Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia punya siasat agar Indonesia bisa terlepas dari impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Diantaranya adalah pembangunan kilang dan juga penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN).
Dalam paparan Bahlil di Energy Forum CNBC Indonesia tercatat pada tahun 2025 kebutuhan BBM RI mencapai 37,3 juta kilo liter. Dari nomor itu, 23,03 juta KL berasal dari impor dan 14,27 juta KL hasil produksi di dalam negeri.
"Begitu kilang kita diresmikan, itu menghasilkan 5,5 juta kilo liter. Berarti tinggal 20-an juta kilo liter nan kita impor," terang Bahlil dalam Energy Forum CNBC Indonesia, dikutip Jumat (26/6/2026).
Bahlil buka-bukaan, bahwa impor BBM berasal dari negara-negara di Asia tenggara, khususnya Singapura dan Malaysia. "Terang-terangan saja kita," jelas dia.
Dalam paparannya, pasokan BBM Indonesia 62%-nya berasal dari Singapura, kemudian 35% Malaysia dan 3% adalah nan lainnya. Nah, untuk impor minyak mentah 16%-nya berasal dari Saudi Arabia dan negara Afrika seperti Nigeria, Angola, Gabon dan lainnya serta Kazakhstan.
"Makanya saya bingung. Saya jika ditanya suka alias tidak, saya tidak suka. Karena saya menteri nan tidak suka impor-impor. Aku jujur aja lah. Karena di situ setiap ada impor pasti ada potensi rente di situ. Ini nan membikin kita punya orang-orang terbaik di bangsa ini diperiksa oleh abdi negara penegak hukum," ungkap Bahlil. "Jadi langkah untuk membikin tidak ada lagi kecurigaan adalah stop impor. Makanya produksi dalam negeri kudu kita tingkatkan," tambah Bahlil.
Adapun salah satu upaya nan dilakukan Bahlil untuk meningkatkan produksi di dalam negeri adalah mengan memanfaatkan Bahan Bakar Nabati (BBN) melalui pencampuran etanol.
"Saya pernah masuk di Kampus, saya diketawain ketika saya membikin buahpikiran bikin E20. Oh itu dihujat: apa ini mimpi apa kau sekolah nggak ada di Google kau bicara E20 lagi kayak orang perminyakan aja,"
Bahlil menerangkan, bahwa E20 merupakan prototipe daripada B40 alias biodiesel 40% nan sudah dijalankan.
"Etanol itu bahan bakunya dari singkong, tebu, jagung. Kalau kita sukses untuk menuju B50 kenapa tidak kita memulai dari ini? Ini untuk mengurangi impor. Kalau kita bikin E20 berfaedah kita bisa menghemat 4 juta kiloliter per tahun,"
"Kita bisa meningkatkan pendapatan rakyat lewat pertanian mereka, menciptakan area pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, di sisi lain ada kemandirian daya nan bisa kita dorong. Jadi baik sumber nabati maupun fosil," jelas Bahlil.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·