dari seluruh pagelaran tur dengan menghitung pengurangan langsung seperti pembelian tikeet dan merchandise, serta pengaruh sekunder termasuk operasi tempat pagelaran dan aktivitas upaya mengenai di kota-kota penyelenggara. Sementara untuk info nan tidak tersedia secara publik, Keizai Koka.NET menghasilkan perkiraan berasas analisisnya terhadap aktivitas musik masa lampau dan aktivitas serupa.

Tur konser perpisahan Arashi berjalan sejak Maret hingga Mei, dengan 15 pagelaran nan digelar di Hokkaido, Tokyo, Aichi, Fukuoka, dan Osaka. Jumlah penonton nan datang sekitar 800 ribu orang.

Penggemar menyambut kehadiran Arashi di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Minggu (10/11/2019). Foto: Nugroho Sejat/kumparani

Harga tiket 12.000 yen (sekitar Rp 1,3 juta) termasuk pajak dengan biaya jasa tambahan, sehingga pendapatan tiket diperkirakan mencapai 10,9 miliar yen (sekitar Rp 1,21 T). Konser terakhir disiarkan secara langsung (live streaming) dengan tiket menonton mulai dari 3.900 yen (sekitar Rp 435 ribu). Dengan memperkirakan jumlah personil fanclub sebanyak 2 juta dan dengan dugaan semua menonton live streaming, Keizai Koka.NET memperkirakan pendapatan live streaming sebesar 7,6 miliar yen (sekitar Rp 846,85 miliar).

Penjualan merchandise resmi nan dijual di tempat konser juga menyumbang sebagian besar pengeluaran. Permintaan untuk barang-barang eksklusif tur dan barang-barang kenangan sangat kuat. Keizai Koka.NET memperkirakan pengeluaran perseorangan berkisar beberapa ribu yen hingga puluhan ribu yen.

Banyak fans nan juga melakukan perjalanan jauh untuk menghadiri konser. Pengeluaran mengenai mencakup perkiraan 5,8 miliar yen (sekitar Rp 646,28 miliar) untuk transportasi, 6,7 miliar yen (sekitar Rp 747,83 miliar) untuk akomodasi, dan 4 miliar yen (sekitar Rp 445,61 miliar) untuk makanan dan minuman. Konser Arashi juga mendorong "wisata langsung" alias "live tourism", ialah saat fans melakukan perjalanan ke kota-kota penyelenggara dan menginap di sana sebelum alias sesudah konser sembari menikmati wisata dan aktivitas lokal lainnya.

Arashi fan meeting di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Minggu (10/11/2019). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Efek domino di kota-kota penyelenggara mencapai 75 miliar yen (sekitar Rp 8,35 T) alias lebih dari separuh dari total perkiraan akibat ekonomi. Peningkatan permintaan juga meluas ke upaya nan mengenai dengan operasional tempat acara, keamanan, dan transportasi. Perkiraan tersebut juga memperhitungkan pengeluaran konsumen nan dihasilkan dari pendapatan nan diperoleh dari aktivitas tersebut.

Kepala peneliti di Keizai Koka.NET sekaligus pengajar ekonomi dan pembangunan kota di Tokyo City University, Mitsumasa Eto, mengatakan rata-rata pengeluaran penonton konser -- tidak termasuk livestreaming -- mencapai 61.371 yen (sekitar Rp 6,8 juta). Ia mengatakan skala pengeluaran luar biasa.

"Bahkan dibandingkan dengan konser musik skala besar di masa lalu, tidak ada konser berdurasi 3,5 jam nan menghasilkan tingkat pengeluaran konsumen seperti ini," kata Eto.

"Tur ini memberikan dorongan besar bagi aktivitas ekonomi di dan sekitar kota-kota penyelenggara," lanjutnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan