
Anak Melek Digital, PP Tunas Lindungi dari Risiko nan Makin Kompleks (Ist)
JAKARTA - Anak-anak sekarang tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi digital. Namun, di saat nan sama, akibat nan mereka hadapi semakin kompleks.
1. Risiko Kian Kompleks
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mediodecci Lustarini, menegaskan urgensi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) berangkat dari meningkatnya akibat serius nan dihadapi anak di ruang digital, terutama mengenai kesehatan mental.
“Ruang digital tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga memengaruhi perkembangan mental anak. Ini nan kudu kita kelola bersama,” ujarnya, dikutip Jumat (1/5/2026).
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren nan mengkhawatirkan. Persentase siswa nan mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup meningkat 1,6 kali lipat dalam periode 2015–2023. Sementara percobaan bunuh diri meningkat hingga 2,7 kali lipat.
Dengan penetrasi internet nan telah melampaui 80 persen alias sekitar 229 juta pengguna, anak menjadi golongan dominan dalam ekosistem digital. Dari sekitar 79,7 juta anak usia 13 tahun ke atas, nyaris 80 persen telah aktif mengakses ruang digital.
“Semakin muda usia anak, semakin sigap mereka terpapar. Bahkan ada kejadian anak lahir sudah ‘punya’ media sosial lantaran dikenalkan oleh orang tuanya sendiri,” kata Mediodecci.
Ia kemudian mengungkapkan realitas di lapangan nan memperkuat kebutuhan regulasi. Saat mendampingi kunjungan Selvi Ananda Gibran Rakabuming selaku Pembina Seruni berbareng Seruni (Solidaritas Perempuan Untuk Indonesia) Kabinet Merah Putih ke Bali pada Oktober 2025, pemerintah menemukan anak-anak sekolah dasar nan tidak hanya aktif secara digital, tetapi juga sudah terlibat dalam aktivitas ekonomi digital.
“Ketika kami datang ke sekolah dasar di Bali, kami menemukan anak-anak nan sangat pandai dan sudah dekat dengan teknologi digital. Bahkan mereka sudah bisa menghasilkan duit dari platform digital, seperti menjual akun Roblox,” ujarnya.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·