Tiga orang utan nan terdiri dari induk dan dua anak dievakuasi dari area perkebunan penduduk di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akibat kediaman mereka terdampak kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Evakuasi dilakukan tim campuran Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan masyarakat. Ketiga orang utan tersebut sebelumnya terpantau berada di area perkebunan penduduk sejak awal 2026.
Kebakaran nan terjadi pada Juli dan Agustus 2026 menghanguskan bagian rimba dan memutus jalur pergerakan orang utan. Kondisi itu membikin ketiganya terjebak di area perkebunan nan berbatasan dengan permukiman warga.
Proses pemindahan berjalan sekitar delapan jam. Tim menggunakan senapan bius dengan dosis nan disesuaikan berasas kondisi dan perkiraan berat badan masing-masing orang utan.
Setelah sukses dievakuasi, ketiganya menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapat cairan infus. Setelah dinyatakan dalam kondisi baik, ketiganya dipindahkan ke area Taman Nasional Gunung Palung untuk dilepasliarkan.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyatakan kebakaran rimba dan perubahan tutupan lahan menjadi ancaman serius terhadap kediaman orang utan.
"Kasus nan kembali terjadi di wilayah ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran dan perubahan tutupan lahan belum selesai. Ketika rimba terbakar dan koridor pergerakan terputus, orang utan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia," kata Silverius.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, mengatakan pihaknya bakal memantau pergerakan dan penyesuaian ketiga orang utan tersebut setelah pelepasliaran.
“Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan kediaman alami nan kondusif untuk mendukung kelangsungan hidup orang utan. Pasca-pelepasliaran, tim kami di lapangan bakal terus memantau pergerakan dan proses penyesuaian Mama Yuni, Yuni, dan Pura guna memastikan mereka dapat memperkuat hidup dengan baik di rumah barunya,” ujar Prawono.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga meminta semua pihak menjaga area rimba dan wilayah berbobot konservasi tinggi untuk mencegah kebakaran serta melindungi kediaman satwa liar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·