“Apa Gunanya Hidup Lagi?” Duka Ibu di Nepal Selamat di Dahan Pohon tapi Kehilangan Putra Tunggalnya

Sedang Trending 59 menit yang lalu
“Apa Gunanya Hidup Lagi?” Duka Ibu di Nepal Selamat di Dahan Pohon tapi Kehilangan Putra Tunggalnya Seorang wanita menyelamatkan barang-barangnya dari rumahnya nan tertutup lumpur tebal setelah banjir bandang di Devighat, distrik Nuwakot, Nepal.(MANAN VATSYAYANA / AFP)


“Apa Gunanya Hidup Lagi?” Duka Ibu di Nepal Selamat di Dahan Pohon tapi Kehilangan Putra Tunggalnya

TIGA wanita duduk berbareng di dalam tenda pengungsian pengungsian di kota Bidur, Nepal. Mereka meratapi anak, suami dan rumah-rumah mereka nan tersapu banjir luar biasa pada Rabu (26/8). 

Banjir bandang nan menerjang area Pegunungan Himalaya tidak hanya meluluhlantakkan permukiman, tetapi juga menyapu ratusan nyawa serta memisahkan keluarga.

Di posko pengungsian militer, para pengungsi membagikan detik-detik mencekam saat gelombang air bercampur lumpur menerjang desa mereka tanpa peringatan. Sangke Dolma Tamang, 61, penduduk Mailung, menceritakan gimana suaminya terlepas dari genggamannya dan tersapu arus deras saat mereka berupaya menyelamatkan diri ke tempat tinggi.

“Orang lain mencoba menariknya ke tempat aman, tetapi banjir menyapunya,” katanya, air mata mengalir di pipinya nan keriput. Dia mengatakan, sekarang tidak ada nan tersisa dari desanya. Dia menghabiskan satu malam berlindung di tempat nan lebih tinggi, sampai helikopter tentara datang dan membawanya ke tempat kondusif di barak. Putranya juga lenyap sejak musibah tersebut, dan dia menunggu dengan resah setiap berita nan ada.

“Sekarang saya tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan dalam hidup,” kata Tamang. “Seluruh rumah hilang. Kami tidak bisa menyelamatkan apa pun.”

Kisah serupa dialami Murali Maiya Tamang, 60, nan ditemukan selamat dalam kondisi tergantung di pohon setelah rumahnya rata dengan tanah. Wanita nan telah kehilangan suaminya pada gempa bumi Nepal 2015 ini sekarang kudu menghadapi realita pahit lantaran putra tunggalnya turut lenyap tersapu banjir.

“Suami saya sudah meninggal dalam gempa bumi Nepal tahun 2015,” katanya. “Sekarang banjir ini telah mengambil satu-satunya putra nan saya miliki. Saya sendirian sekarang. Apa gunanya hidup sekarang?”

Banyak orang di barak menunggu berita tentang ayah, kerabat laki-laki, dan suami mereka nan telah bekerja di proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang Sungai Bhote Koshi. Puluhan pekerja dilaporkan terjebak di dalam terowongan nan tertutup material lumpur tipis, meski sebagian di antaranya telah sukses dievakuasi oleh tim penyelamat.

Hingga hari kedua pascabencana, otoritas setempat mencatat sedikitnya 579 orang tewas dan lebih dari 1.900 orang tetap dinyatakan hilang. Tim SAR memperkirakan nomor korban bakal terus meningkat mengingat area terdampak parah seperti Distrik Rasuwa hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter akibat terputusnya jalur darat.

Juru Bicara Tentara Nepal, Brigjen Raja Ram Basnet, menegaskan bahwa operasi pemindahan udara terus dikerahkan tanpa henti untuk menjangkau lokasi-lokasi terisolasi. Pihak militer memprioritaskan penyaluran logistik berupa air bersih dan makanan serta pencarian korban nan diduga tetap memperkuat hidup.

Senada dengan militer, Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, menyatakan pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya untuk melacak keberadaan ribuan korban hilang, baik penduduk lokal maupun penduduk negara asing. Pemerintah mengimbau penduduk untuk tidak mendekati area reruntuhan mengingat struktur tanah nan tetap sangat labil dan berisiko memicu tanah longsor susulan.

(Theguardian/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia