Anggota Komisi IX Minta Nakes Bijak Main Medsos Usai Kasus Cibir Pasien BPJS

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Ilustrasi BPJS Kesehatan. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKB, Asep Rommy Romaya, mengingatkan tenaga kesehatan (nakes) agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama saat memberikan komentar mengenai pelayanan kesehatan.

Hal itu disampaikan menyusul ramainya sorotan terhadap dugaan cibiran sejumlah nakes kepada peserta BPJS Kesehatan nan mengeluhkan lambatnya pelayanan rumah sakit.

Asep menilai, tenaga kesehatan tetap mempunyai tanggung jawab moral nan melekat meski sedang menyampaikan pendapat di ruang digital. Menurutnya, komentar nan disampaikan nakes di media sosial dapat berakibat luas terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pekerjaan tenaga kesehatan.

“Kami mengingatkan meskipun di media sosial para nakes tetap abdi negara nan mempunyai tanggung jawab moral tinggi. Mereka kudu berhati-hati saat memberikan komentar alias tanggapan atas rumor alias peristiwa lantaran dampaknya bisa panjang,” ujar Asep dalam keterangannya, Kamis (6/8).

Asep mengatakan, pekerjaan tenaga kesehatan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan. Karena itu, dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan lainnya kudu menjaga sikap, baik ketika memberikan pelayanan langsung kepada pasien maupun saat menyampaikan pendapat di media sosial.

Ia menegaskan, media sosial bukan ruang nan bebas tanpa batas. Menurutnya, setiap komentar nan disampaikan tenaga kesehatan bakal dinilai publik dan mencerminkan integritas profesinya.

“Media sosial bukan ruang bebas tanpa batas. Apa nan disampaikan tenaga kesehatan bakal dinilai masyarakat dan mencerminkan integritas profesinya,” tegas Asep.

“Karena itu, mereka kudu bijak menggunakan media sosial, menjaga tutur kata, serta menghindari komentar nan merendahkan alias menyakiti pasien maupun keluarganya,” lanjutnya.

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKB Asep Rommy Romaya. Foto: Dok. Istimewa

Asep juga mengingatkan setiap tenaga kesehatan telah mengucapkan sumpah alias janji pekerjaan nan menempatkan keselamatan pasien, nilai kemanusiaan, serta penghormatan terhadap martabat setiap orang sebagai prinsip utama dalam menjalankan tugas.

Menurut Asep, nilai-nilai tersebut tidak hanya bertindak ketika tenaga kesehatan berada di tempat praktik, tetapi juga kudu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat beraktivitas di media sosial.

“Jangan sampai lenyap rasa empati. Masyarakat meletakkan kepercayaan nan sangat besar kepada tenaga kesehatan. Kepercayaan itu kudu dijaga dengan sikap nan mencerminkan kepedulian, penghormatan terhadap martabat pasien, dan profesionalisme. Sumpah alias janji pekerjaan bukan sekadar formalitas, tetapi komitmen moral nan kudu dipegang teguh sepanjang hayat,” ujarnya.

Asep juga menekankan pelayanan kesehatan kudu diberikan secara setara kepada seluruh masyarakat tanpa diskriminasi. Menurut dia, perbedaan status kepesertaan BPJS, kelas perawatan, maupun keahlian ekonomi pasien tidak boleh memengaruhi kualitas pelayanan ataupun langkah tenaga kesehatan memperlakukan pasien.

Selain itu, dia menilai tenaga kesehatan nan terbukti memberikan komentar nan melanggar etika pekerjaan perlu mendapatkan pembinaan dan hukuman sesuai ketentuan nan berlaku. Langkah tersebut, kata dia, krusial agar menjadi pembelajaran berbareng sekaligus menjaga marwah pekerjaan tenaga kesehatan.

“Penegakan etika krusial dilakukan bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi agar kejadian serupa tidak terulang. Marwah pekerjaan tenaga kesehatan kudu dijaga lantaran pekerjaan ini dibangun di atas kepercayaan, empati, dan pengabdian kepada sesama manusia,” pungkasnya.

Sebelumnya, seorang peserta BPJS Kesehatan berjulukan Yurizal menjadi sorotan publik usai curhatannya mengenai pelayanan rumah sakit viral di media sosial. Ia mengaku belum mendapatkan ruang perawatan meski telah menunggu selama delapan jam.

“8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal dalam unggahannya di Threads pada 22 Juli 2026.

Unggahan tersebut memicu beragam tanggapan, termasuk komentar dan cibiran bersuara negatif dari sejumlah akun nan kemudian diketahui merupakan tenaga kesehatan. Beberapa hari kemudian, seorang netizen nan mengaku sebagai sepupu Yurizal mengabarkan bahwa Yurizal meninggal bumi pada 31 Juli. Kabar itu memicu simpati publik sekaligus menyoroti kembali komentar-komentar nan dinilai tidak berempati.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, turut merespons dugaan master nan mencibir pasien BPJS di media sosial.

“Sebagai Menteri Kesehatan, tugas saya dari bapak presiden adalah meningkatkan rata-rata nomor angan hidup masyarakat Indonesia dari 72 ke 76 tahun. Jadi setiap ada nan meninggal itu saya sedih. Apalagi jika meninggalnya tetap muda, saya merasa sebagai Menkes gagal,” kata Budi kepada wartawan di Kementerian Kesehatan, Rabu (5/8).

Budi mengakui tetap terdapat beragam kekurangan dalam sistem kesehatan nan perlu dibenahi.

“Kekurangan itu ada, itu nan kudu kita perbaiki, baik di akomodasi kesehatannya, di alat-alat kesehatannya, maupun SDM kesehatannya,” ujar dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan