Zaahira anak Istimewa, yang Merajut Asa di Sekolah Rakyat

Sedang Trending 6 jam yang lalu
Zaahira Ramadhani (13) siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMA) 5 Solok. Foto: Biro Humas Kemensos/Andi Muhlis

Zaahira Ramadhani (13) tumbuh di rumah berdinding kayu tanpa privasi. Setelah orangtuanya berpisah, hidupnya berubah menjadi family besar.

Bersama tujuh berkerabat nan terdiri dari tiga kerabat kandung dan empat kerabat tiri, Zaahira tinggal berbareng ibu, ayah tiri, dan kerabat barunya di sebuah rumah dari kayu jejak berukuran 5x3 meter di Koto Gaek.

Zaahira Ramadhani (13) siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMA) 5 Solok. Foto: Biro Humas Kemensos/Andi Muhlis

Kondisi perpisahan orang tua, rumah sempit, dan kondisi ekonomi pas-pasan bukanlah perihal mudah bagi anak seusianya. Zaahira berupaya menjalani semuanya dengan tenang. Ia selalu dikelilingi bunyi ribut ketika sang adik menangis, keributan tetangga, bunyi perbincangan personil family hingga bunyi lain nan membuatnya susah berkonsentrasi dan kurang stabil.

Zaahira Ramadhani (13) siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMA) 5 Solok. Foto: Biro Humas Kemensos/Andi Muhlis

Satu rumah nan menampung terlalu banyak kebutuhan. Padahal ibu kandung Zaahira hanyalah seorang ibu rumah tangga nan mengandalkan suami baru sebagai tulang punggung keluarga. Namun Zaahira tidak pernah mengeluh atas apa nan dia jalani. Hingga akhirnya dia masuk ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Solok.

Ia merasakan banyak perubahan besar nan dia rasakan. “Dulu jarang salat. Sekarang salat lima waktu terjaga,” katanya.

Zaahira Ramadhani (13) siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMA) 5 Solok. Foto: Biro Humas Kemensos/Andi Muhlis

Di Sekolah Rakyat, dia punya bilik sendiri, waktu belajar nan lebih teratur, rasa kekeluargaan dalam pengawasan, dan suasana nan membikin hatinya lebih dekat pada agama. “Di sini ada zikir, baca Al-Qur’an tiap hari, puasa juga, lebih tenang rasanya," ucapnya.

Dari rasa ketenangan itulah, prestasinya mulai tumbuh. Sejak tinggal di asrama, dia mulai jatuh cinta pada buku. Kelak dia mau menjadi pengusaha dan mempunyai pekerjaan nan stabil serta bisa mengangkat ekonomi keluarga. “Doain orang tua dan keluarga. Rezekinya dilancarkan, agar hidup lebih layak,” tuturnya.

Doa mini itu mencerminkan hati seorang anak wanita nan memikul banyak hal, di antara rindu, harapan, dilema keluarga, dan kemauan untuk membikin semuanya lebih baik.

Zaahira Ramadhani (13) siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMA) 5 Solok. Foto: Biro Humas Kemensos/Andi Muhlis

Ia mau tetap berguru di Sekolah Rakyat hingga SMA. Tapi dia juga percaya, jika berprestasi, dia bisa masuk sekolah favorit. Anak wanita dari rumah kayu ini tidak sekadar punya mimpi, dia punya arah besar dalam hidupnya di usia nan tetap sangat muda.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan