BI Wanti-wanti Stagflasi Global, Ekonomi RI Disebut Masih Tahan Tekanan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam penutupan KKI, Minggu (10/8). Foto: Bank Indonesia

Ancaman tekanan ekonomi dunia kian meningkat seiring memanasnya bentrok di Timur Tengah. Eskalasi perang nan melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu akibat luas ke pasar keuangan, nilai komoditas, hingga rantai pasok global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan akibat bentrok tersebut tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui pengaruh tidak langsung nan justru lebih besar terhadap sistem finansial global.

“Ketidakpastian pasar finansial dunia dan juga sentimen risk itu bakal naik. Jadi bukan hanya middle east saja nan kena alias Iran, tapi justru nan di luar itu mereka ketidakpastiannya dan akibat finansialnya memang meningkat,” ujar Destry dalam aktivitas Central Banking Forum 2026 di Hotel Mandarin, Senin (13/4).

Peningkatan ketidakpastian ini mendorong pelaku pasar dunia condong menghindari risiko (risk-off) dan beranjak ke aset nan lebih aman. Aliran biaya pun bergerak keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, meskipun dalam beberapa waktu terakhir mulai terlihat tanda-tanda masuknya kembali biaya asing.

“Di Indonesia kita merasakan, walaupun alhamdulillah sekarang sudah mulai kita lihat inflow ada masuk di SBN, kemudian di saham mulai sedikit, kemudian ada di SRBI. Tapi overall kita tetap terjadi outflow sekitar Rp 21 triliun,” kata dia.

Tekanan juga datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global. Kondisi ini membikin aset di negara maju menjadi lebih menarik, sehingga mempersempit ruang masuknya modal ke negara berkembang.

Selain jalur finansial, bentrok juga berakibat pada nilai komoditas global. Gangguan pengedaran minyak di area Timur Tengah, terutama melalui Selat Hormuz nan menjadi jalur krusial perdagangan daya dunia, mendorong kenaikan nilai minyak.

Kenaikan ini kemudian merambat ke beragam komoditas lain. Harga emas melonjak sebagai aset safe haven, sementara komoditas daya dan bahan baku lain seperti batu bara, LNG, dan CPO turut mengalami peningkatan.

Meski demikian, Destry menilai kondisi ini tidak sepenuhnya negatif bagi Indonesia. Sebagai negara pengekspor komoditas, kenaikan nilai tersebut justru bisa memberikan tambahan dorongan bagi keahlian ekspor nasional.

Namun secara keseluruhan, tekanan dunia tetap berpotensi membawa ekonomi bumi ke situasi nan tidak ideal. "PDB dunia bakal lebih lambat dibanding tahun 2025. Tapi inflasinya bakal lebih tinggi,” ujarnya.

Kondisi tersebut mencerminkan akibat stagflasi, ialah ketika pertumbuhan ekonomi melambat di tengah kenaikan inflasi, situasi nan menyulitkan banyak negara dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

“Jadi ini kondisi jika ekonom, jika ini kelak Pak David (Ekonom BCA) nan bakal paparan, ini kondisi nan nggak terlalu bagus buat ekonomi dunia ya, namanya stagflasi. Ekonominya stagnan, inflasinya naik," ungkapnya.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Di tengah tekanan dunia tersebut, Indonesia dinilai tetap mempunyai ketahanan nan cukup baik. Pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I 2026 diperkirakan tetap berada di atas 5 persen, ditopang oleh konsumsi masyarakat nan kuat.

Dari sisi inflasi, tekanan juga mulai mereda. Setelah sempat meningkat pada awal tahun akibat aspek musiman dan kebijakan, inflasi pada Maret tercatat turun menjadi 3,48 persen dan kembali ke dalam kisaran sasaran.

Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia terus mengoptimalkan beragam instrumen kebijakan moneter. Intervensi dilakukan secara aktif di pasar keuangan, baik melalui transaksi spot, DNDF, maupun NDF di pasar offshore. “Bank Indonesia sekarang buka 24 jam,” tegasnya.

Selain itu, BI juga memperluas kerja sama transaksi menggunakan mata duit lokal dengan beragam negara mitra. Langkah ini bermaksud mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menekan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Di sisi domestik, penguatan tata kelola transaksi valas juga dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk melalui pengaturan tanggungjawab underlying pada transaksi tertentu.

Destry menegaskan, menjaga stabilitas ekonomi nasional tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan kerja sama seluruh pemangku kepentingan.

“Bahwa stabilitas hari ini adalah hasil kerja bersama. Bukan hanya kerjanya BI, bukan hanya kerjanya kementerian keuangan, bukan hanya kerjanya pemerintah, bukan hanya kerjaannya industri Bapak Ibu sekalian, ini adalah hasil kerja kita berbareng menjaga stabilitas,” kata dia.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan