Bahaya Tren Tanmaxxing dan Risiko Kanker Kulit akibat Paparan UV

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Bahaya Tren Tanmaxxing dan Risiko Kanker Kulit akibat Paparan UV Ilustrasi.(Magnific)

SELAMA bertahun-tahun, master ahli kulit memperingatkan ancaman paparan sinar mentari nan berlebihan, mulai dari kerusakan kulit hingga peningkatan akibat kanker kulit. Namun, tren baru nan dipopulerkan oleh para tanfluencer di media sosial justru menunjukkan arah sebaliknya. Di platform seperti TikTok, mereka melacak indeks ultraviolet (UV) untuk berjemur tepat saat radiasi mencapai puncaknya demi mendapatkan garis tan dan kulit kecokelatan nan dianggap estetis.

Studi terbaru nan diterbitkan dalam JAMA Dermatology mengungkapkan info nan mengkhawatirkan: 36 persen wanita dan 27 persen laki-laki sengaja melakukan tanning di luar ruangan. Angka tertinggi ditemukan pada wanita usia 18 hingga 24 tahun. Sekitar 52 persen di antaranya mengaku sengaja berjemur untuk menggelapkan kulit.

Fenomena ini terjadi di tengah kebenaran medis bahwa kanker kulit adalah jenis kanker nan paling umum ditemukan--sekitar 1 dari 5 orang Amerika diperkirakan bakal mengidapnya pada usia 70 tahun--dengan tingkat kejadian nan terus meningkat di kalangan dewasa muda.

Mitos Tan yang Sehat

Maral Skelsey, master ahli kulit di Washington D.C. dan ahli bicara Skin Cancer Foundation, menyebut tren ini sangat mengkhawatirkan. Banyak pasien muda mulai mempertanyakan perlunya tabir surya (sunscreen) dan meragukan hubungan antara sinar UV dengan kanker kulit akibat info nan mereka lihat di internet.

"Kulit Anda sebenarnya sedang berteriak 'aduh' saat dia menjadi cokelat (tan)," ujar Skelsey. Ia menegaskan bahwa tidak ada istilah tanning nan aman. Produksi melanin nan dipicu oleh mentari adalah sistem pertahanan tubuh nan menandakan ada cedera seluler dan kerusakan DNA pada kulit.

Jacob Beer, master ahli kulit di West Palm Beach, Florida, menambahkan bahwa jika seseorang mendapatkan cukup radiasi UV untuk mengubah warna kulit, dia juga mengakumulasi kerusakan nan berpotensi memicu kanker kulit di masa depan.

Mengapa Tren Ini Populer?

Para mahir menduga ada beberapa aspek nan mendorong ketenaran tanning saat ini:

  • Ketidakpercayaan pada Medis Konvensional: Ada misinformasi nan menyebut bahwa sunscreen berkarakter toksik alias mengandung karsinogen membikin sebagian orang mengabaikan saran ahli.
  • Efek Psikologis: Paparan sinar mentari meningkatkan serotonin, unsur kimia emosi baik dalam tubuh, nan dapat memicu perilaku mencari mentari secara adiktif.
  • Standar Kecantikan Media Sosial: Munculnya istilah tanmaxxing di kalangan remaja nan mengejar kulit gelap dalam waktu singkat.

Risiko Jangka Panjang: Penuaan Dini hingga Kanker

Selain akibat kanker, paparan UV nan berlebihan merusak kolagen, protein nan menjaga kulit tetap lembut dan kenyal. Akibatnya, kulit bakal mengalami penuaan awal nan ditandai dengan kerutan, tekstur tidak merata, penipisan kulit, dan diskolorasi.

Penggunaan tanning bed apalagi lebih berbahaya. Penelitian menunjukkan bahwa perangkat ini meningkatkan akibat melanoma hingga nyaris tiga kali lipat dibandingkan paparan sinar mentari alami.

Catatan Pakar: Memiliki base tan atau kulit nan sudah agak gelap sebelum berpiknik tidak memberikan perlindungan terhadap radiasi UV. Semua jenis kulit, termasuk kulit gelap secara alami, tetap berisiko mengalami kerusakan DNA akibat sinar matahari.

Panduan Perlindungan Kulit nan Benar

Untuk melindungi kulit, para mahir menyarankan langkah-langkah berikut:

  1. Gunakan Sunscreen Spektrum Luas: Pilih produk dengan minimal SPF 30 nan melindungi dari sinar UVA dan UVB.
  2. Reaplikasi: Oleskan kembali setiap dua jam atau lebih sering jika berkeringat dan berenang.
  3. Pilih Jenis nan Sesuai: Mineral sunscreen (zinc oxide/titanium dioxide) bekerja instan dan cocok untuk kulit sensitif, sementara chemical sunscreen perlu waktu 20 menit untuk menyerap.
  4. Perlindungan Fisik: Gunakan busana pelindung, topi, kacamata hitam, dan tetap berada di tempat teduh saat indeks UV tinggi.

Bagi mereka nan tetap menginginkan tampilan kulit kecokelatan, Lu Le dari University of Virginia Health menyarankan penggunaan self-tanning lotion alias spray tan. Produk ini mengandung DHA nan bereaksi dengan sel kulit meninggal di permukaan untuk menciptakan warna cokelat sementara tanpa merusak DNA sel kulit. Namun, perlu diingat bahwa produk ini tidak mengandung SPF, sehingga penggunaan tabir surya tetap wajib dilakukan. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia