Akulturasa 2026 rangkaian dari peringatan Dies Natalis ke-67 ITB.(ITB)
INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) resmi membuka perhelatan Akulturasa 2026, sebuah pagelaran penemuan nan memadukan sains, teknologi, seni, dan budaya. Berlangsung selama dua hari pada 20–21 Juni 2026 di Kampus Ganesha, aktivitas ini menjadi panggung utama bagi hilirisasi riset pangan berkepanjangan guna menjawab tantangan ketahanan pangan masa depan.
Pembukaan pagelaran dilakukan oleh Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, didampingi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. Akulturasa 2026 merupakan bagian integral dari rangkaian Gebyar Dies Natalis ke-67 ITB dan agenda Alumni Pulang Kampus.
Hilirisasi Riset melalui Pendekatan Budaya
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. A. Rikrik Kusmara, menjelaskan bahwa Akulturasa lahir dari misi ITB untuk memberikan akibat nyata bagi masyarakat. Program ini melibatkan beragam fakultas, mulai dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Sekolah Farmasi (SF), hingga Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).
“Kami mau menunjukkan gimana riset dan penemuan dapat memberikan faedah nyata bagi masyarakat serta menjadi inspirasi bagi pengembangan UMKM dan ketahanan pangan Indonesia,” ujar Rikrik pada Minggu (21/6).
Salah satu daya tarik utama adalah Jamuan Nusantara, sebuah pengalaman fine dining nan menyajikan hasil riset fermentasi laboratorium menjadi hidangan gastronomi Sunda modern. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi terbaru dapat melangkah beriringan dengan warisan budaya lokal.
Fermenstation: Jembatan Laboratorium ke Industri
Akar dari Akulturasa adalah Fermenstation, program pembelajaran berbasis proyek (capstone) dari Program Studi Mikrobiologi SITH ITB nan telah eksis sejak 2005. Prof. Pingkan Aditiawati, Dosen Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba SITH ITB, menyebut bahwa mahasiswa ditantang untuk mengembangkan produk pangan fermentasi nan inovatif dan siap pasar.
Beberapa produk penemuan berbasis bahan lokal nan dipamerkan antara lain:
- Kombucha honje dan soda arbei fermentasi.
- Tape ubi ungu dan fermentasi kacang azuki.
- Fermentasi rebon, ikan, dan sriracha fermentasi.
- Gari jahe hasil eksplorasi bioteknologi.
“Indonesia mempunyai kekayaan pangan fermentasi tradisional nan luar biasa. Diversifikasi pangan melalui pengolahan umbi-umbian, kacang-kacangan, hingga hasil laut sangat krusial agar kita tidak berjuntai pada satu sumber pangan saja,” tegas Prof. Pingkan.
Ruang Kolaborasi dan Kebersamaan
Selain pameran riset, Akulturasa 2026 juga menjadi arena kebersamaan bagi family besar ITB. Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Dr. N. Nurlaela Arief, menyatakan lebih dari 1.000 dosen, tenaga kependidikan, dan tenaga kerja turut berperan-serta dalam beragam pagelaran seni.
“Ini lebih dari sekadar pagelaran kuliner. Akulturasa adalah ruang perjumpaan antara pengetahuan pengetahuan, industri, dan organisasi untuk membangun masa depan pangan Indonesia nan lebih berkekuatan saing,” tutup Nurlaela. (AN/I-1)
Checklist Inovasi Pangan Akulturasa:
- Pemanfaatan mikroba lokal untuk nilai tambah ekonomi.
- Standardisasi keamanan pangan pada produk UMKM binaan.
- Edukasi diversifikasi pangan non-beras kepada masyarakat.
- Kolaborasi lintas disiplin (Sains-Seni) dalam penyajian produk.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·