Dalam bumi sepak bola, kemenangan sering kali ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Ketika pola permainan lama tidak lagi efektif, pembimbing melakukan penyesuaian taktik, mengganti pemain, apalagi mengubah susunan untuk mengejar hasil nan lebih baik.
Logika nan sama bertindak dalam pembangunan ekonomi. Ketika lingkungan dunia berubah dan beragam kelemahan lama mulai terlihat, sebuah negara perlu berani mengevaluasi strategi nan selama ini dijalankan. Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan bahwa pembangunan bisa menjawab tantangan masa depan.
Selama puluhan tahun Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan kepercayaan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi dunia pada akhirnya bakal membawa bangsa ini menuju kemakmuran. Sebagian keberhasilan memang tercapai. Namun semakin sering bumi diguncang krisis, semakin jelas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaan nan sekarang perlu dijawab bukan lagi gimana meningkatkan pertumbuhan setinggi mungkin, melainkan gimana membangun pertumbuhan nan lebih mandiri. Sebab pengalaman menunjukkan bahwa negara nan terlalu berjuntai pada pangan impor, daya impor, teknologi impor, dan modal asing bakal selalu rentan terhadap gejolak nan berasal dari luar pemisah negaranya sendiri.
Kekuatan Ekonomi nan Rapuh
Selama beberapa dekade, strategi pembangunan nasional memang sukses menciptakan pertumbuhan ekonomi nan relatif tinggi. Namun keberhasilan tersebut juga dibangun di atas sejumlah dugaan nan kemudian terbukti menyimpan kerentanan. Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar tetap berjuntai pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah alias rantai pasok dunia terganggu, biaya produksi nasional ikut melonjak dan daya saing industri domestik tertekan.
Ketergantungan tersebut tidak hanya terjadi pada sektor industri. Dalam pembiayaan pembangunan, Indonesia juga cukup lama mengandalkan arus modal asing untuk menutup kebutuhan investasi domestik. Defisit transaksi melangkah nan berulang kali terjadi sering kali ditutup melalui masuknya modal portofolio jangka pendek.
Dalam kondisi normal, strategi ini memang bisa menyediakan likuiditas dan pembiayaan nan dibutuhkan perekonomian. Namun ketika terjadi gejolak global, modal nan masuk dengan sigap dapat pula keluar dengan cepat.
Pengalaman krisis Asia tahun 1997-1998 maupun beragam bagian gejolak pasar finansial dunia menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nan terlalu berjuntai pada arus modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen penanammodal internasional. Ketika kepercayaan pasar menurun, nilai tukar tertekan, pasar finansial bergejolak, dan ruang kebijakan pemerintah menjadi semakin sempit.
Masalah lain nan tidak kalah krusial adalah kecenderungan membuka diri terhadap globalisasi ekonomi tanpa terlebih dulu menyiapkan fondasi domestik nan memadai. Integrasi perdagangan dan finansial dunia memang membawa banyak manfaat, tetapi faedah tersebut tidak selalu terdistribusi secara merata andaikan kapabilitas produksi nasional, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, dan ketahanan daya belum cukup kuat. Akibatnya, Indonesia menjadi peserta dalam arus globalisasi, tetapi belum sepenuhnya menjadi pengendali arah perjalanannya.
Membangun Kemandirian
Dalam konteks itulah agenda kemandirian nan saat ini mulai didorong pemerintah dapat dipahami bukan semata-mata sebagai pilihan ideologis, melainkan juga sebagai koreksi strategis terhadap sejumlah kelemahan struktural nan selama ini belum terselesaikan. Kemandirian pangan, energi, dan teknologi pada dasarnya merupakan upaya memperkuat fondasi ekonomi agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal nan berada di luar kendali nasional.
Kemandirian bukan berfaedah menutup diri dari perdagangan internasional alias menolak investasi asing. Sebaliknya, kemandirian berfaedah membangun keahlian domestik nan cukup kuat sehingga hubungan dengan bumi internasional berjalan dalam posisi nan lebih setara. Negara tetap terbuka terhadap perdagangan, investasi, dan kerja sama global, tetapi tidak lagi berada dalam posisi ketergantungan nan berlebihan.
Karena itu, agenda kemandirian ekonomi perlu disertai dengan pembangunan semangat nasionalisme ekonomi nan sehat. Nasionalisme ekonomi bukanlah sikap anti-asing, melainkan keberpihakan nan logis terhadap kepentingan nasional. Bentuknya dapat berupa kebanggaan menggunakan produk dalam negeri nan berkualitas, support terhadap industri nasional, peningkatan penggunaan komponen lokal, serta tumbuhnya kecintaan terhadap mata duit rupiah sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa.
Dalam banyak kasus, negara-negara nan sukses melakukan lompatan pembangunan bukan hanya lantaran mempunyai kebijakan industri nan tepat, tetapi juga lantaran masyarakatnya mempunyai kepercayaan nan tinggi terhadap keahlian bangsanya sendiri. Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok membangun industri nasionalnya tidak hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kebanggaan kolektif terhadap produk dan keahlian domestik.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa kuat mata uangnya, melainkan oleh seberapa besar kemampuannya memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri. Nilai tukar hanyalah cermin. nan menentukan isi pantulannya adalah keahlian bangsa memproduksi pangan, menguasai energi, dan mengembangkan teknologi.
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak lahir lantaran mereka mempunyai mata duit nan kuat alias pasar finansial nan besar. Mereka menjadi besar lantaran mempunyai keahlian memproduksi apa nan mereka butuhkan, menguasai teknologi nan menentukan masa depan, serta membangun ketahanan ekonomi nan tidak mudah diguncang oleh perubahan arah angin global.
Tatanan ekonomi bumi sedang berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia kudu berubah, melainkan seberapa sigap kita bisa memperkuat fondasi kemandirian nasional. Sebab pada akhirnya, bangsa nan betul-betul merdeka bukanlah bangsa nan paling kaya, melainkan bangsa nan bisa berdiri tegak di atas kekuatan ekonominya sendiri.
Agus Herta Sumarto
Dosen FEB UMB dan Ekonom INDEF
Simak Video "Video: #Tanyadetikfinance Ekonomi Tumbuh 5,6%, Apa Artinya buat Gaji Kamu?"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·