12 Bekantan Mati Gosong Akibat Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

"Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di area tersebut, namun jumlah populasi itu tetap perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda kediaman satwa dilindungi tersebut," kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna kepada ANTARA dikonfirmasi di Banjarmasin, Senin (14/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan pihaknya menerima laporan pada Minggu (13/9) dari petugas pemadam kebakaran Hulu Sungai Selatan dan masyarakat mengenai bekantan nan terdampak kebakaran di area Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.

"Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar," ujarnya.

Selain satwa endemik Kalimantan itu, Agus mengatakan bahwa area tersebut juga menjadi kediaman satwa lain, seperti lutung alias hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang. Satwa-satwa tersebut tetap dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.

Tim pengamanan BKSDA Kalsel telah mendatangi letak untuk memeriksa kondisi kediaman nan terbakar, luas area terdampak, serta memastikan kemungkinan tetap terdapat satwa nan selamat dan memerlukan pengamanan alias evakuasi.

Hasil pengecekan menunjukkan kediaman bekantan di letak tersebut terdiri atas dua area terpisah nan masing-masing mempunyai luas sekitar dua hingga tiga hektare dan dipisahkan oleh jalan, dengan satu area merupakan tanah desa dan area lainnya milik masyarakat.

Agus mengungkapkan kebakaran hutan, terutama terjadi di area milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar. Sedangkan area tanah desa kondusif dari kebakaran. Adapun bekantan nan meninggal ditemukan berada di area milik masyarakat.

Kedua area itu, kata dia, menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan. Area tersebut merupakan jalur pergerakan bekantan meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu hamparan ekosistem nan menyatu.

"Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan kediaman alias satu ekosistem nan menyatu, tetapi terpisah-pisah," ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa kondisi kediaman nan terbatas, kemudian kebakaran dengan api cukup besar dan disertai angin kencang, diduga menyebabkan bekantan nan berada di area tersebut tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api.

BKSDA Kalsel telah menangani seluruh buntang bekantan nan ditemukan dengan menguburkan mereka. Apabila ditemukan indikasi kematian akibat aspek lain seperti penembakan, bangkainya bakal dibawa untuk diperiksa oleh master hewan.

BKSDA Kalsel selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa dan kecamatan serta membujuk masyarakat menjaga kediaman bekantan nan berstatus satwa. Masyarakat juga diimbau ikut memantau kemungkinan adanya satwa nan tetap memerlukan evakuasi.

"Tim BKSDA tetap mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di area APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi kediaman dan satwa liar nan terdampak kebakaran," ujar Agus.

(antara/wis)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional