Bahaya Proyek Migas Molor, Target Produksi Terancam

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Bahaya Proyek Migas Molor, Target Produksi Terancam

Bahaya Proyek Migas Molor, Target Produksi Terancam (Foto: Ilustrasi SKK Migas)

JAKARTA – Praktisi migas Benny Lubiantara mengingatkan bahwa ancaman terbesar industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia saat ini bukan lagi sekadar tantangan teknis di lapangan. 

Menurutnya, keterlambatan penyelenggaraan proyek (project delay) justru menjadi aspek paling menentukan nan dapat menggerus nilai investasi sekaligus menghalang pencapaian sasaran produksi migas nasional.

Benny menjelaskan bahwa industri hulu migas merupakan upaya berisiko tinggi dengan kebutuhan investasi nan sangat besar dan masa pengembalian modal nan panjang.
 
Selain menghadapi akibat pengetahuan bumi seperti kemungkinan sumur kering (dry hole) dan perubahan nilai minyak maupun gas, pelaku upaya juga kudu berhadapan dengan beragam halangan nonteknis alias above the ground risk, mulai dari proses perizinan, regulasi, hingga persetujuan dari beragam pemangku kepentingan.

“Semakin lama proyek tertunda, semakin besar pula nilai investasi nan tergerus,” ujarnya di Jakarta, Minggu (9/8/2026). 

Benny memaparkan, setiap proyek nan kandas beraksi (onstream) sesuai agenda bakal langsung memengaruhi tingkat keekonomian investasi. Berdasarkan simulasi ekonomi nan disampaikannya, penundaan selama satu tahun saja dapat memangkas Internal Rate of Return (IRR) secara signifikan. 

Kondisi ini membikin beragam insentif fiskal nan telah disiapkan pemerintah menjadi kurang efektif andaikan proyek terus mengalami kemunduran.

Dia juga menyoroti karakter lapangan migas Indonesia nan sebagian besar telah memasuki fase mature fields alias lapangan tua. Pada fase ini, tantangan utama bukan lagi menemukan persediaan baru, melainkan mempertahankan produksi secara ekonomis di tengah meningkatnya biaya operasi dan perawatan akomodasi nan semakin menua.

Karena itu, menurut Benny, industri tidak hanya memerlukan penerapan teknologi nan lebih efisien, tetapi juga support kebijakan fiskal nan semakin kompetitif agar investasi di sektor hulu migas tetap menarik di mata investor.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com