12 Update Terkini Perang AS-Iran, Negosiasi Tahap 2-Respons China

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan bentrok di Timur Tengah nan melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran tetap terus berkemban. Bahkan ada akibat nan meluas ke ekonomi dunia hingga dinamika diplomasi internasional.

Sejumlah perkembangan terbaru muncul mencakup potensi lonjakan krisis pangan, optimisme negosiasi damai, hingga respons dari China. Berikut pembaruan terbaru mengenai situasi perang antara AS dan Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia pada Kamis (16/4/2026).

1. Krisis Baru di Bumi 

Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, memperingatkan bentrok ini berpotensi memperburuk krisis pangan dunia secara signifikan. Ia menilai pengaruh domino dari perang bakal menekan ekonomi dunia dan memperparah kondisi negara-negara rentan.

"Ada sekitar 300 juta orang nan sudah menderita kerawanan pangan akut. Jumlah itu bakal meningkat sekitar 20 persen dengan sangat cepat," ujar Gill kepada AFP.

2. Wall Street Cetak Rekor

Di tengah ketegangan geopolitik, indeks utama Wall Street justru mencatatkan rekor tertinggi. Kenaikan ini dipicu optimisme penanammodal terhadap potensi tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran dalam waktu dekat.

3. Netanyahu Klaim Satu Suara dengan AS soal Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kesamaan sikap negaranya dengan AS dalam menghadapi Iran.

"Kami mau memandang material nan diperkaya dikeluarkan dari Iran; kami mau memandang penghapusan keahlian pengayaan di Iran; dan, tentu saja, kami mau memandang Selat Hormuz dibuka kembali," katanya dalam pidato televisi.

4. Bubarkan Hizbullah

Sementara itu, Netanyahu juga menyebut pembubaran Hizbullah sebagai prioritas utama dalam pembicaraan dengan Lebanon. "Ada dua tujuan utama: pertama, pembubaran Hizbullah; kedua, perdamaian berkelanjutan... nan dicapai melalui kekuatan," tegasnya.

5. Negosiasi AS-Iran Tahap 2 Dibahas

Gedung Putih mengungkapkan bahwa putaran kedua pembicaraan tenteram dengan Iran tengah dipersiapkan. Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan pembicaraan lanjutan "sangat mungkin" digelar di Islamabad, Pakistan, dengan optimisme kesepakatan dapat dicapai.

6. Israel Perintahkan Zona Operasi di Lebanon

Kepala Staf Militer Israel memerintahkan wilayah selatan Sungai Litani di Lebanon dijadikan "zona pembunuhan" Hizbullah. Hal ini seiring eskalasi operasi militer besar-besaran di area tersebut.

7. China Respons Perdamaian 

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan support terhadap upaya diplomasi nan sedang berlangsung. Beijing, kata Wang kepada mitranya dari Iran, mendukung "pemeliharaan momentum gencatan senjata dan perundingan perdamaian."

8. AS Blokade Laut Iran

Komando militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menghentikan 10 kapal keluar dari pelabuhan Iran dalam 48 jam pertama blokade laut. Namun, info pencarian menunjukkan setidaknya tiga kapal tetap sukses melintasi Selat Hormuz, meskipun sebagian kemudian berbalik arah.

9. Diplomasi Intensif Pakistan

Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif memulai kunjungan diplomatik ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Sementara itu, delegasi militer Pakistan juga melakukan pertemuan dengan pejabat Iran di Teheran.

10. 11 Negara Serukan Bantuan Darurat

Sebanyak 11 negara, termasuk Inggris dan Jepang, mendesak IMF dan Bank Dunia. Mereka meminta IMF memberikan "dukungan darurat terkoordinasi" guna membantu negara-negara nan terdampak gangguan ekonomi akibat konflik.

11. Inggris Menolak Terlibat Perang

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan negaranya tidak bakal ikut serta dalam konflik. "Kami tidak bakal terseret ke dalam perang ini. Ini bukan perang kami," ujarnya di parlemen, menanggapi tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

12. Iran Teguh soal Uranium

Di sisi lain, Iran tetap bersikeras bahwa haknya untuk memperkaya uranium tidak dapat diganggu gugat. Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tingkat pengayaan uranium tetap dapat menjadi bahan negosiasi dalam pembicaraan damai.

(tfa/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News