Desa Bisa Menjadi Jawaban Bertahan dalam Badai AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Desa Wisata Sade, Lombok. Foto: Farizun Amrod Saad/Shutterstock

Perkembangan kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah langkah manusia bekerja, belajar, dan berbisnis. Berbagai pekerjaan mulai terdampak oleh otomatisasi. Pekerjaan administratif, jasa pelanggan, hingga proses imajinatif sekarang dapat dibantu apalagi digantikan oleh AI. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa manusia bakal semakin susah bersaing di bumi kerja nan serba digital.

Menurut info dari Kementerian Tenaga Kerja Jumlah Tenaga Kerja nan ter-PHK tahun 2024 dan 2025 nan terdaftar pada Jamsostek berjumlah 77.965 Orang dan 88.519 Orang. Angka ini artinya, perusahaan memangkas jumlah tenaga kerja lantaran mengalihkan anggaran untuk modal teknologi AI alias mengganti tugas manusia dengan sistem otomatisasi. Sejalan dengan hasil penelitian dilakukan oleh Lestari (2025) nan menyatakan bahwa terdapat kekurangan regulasi, seperti dalam Undang-

Undang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Cipta Kerja, nan belum sepenuhnya mengakomodasi tantangan era transformasi digital.

Namun, di tengah derasnya gelombang teknologi tersebut, desa justru mempunyai kesempatan besar untuk menjadi ruang memperkuat sekaligus ruang tumbuh. Desa menawarkan sesuatu nan tidak mudah digantikan oleh mesin: hubungan sosial nan erat, kekayaan budaya, sumber daya alam, dan produktivitas berbasis kearifan lokal.

AI memang bisa menghasilkan tulisan, menganalisis data, alias membikin kreasi dalam hitungan detik. Akan tetapi, AI tidak dapat menggantikan nilai gotong royong, rasa saling percaya, kepemimpinan komunitas, maupun pengalaman hidup masyarakat desa. Nilai-nilai inilah nan menjadi modal sosial krusial untuk menghadapi perubahan zaman.

Di sisi ekonomi, desa juga mempunyai potensi nan semakin relevan. Ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, peternakan, perikanan, hingga produk UMKM berbasis lokal merupakan sektor nan tetap memerlukan sentuhan manusia. AI dapat dimanfaatkan sebagai perangkat bantu untuk meningkatkan produktivitas, seperti memprediksi cuaca, mengelola pemasaran digital, alias memperluas akses pasar. Namun, pelaku utamanya tetap manusia.

Oleh lantaran itu, langkah terbaik menghadapi angin besar AI bukanlah menolak teknologi, melainkan menguasainya tanpa meninggalkan jati diri desa. Pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu membangun literasi digital agar teknologi menjadi sarana pemberdayaan, bukan ancaman. Anak muda desa kudu didorong untuk mengembangkan penemuan nan menggabungkan teknologi dengan potensi lokal sehingga lahir solusi nan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Di masa depan, desa bukan lagi dipandang sebagai wilayah nan tertinggal, melainkan sebagai pusat ketahanan sosial, pangan, dan lingkungan. Ketika kota semakin berjuntai pada otomatisasi, desa mempunyai kesempatan untuk menunjukkan bahwa pembangunan nan berkepanjangan tidak hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada manusia nan bisa bekerja sama, menjaga alam, dan melestarikan budaya.

Badai AI memang tidak dapat dihindari. Namun, dengan memanfaatkan teknologi secara bijak dan memperkuat potensi lokal, desa dapat menjadi tempat nan tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin arah pembangunan nan lebih manusiawi. Pada akhirnya, masa depan bukanlah tentang manusia melawan AI, melainkan tentang gimana manusia menggunakan AI untuk memperkuat kehidupan. Dan dalam konteks itu, desa dapat menjadi salah satu jawaban terbaik.

Ilustrasi AI
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan