Pasukan militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Iran pada Jumat (26/6) kemarin. Serangan ini dimaksudkan sebagai jawaban atas tindakan Iran nan menyerang kapal Singapura saat melintas di Selat Hormuz di hari sebelumnya.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), melaporkan serangan ini ditargetkan ke letak penyimpanan rudal dan drone, serta posisi radar pesisir, milik Iran. Kemudian pasukan Negeri Paman Sam menayangkan video hitam-putih buram mengenai ledakan nan diakibatkan oleh serangan tersebut dan diberi label 'tidak rahasia'.
"Agresi nan tidak berdasar terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata," kata Komando Pusat AS dalam pernyataannya saat mengumumkan serangan tersebut, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Iran mengakui sebuah proyektil menghantam area sekitar dermaga di Sirik, area Iran selatan, meski Teheran tidak memberikan rincian mengenai kerusakan nan mungkin telah terkena. Mereka hanya menegaskan bahwa pasukan angkatan laut Iran bakal merespons dengan menyerang sasaran militer AS di wilayah tersebut.
Pada akhirnya kondisi ini membikin AS dan Iran saling menuduh melanggar ketentuan gencatan senjata nan disepakati pekan lalu. Mengancam kesepakatan tenteram awal, nan mengatur mengenai gencatan senjata di area Timur Tengah berbarengan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
AS-Iran Bakal Saling Serang
Iran mengatakan bakal mengendalikan Selat Hormuz dan memperingatkan negara-negara Teluk untuk tidak berpihak pada AS atas serangan di sekitar Selat Hormuz. Sebab menurut Garda Revolusi Iran, perjanjian gencatan senjata memberi negara itu kendali atas lampau lintas kapal di selat tersebut.
Garda Revolusi Iran mengatakan sebagai tanggapan atas serangan AS, angkatan lautnya bakal menyerang tempat-tempat nan menjadi markas militer AS di area Teluk. Mereka juga memperingatkan jika AS tetap memberikan serangan balasan, maka Teheran bakal memberikan respons nan lebih luas.
"Namun, Amerika Serikat, dengan memprovokasi beragam front, berupaya melanggar komitmen ini, dan tanggapan nan diperlukan telah diberikan dan bakal terus diberikan. Jika agresi ini terulang, tanggapan kami bakal lebih luas dari ini," kata Garda Revolusi.
AS tidak segera menanggapi laporan Iran tentang serangan terhadap target-target Amerika, sebuah strategi nan bermaksud untuk melemahkan sekutu AS di area tersebut selama bentrok berlangsung.
Hanya saja sebelumnya Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan bahwa mereka telah menghormati kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Namun dia menegaskan jika tindakan kekerasan bakal dibalas dengan kekerasan, mengindikasikan perlawanan AS.
"Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka mempunyai perbedaan pendapat tentang gimana nota kesepahaman itu diterapkan, mereka dapat menghubungi kami. Tetapi kekerasan bakal dibalas dengan kekerasan," kata Vance di X.
Di luar itu, militer AS juga mengatakan bakal terus berkoordinasi dengan beragam pihak sebagai upaya support untuk membikin Selat Hormuz kembali menjadi jalur kondusif bagi kapal-kapal komersial nan melintasi rute perairan tersebut.
(igo/ara)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·