Zulhas Gaspol 32 Proyek Pembangkit Sampah Jadi Listrik, Ini Alasannya

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mempercepat pengembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) alias Waste to Energy (WtE) secara besar-besaran. Sebanyak 32 akomodasi PSEL ditargetkan langsung masuk tahap bangunan dalam waktu sekitar tujuh minggu, menyusul status darurat nan ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan, percepatan ini merupakan petunjuk langsung Presiden Prabowo. Karenanya, pemerintah sekarang memangkas waktu pengerjaan secara drastis dibandingkan proyek serupa sebelumnya.

"Di atas perintah Bapak Presiden semua lantaran darurat kudu dipercepat, ya sudah kita ini maraton ya. Dulu itu 11 tahun hanya 2 (proyek). Bank Dunia, tadi Pandu (Chief Investment Officer Danantara) bilang itu 45 bulan. Kita 6 bulan sekarang, kita bakal selesaikan 32 (proyek) itu dalam waktu 7 minggu (mulai pembangunan). Semuanya ini Waste to Energy, ini incinerator," kata Zulhas saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Di tahap awal, pemerintah bakal memulai proyek secara berjenjang di sejumlah daerah. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyebut gelombang pertama bakal mencakup enam wilayah, termasuk Bogor, Bekasi, dan Denpasar.

"Ini bertahap. Ini gelombang pertama 6. Tadi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kota Denpasar, Kabupaten Bekasi," ucap Bima ditemui dalam kesempatan nan sama.

Menurutnya, proyek ini menjadi langkah terobosan untuk mengurangi persoalan sampah nasional. Pada tahap awal, akomodasi tersebut ditargetkan bisa mengolah sekitar 25% timbulan sampah. Jika diperluas dalam beberapa gelombang, masalah sampah diyakini bisa ditekan signifikan dalam 2-3 tahun ke depan.

Dari sisi kesiapan proyek, pemerintah memastikan pembangunan bisa segera dimulai setelah lahan tersedia. Namun, penanammodal dituntut bergerak sigap dalam tahap eksekusi.

"Jadi kudu mulai proses pembangunannya mulai. Kan ini baru lahannya siap, setelah itu mulai. Jadi investornya kudu siap, jika tidak diambil alih," imbuhnya.

Meski sasaran percepatan dikejar, pemerintah mengakui hambatan utama tetap berkutat pada penyediaan lahan di sejumlah daerah. Wilayah nan belum siap bakal masuk ke tahap berikutnya, mengingat proses investasi memerlukan pembebasan lahan.

"Sejauh ini nan bermasalah itu lahannya. Makanya nan belum itu gelombang berikutnya. Kan tidak semua pemda punya lahan, ada nan investasi. Investasi kan kudu ada proses pembebasan dan lain-lain," kata dia.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan pemerintah wilayah sudah mulai bergerak. Pemprov Jawa Barat berbareng sejumlah pemerintah kota dan kabupaten telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan pihak pemenang tender untuk proyek WtE.

"Nanti jika sudah selesai, kan beroperasinya jika pembangunannya sudah selesai, mudah-mudahan sigap ya," kata laki-laki nan berkawan disapa KDM itu.

Fasilitas pengolahan sampah ini ditargetkan mulai beraksi pada tahun depan, seiring dorongan pemerintah untuk mempercepat solusi jangka panjang terhadap persoalan sampah, sekaligus mendukung penyediaan daya alternatif.

Penandatanganan Bersama Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Pemerintah Daerah dan Badan Usaha Pengembangan dan Pengelola (BUPP) Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di ruang rapat utama Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026). (CNBC Indonesia/Romys Binekasri)Foto: Penandatanganan Bersama Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Pemerintah Daerah dan Badan Usaha Pengembangan dan Pengelola (BUPP) Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di ruang rapat utama Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026). (CNBC Indonesia/Romys Binekasri)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News