Jakarta -
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai kebijakan impor pangan bisa melahirkan kemiskinan nan masif. Menurutnya, impor sektor pangan juga bisa membikin masyarakat enggan menjadi petani dan menciptakan ketergantungan pada negara lain.
"Tahun 2024 kita impor 4,5 juta ton. Sudah kita jika enggak punya beras impor saja. Sudah-sudah kita tahu dampaknya itu. Dampaknya itu bakal membikin kemiskinan nan masif. Petani-petani kita setelah 28 tahun dia berubah," kata Zulhas di aktivitas peluncuran kitab Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, akibat dari impor sektor pangan tersebut tidak terasa lantaran kerap dibenturkan dengan upaya untuk mengendalikan inflasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu petani itu kakeknya punya kebun, punya sawah. Turun ke bapaknya, kebunnya dijual, tinggal sawah. Turun ke anaknya, sawahnya dijual. Karena dia tidak bisa pekerjaan lain selain tanam padi. Tapi rugi, Pak, rugi. Kenapa rugi? Karena kita enggak berasa nan kita jaga inflasi. Harga enggak boleh tinggi, patokan rumit, banyak nan moral hazard, belum tengkulak, macam-macam," jelasnya.
Belum lagi, impor sektor pangan bisa membikin suatu negara menjadi berjuntai pada negara lain. Menurut Zulhas, perihal ini nan kudu diwaspadai. Apalagi di masa sekarang, banyak negara nan lebih memilih mengamankan stok pangan dalam negeri.
"Belum akibat buruknya. Kalau impor kan pasti mahal. Kita bakal tergantung," tuturnya.
(akn/ega)
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·