Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan surat info mengenai perlindungan golongan rentan dari akibat kabut asap kebakaran rimba dan lahan (Karhutla).
Melalui surat tersebut, aktivitas belajar mengajar di sekolah dapat dikurangi andaikan kualitas udara alias Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada tingkat tinggi dan tidak sehat.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan surat info tersebut bakal dikirim Sekretaris Jenderal Kemenkes kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Agama (Kemenag).
Surat tersebut ditujukan untuk melindungi anak-anak nan menjadi salah satu golongan rentan terhadap paparan asap Karhutla.
"Jadi betul untuk golongan rentan ini kita sudah membikin surat ya, kelak Sesjen mengirim surat ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kemenag untuk anak-anak andaikan ISPU-nya tinggi, tidak sehat, itu bisa tidak melakukan aktivitas di luar sehingga bisa melakukan aktivitas seperti apakah jarak jauh, maksudnya tatap mukanya dikurangi dan sebagainya," kata dia dalam Media Briefing Kemenkes melalui siaran Zoom, Rabu (26/8).
Surat info tersebut tengah dipersiapkan dan ditargetkan terbit dalam waktu dua hari. Menurut Then, langkah tersebut diperlukan agar aktivitas anak-anak di luar ruangan dapat dikurangi ketika kualitas udara memburuk.
"Jadi memang surat info sedang kita siapkan, mungkin dalam dua hari ini bakal terbit surat info tersebut dari Sesjen," ucapnya.
Then mengatakan, sudah ada surat info dari Menteri Lingkungan Hidup kepada gubernur serta bupati/wali kota untuk memantau kondisi kualitas udara. Ketika ISPU meningkat, sekolah juga diharapkan tidak menggelar pembelajaran tatap muka.
"Disarankan untuk sama ya, bahwa untuk sekolah diharapkan tidak perlu tatap muka dengan kondisi ISPU nan meningkat. Itu, jadi sudah ada surat edarannya nan diharapkan untuk golongan rentan tersebut," tambah Then.
ISPU Sejumlah Daerah Masuk Kategori Berbahaya
Imbauan tersebut disampaikan seiring dengan kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak karhutla. Berdasarkan hasil pemantauan Kemenkes pada Rabu (26/8) sekitar pukul 05.00 WIB, dari 17 stasiun pemantauan, kualitas udara di sejumlah wilayah masuk kategori rawan hingga sangat tidak sehat.
ISPU di Kabupaten Muaro Jambi mencapai nomor 302. Sementara itu, ISPU di Palangka raya, Jekan Raya, Kalimantan Tengah, mencapai 573 dan masuk kategori berbahaya.
"Yang saat ini kondisi nan rawan ada di Kabupaten Muaro Jambi dengan nilai ISPU-nya 302 ya, kemudian di Palangka raya Jekan Raya di Kalimantan Tengah dengan 573 ya ini berbahaya," ungkap dia.
Selain dua wilayah tersebut, kualitas udara kategori sangat tidak sehat terpantau di Pelalawan, Riau; Penukal Abab Pematang Ilir dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan; Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat; serta Gunung Mas dan Katingan, Kalimantan Tengah.
Then menjelaskan, kualitas udara dengan ISPU 101-200 masuk kategori tidak sehat. Pada kondisi tersebut, kualitas udara dapat merugikan kesehatan, terutama bagi penderita asma dan penyakit jantung. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas nan terlalu lama di luar ruangan.
"Untuk nan tidak sehat ialah kategori ISPU-nya adalah 101 sampai 200, ini tingkat kualitas udara nan sifatnya merugikan ya untuk penderita asma penyakit jantung ini diharapkan tidak di luar ruangan dan perlu dijaga kesehatannya dan segera ke master andaikan diperlukan. Dan untuk setiap orang kurangi aktivitas nan terlalu lama di luar ruangan," kata Then.
Sementara itu, ISPU 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat. Pada kondisi tersebut, akibat kesehatan meningkat sehingga golongan sensitif maupun masyarakat secara umum diharapkan tidak terlalu lama berada di luar ruangan.
"Untuk nan sangat tidak sehat 201 sampai 300, ini tentunya merugikan dan meningkatkan akibat kesehatan dan pada golongan populasi seperti sensitif dan setiap orang diharapkan sama tidak di luar ruangan terlalu lama," lanjutnya.
Adapun ISPU di atas 300 masuk kategori berbahaya. Then mengatakan golongan sensitif maupun masyarakat secara umum perlu menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tersebut.
"Untuk rawan ini tentunya merugikan dan merugikan kesehatan dan tentunya untuk golongan sensitif dan setiap orang dihindari di luar ruangan," ujarnya.
Anak-anak Jadi Kelompok Rentan
Karhutla menjadi persoalan kesehatan lantaran dapat meningkatkan paparan partikulat dalam waktu singkat. Salah satu polutan nan menjadi perhatian adalah PM2.5 lantaran paparannya dapat meluas mengikuti pergerakan udara.
"Adanya PM 2,5 nan tinggi tingkat pajanannya sangat luas lantaran di mana-mana udara itu ada tidak ada batasan," tuturnya.
Then mengatakan anak-anak termasuk golongan nan perlu mendapat perhatian lantaran paru-paru, sistem kardiovaskular, dan kegunaan kognitif mereka tetap berkembang. Mereka juga condong lebih aktif di luar ruangan sehingga lebih mudah terpapar polusi udara.
"Anak lebih sensitif lantaran paru dan sistem kardiovaskular dan kegunaan kognitifnya tetap berkembang dan condong lebih aktif di luar ruangan sehingga perlu kita jaga sama-sama," ujar dia.
3,4 Juta Penduduk Terdampak
Dari sisi akibat kesehatan, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan karhutla telah berakibat terhadap sekitar 3,405 juta masyarakat di sejumlah wilayah.
Berdasarkan info nan dipaparkannya, terdapat 42 orang mengalami luka ringan dan dua orang mengalami luka berat alias kudu menjalani rawat inap. Tidak ada korban jiwa nan dilaporkan dalam info tersebut.
Agus juga menyebut adanya peningkatan kasus jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah. Di Kalimantan Barat, berasas pencatatan sejak 1 Januari hingga 7 Agustus, tercatat sebanyak 165.747 kasus ISPA.
"Kalimantan Barat juga berasas pencatatan dari 1 Januari sampai 7 Agustus ini kasus ISPA-nya meningkat juga ya sampai 165.747 dalam kurun waktu tujuh bulan," kata Agus.
Agus mengatakan Kemenkes juga memperkuat jasa kesehatan di wilayah terdampak dengan memobilisasi tenaga kesehatan. Secara keseluruhan, tenaga kesehatan nan dimobilisasi untuk mendukung penanganan karhutla di sejumlah wilayah mencapai 321 orang.
"Kemudian mobilisasi tenaga bagian kesehatan ya untuk masing-masing provinsi sudah mengirimkan tenaga persediaan alias kesehatan ya ialah dari mulai master sampai orang kesling (kesehatan lingkungan), totalnya 321 orang," ujar Agus.
Tenaga kesehatan tersebut disiapkan untuk membantu jasa di rumah sakit maupun puskesmas di wilayah terdampak. Selain itu, tenaga kesehatan juga dikerahkan untuk memberikan support kepada masyarakat serta petugas nan berada di letak kebakaran.
Agus menambahkan, tenaga kesehatan tidak hanya menunggu di puskesmas, tetapi sebagian bergerak langsung ke letak kebakaran untuk membantu petugas pemadam kebakaran. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi petugas mengalami kelelahan alias kekurangan oksigen.
"Bukan hanya Puskesmas itu pasif ya tapi ada nan aktif, artinya ada tenaga-tenaga kesehatan nan bergerak langsung ke letak kebakaran. Kenapa? Dalam rangka mem-back up teman-teman tim pemadam kebakaran jangan sampai kelelahan kemudian kekurangan oksigen makanya ada nan turun ya tenaga persediaan kesehatannya," kata Agus.
Selain penguatan tenaga kesehatan, Kemenkes mendistribusikan sejumlah logistik kesehatan sesuai kebutuhan daerah, termasuk masker, oksigen konsentrator, handscoon, oxycan, faceshield, APD, serta makanan tambahan untuk golongan rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia.
Then kemudian mengimbau masyarakat memantau kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi ISPU. Masyarakat nan kudu berada di luar ruangan juga diminta menggunakan masker, sementara golongan rentan perlu mendapat perlindungan lebih.
"Baik, dari kami menekankan bahwa kita kudu pantau udara ya kualitas udara, kita kurangi aktivitas di luar sesuai dengan hasil ISPU, gunakan masker andaikan kudu di luar, kita lindungi golongan rentan, dan segera berobat jika sakit," tutupnya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·