Setiap perubahan era selalu menghadirkan pertanyaan baru. Bagaimana kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) dimanfaatkan tanpa menghilangkan sentuhan manusia dalam pembelajaran? Bagaimana matematika dapat dipahami lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari? Bagaimana anak-anak tumbuh dalam lingkungan belajar nan kondusif dan memerdekakan? Hingga gimana pendidikan tinggi bisa menjangkau masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.
Berbagai pertanyaan itu menjadi benang merah nan menyatukan enam orasi ilmiah dalam Pengukuhan Profesor Universitas Terbuka (UT) Tahun 2026. Bukan sekadar menandai pencapaian akademik, pengukuhan guru besar menjadi ruang bagi lahirnya pendapat nan berangkat dari persoalan nyata dan menawarkan perspektif baru bagi pengembangan pendidikan serta kehidupan bermasyarakat.
Sebanyak enam guru besar dikukuhkan pada hari pertama Pengukuhan Profesor UT Tahun 2026 nan berjalan di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Rabu (5/8/2026).
Pengukuhan ini merupakan bagian dari rangkaian pengukuhan 12 guru besar selama dua hari sekaligus menjadi momentum krusial dalam peringatan Dies Natalis ke-42 UT nan mengusung tema "Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri." Tema tersebut mencerminkan komitmen UT untuk terus menghadirkan penemuan dalam pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, memperkuat kiprah di tingkat global, serta memberikan akibat nyata bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan Indonesia.
Perubahan lanskap pendidikan menjadi perhatian Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., melalui orasi Rethinking Writing Instruction: Scientific Foundations and Future Directions at Distance Teaching Universities. Di tengah meningkatnya kebutuhan bakal keahlian berkata Inggris dalam lingkungan global, dia menekankan bahwa keahlian menulis tidak cukup dibangun melalui penguasaan tata bahasa semata. Menulis merupakan proses berpikir nan memerlukan latihan, kolaborasi, revisi, dan umpan kembali nan berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan jarak jauh, Prof. Rahmat menawarkan penguatan kreasi pembelajaran melalui diagnostik awal, program induksi, pemantauan perkembangan mahasiswa, serta pengelolaan tutorial nan lebih efektif. Ia juga menekankan pemanfaatan AI sebagai pendukung proses belajar tanpa menggantikan peran tutor.
Perspektif tersebut berpadu dengan pendapat Prof. Dr. Juhana, M.Pd., nan mengangkat tema Humanizing English Language Instruction in The Age of Intelligent Technology: From Adaptive Pedagogy to Transformative Learning. Menurutnya, kemajuan teknologi semestinya memperkaya proses pembelajaran, bukan menggeser nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu dirancang secara adaptif dengan memanfaatkan teknologi pandai sebagai perangkat bantu, sembari tetap memberi ruang bagi pendidik untuk membangun empati, refleksi, kepercayaan diri, dan keahlian komunikasi lintas budaya.
Jika pembelajaran bahasa menjadi bekal menghadapi bumi nan semakin terkoneksi, maka penguatan numerasi merupakan fondasi krusial dalam membangun keahlian berpikir. Melalui orasi Mengembangkan Pemahaman Aljabar nan Bermakna: Integrasi Teknologi, Pedagogi Konstruktif, dan Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika, Prof. Dr. Yumiati, M.Si., memperkenalkan Model Integrasi Pembelajaran Aljabar (MIPAl). Model tersebut menghubungkan konsep aljabar dengan budaya lokal, permainan tradisional, motif batik, anyaman, serta kehidupan sehari-hari, didukung pemanfaatan teknologi pembelajaran sebagai sarana membangun pemahaman konseptual nan lebih bermakna.
Fondasi pendidikan juga menjadi perhatian Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Pd., melalui model BERLIAN dalam orasinya tentang pendidikan anak usia dini. Di tengah penguatan kebijakan wajib belajar 13 tahun, dia mengingatkan bahwa kesiapan anak memasuki sekolah tidak sepatutnya dipersempit pada keahlian membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan anak usia awal perlu menjadi ruang nan memerdekakan dan berpusat pada anak. Lingkungan belajar juga perlu mengakar pada budaya lokal, berkarakter inklusif, serta bebas dari kekerasan. Melalui pendekatan tersebut, anak didorong untuk mengembangkan rasa mau tahu, kreativitas, empati, keahlian berinteraksi, serta tumbuh berbareng support family dan lingkungan.
Di luar ruang kelas, tantangan lain datang dalam kehidupan kerakyatan dan ruang digital. Prof. Made Yudhi Setiani, S.IP., M.Si., Ph.D., mengangkat pentingnya pendidikan politik berbasis pedagogi feminis dalam sistem pendidikan jarak jauh. Berangkat dari rumor representasi wanita dan kekerasan berbasis gender, dia menawarkan pendekatan pembelajaran nan mendorong mahasiswa memahami kerakyatan secara lebih reflektif. Pendekatan tersebut juga membujuk mahasiswa menghargai keberagaman, mengenali ketimpangan relasi kuasa, serta membangun partisipasi sebagai penduduk digital nan kritis, etis, dan berkeadilan.
Sementara itu, Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si., memusatkan perhatian pada pemerataan akses pendidikan tinggi melalui model penerapan kebijakan jasa pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh nan adaptif berbasis kewilayahan. Menurutnya, ekspansi akses tidak cukup ditopang oleh transformasi digital, tetapi juga memerlukan jasa nan dekat dengan masyarakat. Dalam kerangka tersebut, UT Daerah dan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) berkedudukan sebagai simpul jasa nan menghubungkan kebijakan nasional dengan kebutuhan mahasiswa melalui informasi, pendampingan akademik, support teknis, akomodasi belajar, serta kerjasama dengan pemerintah wilayah dan organisasi setempat.
Meski berangkat dari bagian keilmuan nan berbeda, keenam guru besar menghadirkan satu pesan nan sama: pengetahuan pengetahuan bakal menemukan maknanya ketika bisa menjawab kebutuhan masyarakat dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Berbagai pendapat nan disampaikan menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbincang tentang proses belajar di ruang kelas, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas kesempatan, memperkuat partisipasi warga, serta menghadirkan jasa nan lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Semangat itulah nan menjadi gambaran tema Dies Natalis ke-42 UT, "Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri." Bagi UT, menjadi perguruan tinggi nan mendunia bukan hanya diukur dari pengakuan dan jejaring internasional, tetapi juga dari keahlian menghadirkan penemuan nan memberi faedah nyata bagi masyarakat. Melalui pengukuhan guru besar tahun ini, UT kembali menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan pemikiran nan relevan dengan tantangan masa kini, memperkaya pengembangan pengetahuan pengetahuan, sekaligus memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Indonesia bagi kemajuan bangsa.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·