Aparat Cari Pria Berompi Semprot Cairan Merica ke Ketua SEMA UGM

Sedang Trending 19 jam yang lalu

Yogyakarta, CNN Indonesia --

Satpol PP DIY menyatakan bakal menelusuri keberadaan pria berompi 'Jaga Warga' nan terekam kamera video menyemprotkan cairan diduga air merica ke arah wajah Ketua Umum SEMA UGM, Mesa Syafitra saat tindakan demo di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9) kemarin.

"Akan kami bakal akan kami lakukan penelusuran. Ya dicek ya keberadaannya itu," kata Kepala Satpol PP DIY, Bagas Senoadji saat dihubungi, Kamis (3/9).

Sebagai informasi, Jaga Warga adalah lembaga masyarakat nan dibentuk berasas Peraturan Gubernur DIY Nomor 28 Tahun 2021 dan ada di tiap lingkungan. Bagas mengatakan kewenangan Jaga Warga ada di tingkat kelurahan, sementara Satpol PP punya tugas membina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagas menjelaskan Jaga Warga terdiri dari beragam komponen masyarakat. Tapi, nan jelas pihaknya telah menginstruksikan setiap personil Jaga Warga untuk cukup menjaga lingkungan masing-masing saat terjadi tindakan mahasiswa pada Selasa lalu.

Dia menyatakan telah menyampaikan kepada Jaga Warga bahwa pengamanan letak tindakan unjuk rasa adalah kewenangan kepolisian.

"Jadi untuk menjaga di lingkungan masing-masing mengenai untuk warganya untuk tidak terprovokasi. Nah itu tak sampaikan kepada Jaga Warga itu," ungkap Bagas.

Bagi Bagas, tak menutup kemungkinan pula jika tindakan penyemprotan cairan merica itu dilakukan oleh oknum nan memakai rompi Jaga Warga.

"Saya belum bisa memastikan apakah itu personil Jaga Warga original alias hanya sekedar memakai rompi," ucapnya.

"Kalau memang iya dia, minta maaf ya, umpamanya itu memang betul personil Jaga Warga. Ya bakal kami lakukan pembinaan," sambung Bagas.

Terpisah, Mesa Syafitra, Ketua Umum SEMA UGM mengaku dirinya telah jadi korban penyemprotan dengan cairan diduga air merica saat tindakan demo di Simpang Empat Gramedia, Selasa malam kemarin.

Mesa membagikan rekaman video berdurasi 21 detik saat dirinya disemprot dengan cairan diduga air merica langsung ke arah wajahnya.

"Saya menggunakan baju putih itu, melangkah mundur sembari memastikan tidak ada kawan nan tertinggal alias tersandera. Namun, seseorang menggunakan vest [rompi] Jaga Warga menyemprot merica ke wajah saya," kata Mesa mendeskripsikan momen pada video saat dihubungi, Kamis.

Pernyataan Polda DIY

Mesa juga mengecam pernyataan lembaga penegak norma nan justru menuding massa tindakan memakai semprotan merica ketika unjuk rasa kemarin.

Klaim massa tindakan menggunakan cairan semprotan ini datang melalui unggahan media sosial resmi Polda DIY, dengan narasi 'Fakta Lapangan'.

Akun media sosial Polda mengunggah video momen sewaktu demo kemarin dan menyorot temuan botol oranye nan dibawa salah seorang massa aksi. Mereka menyebut botol tersebut berisi cairan merica.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan dalam video itu menyebut personel Polresta Yogyakarta terkena semprotan diduga cairan merica sehingga kudu mendapat perawatan.

Mesa menegaskan massa aksi--utamanya nan bekerja sebagai relawan medis--saat itu justru membawa cairan untuk membantu demonstran terdampak gas air mata kepolisian.

"Saya sangat menyayangkan klaim tersebut. Sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan ketika lembaga keamanan negara kandas membedakan antara cairan obat maag pelindung lambung dengan senjata kimia pelumpuh," kata Mesa merespons video Polda DIY.

Mesa menjelaskan, secara ilmiah dan pada praktiknya di seluruh dunia, cairan antasida macam obat maag nan dilarutkan air merupakan protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata.

Kata dia, sifat basanya bisa membantu menetralkan pengaruh masam korosif dari senyawa kimia gas air mata.

"Menuduh obat maag sebagai semprotan merica adalah corak ketidakpedulian terhadap keselamatan kemanusiaan, alias nan lebih jelek adalah upaya menjustifikasi tindakan represif di lapangan," lanjut Mesa.

Mesa sendiri sempat ditangani dengan air dari dari botol oranye oleh tim medis massa tindakan usai dirinya kena semprotan cairan diduga air merica. Video Mesa dibasuh dengan air dari botol oranye ini juga sudah banyak beredar.

"Kawan-kawan medis sigap membantu dengan menyemprotkan cairan Mylanta dari botol oranye. Tim medis nan turun ke jalan bukan membawa senjata untuk menyerang, melainkan membawa obat-obatan untuk merawat kemanusiaan nan terluka. Ketika penawar rasa sakit distigmatisasi sebagai ancaman, di situlah kita tahu bahwa logika sehat publik sedang coba dikaburkan," tegas Mesa.

Atas dasar itu, tegas Mesa, Polda DIY kudu bertanggung jawab secara norma atas narasi publik nan mereka unggah di media sosial. Ia berujar, selak penegak norma nan dibekali oleh negara dengan instrumen intelijen, tim penyelidikan, dan prasarana verifikasi info nan lengkap, unggahan 'fakta lapangan' dari Polda DIY semestinya mempunyai standar kecermatan ilmiah dan integritas info nan kredibel.

"Bukan justru memproduksi misinformasi nan menyesatkan logika sehat publik," kata Mesa.

Mesa melanjutkan, SEMA UGM menuntut Polda DIY tidak hanya meralat klaim tersebut, tetapi juga meminta maaf secara terbuka kepada publik demi menjaga marwmarwah kredibilitas kepolisian itu sendiri

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan sementara itu menyatakan pihaknya sangat menghormati dan menampung penjelasan info dari rekan-rekan mahasiswa.

"Perlu kami sampaikan mengenai isi tabung, lantaran pada saat tindakan belum sempat diamankan oleh petugas akibat situasi di lapangan nan sangat dinamis, maka sejak awal narasi resmi kami menggunakan diksi 'diduga' demi mengedepankan asas prasangka tak bersalah," kata Ihsan dalam keterangannya, Kamis.

Ihsan menambahkan, konsentrasi utama pihaknya adalah kebenaran klinis adanya tujuh personel pelayanan nan nyata mengalami sesak napas serta iritasi sewaktu meredam keributan.

"Alhamdulillah, seluruh korban baik dari mahasiswa maupun petugas saat ini sudah ditangani medis dan telah pulih sepenuhnya. Situasi Kamtibmas Yogyakarta juga tetap terjaga, kondusif dan kondusif," imbuh Ihsan.

(kum/kid)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional