Yenny Wahid: Kultur NU Itu Musyawarah, Bukan Chaos

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Yenny Wahid menilai demonstrasi nan disertai kemarahan hingga perusakan akomodasi bukan merupakan kultur Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, NU mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.

“Sebetulnya demonstrasi, lampau kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan,” kata Yenny di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Yenny menanggapi dinamika dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU, termasuk tindakan demonstrasi dan ketegangan nan muncul setelah adanya keputusan dalam forum muktamar.

Menurut Yenny, pihak nan kecewa terhadap keputusan muktamar semestinya menerima hasil nan telah disepakati para muktamirin dan tidak melampiaskan kekecewaan melalui tindakan anarkis.

“Kalau ada nan kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan langkah ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU,” ujar putri Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tersebut.

Yenny juga menilai keputusan mengenai masa idah politik perlu diterima lantaran telah menjadi kesepakatan dalam muktamar. Menurutnya, kebijakan tersebut krusial untuk menjaga jarak antara NU dan partai politik.

Ia mengatakan jarak tersebut diperlukan agar NU tidak mudah dimasuki kepentingan politik praktis dan tetap berada pada posisi netral terhadap seluruh partai politik.

“NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan,” kata Yenny.

Menurut Yenny, politik kebangsaan NU semestinya diarahkan untuk mengurus persoalan rakyat dan bangsa, termasuk menjaga persatuan dan kesatuan serta mendorong kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Terkait terbentuknya Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Yenny berambisi para ustad nan terpilih dapat mengambil keputusan terbaik dalam menentukan Rais Aam maupun kandidat Ketua Umum PBNU periode mendatang.

“Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu meletakkan angan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan nan paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti,” katanya.

Yenny juga berambisi para muktamirin dan seluruh pihak nan terlibat dalam muktamar menerima serta menghormati keputusan nan dihasilkan para ustadz demi keberlangsungan NU dalam menghadapi beragam tantangan pada abad kedua organisasi tersebut.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita