Bagi sebagian orang, mencuci piring, memotong sayuran, hingga melipat busana merupakan pekerjaan rumah tangga nan dilakukan setiap hari. Namun, bagi Itha Siburian Pandjaitan, aktivitas tersebut justru menjadi ladang cuan.
Itha merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) nan sekarang tinggal di Ekuador. Perempuan berumur 48 tahun itu bekerja sebagai pembimbing AI dengan merekam beragam aktivitas rumah tangga nan dilakukannya sehari-hari.
Rekaman tersebut kemudian dijual sebagai sumber info untuk melatih kepintaran artifisial (AI), khususnya pada robot humanoid. Data berupa rekaman video nan dikumpulkan dari perspektif pandang manusia ini dikenal sebagai egocentric data.
"Jadi kita ngerjain kerjaan rumah, tapi dapet duit, gitu. Kita bukan cari-cari pekerjaan, memang jika ada alias enggak ada aplikasi itu ya kita memang kudu ngerjain pekerjaan rumah gitu kan," ujar Itha kepada kumparan via Google Meet, Minggu (30/8).
Berawal dari Cuci Piring
Itha mulai mengerjakan pekerjaan sebagai pembimbing AI pada akhir April 2026. Awalnya, dia menggunakan aplikasi Mindrift dan Toloka. Belakangan, dia menemukan lebih banyak platform seperti Renta Human dan Claru nan juga menawarkan beragam task untuk mengumpulkan data.
Salah satu pekerjaan nan dia lakukan adalah merekam aktivitas mencuci piring. Namun, pekerjaan nan tersedia sebenarnya jauh lebih beragam. Ada aktivitas memasak, baking, memotong bahan makanan, mencuci mobil, hingga beragam aktivitas rumah tangga lainnya.
"Jadi lucunya project-nya tuh [orang-orang bilang] project cuci piring kan, gara-gara ngerjainnya tentang cuci piring. Padahal itu [melatih AI] kan luas, macam-macam kerjaannya," kata Itha.
Dalam salah satu task, misalnya, Itha diminta merekam gimana seseorang mencuci piring. Ia apalagi bisa mengulangi aktivitas nan sama beberapa kali menggunakan piring nan sama.
Hal tersebut bukan berfaedah perusahaan memerlukan video piring nan betul-betul kotor. Menurut Itha, nan lebih krusial adalah aktivitas tangan manusia ketika melakukan aktivitas tersebut.
"Jadi sebenarnya kan ini kita melatih AI, how to wash the dishes. Karena tangan kita tuh enggak boleh keluar dari kamera, dan nan di dalam kamera itu hanya kedua tangan kita. Nah mungkin AI-nya tuh membaca langkah aktivitas tangan kita cuci piring," jelasnya.
Video juga tidak perlu diedit terlebih dahulu. Rekaman dilakukan langsung melalui aplikasi, kemudian diunggah setelah tugas selesai.
Modalnya Ponsel
Untuk memulai pekerjaan ini, Itha tidak memerlukan peralatan khusus. Ketika menggunakan Mindrift, misalnya, nyaris semua jenis ponsel bisa digunakan.
Namun, persyaratan perangkat pada sejumlah platform sekarang semakin tinggi. Itha mencontohkan Claru nan mensyaratkan ponsel Android minimal Samsung S21 alias iPhone 12. Spesifikasi tersebut dibutuhkan agar kamera dapat menggunakan wide lens.
Selain ponsel, kata Itha, pekerja juga terkadang memerlukan peralatan tambahan seperti tripod, head strap, dan chest strap. Jika perangkat nan digunakan tidak sesuai dengan ketentuan task, rekaman bisa ditolak.
"Kalau saya sih pakainya tuh nan diminta head strap yang di kepala alias chest strap. Tapi awal-awal saya pakainya hanya pakai tripod," ujar Itha.
Persyaratan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pekerja di Indonesia. Menurut Itha, banyak orang nan tertarik tetapi tidak bisa mengikuti task tertentu lantaran keterbatasan perangkat.
Bisa Rp 870 Ribu Sehari
Besaran penghasilan nan diterima pekerja berbeda-beda tergantung negara dan jenis task. Itha menyebut pekerja di Indonesia bisa mendapatkan sekitar USD 5–6 per jam. Saat berada di Kolombia, dia pernah mendapatkan USD 7 per jam. Sementara di Amerika Serikat, penghasilan nan dia ketahui bisa mencapai USD 10 per jam.
Pekerjaan juga tidak kudu dilakukan dalam satu sesi penuh. Pekerja bisa merekam selama 10 menit, kemudian 10 menit lagi, dan durasinya bakal diakumulasi.
Itha berbareng suaminya apalagi pernah mengerjakan task tersebut selama 5–6 jam dalam sehari. Dari aktivitas itu, mereka bisa mendulang sekitar USD 50 alias setara Rp 870 ribu.
"Sehari tuh kita bisa ngerjain, USD 50 dapatnya. 5–6 jam," kata Itha.
Namun, nomor tersebut bukan penghasilan nan bisa diperoleh secara rutin setiap hari. Salah satu masalahnya adalah task nan tiba-tiba menghilang alias dihentikan sementara oleh platform.
"Kadang seminggu nih kita full ngerjain, tapi entar suka tiba-tiba task-nya hilang. Katanya kayak di-pending alias di-pause," ujarnya.
Karena ketidakpastian tersebut, Itha menilai pekerjaan melatih AI belum cocok dijadikan pekerjaan utama.
"Kalau jadi pekerjaan utama susah. Jadi kebanyakan sih di grup saya tuh nan ngerjain tuh ibu-ibu nan enggak kerja gitu," katanya.
Bukan Cuma Cuci Piring
Selain merekam aktivitas rumah tangga, terdapat pula task lain nan tidak memerlukan aktivitas fisik. Salah satunya adalah "Which Image is Better".
Dalam task tersebut, pekerja diminta memilih gambar nan dinilai lebih baik alias lebih sesuai untuk kebutuhan AI. Sebelum mendapatkan tugas berbayar, pekerja kudu melewati tes terlebih dahulu.
Setelah lolos, satu rangkaian pekerjaan dapat memberikan penghasilan sekitar USD 3. Menurut Itha, pekerjaan tersebut apalagi dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.
Namun, dia mengingatkan pekerja untuk tidak mengerjakan terlalu cepat. Pasalnya, ada pekerja nan meski jawabannya betul dan tugasnya disetujui, justru mendapat larangan mengerjakan lantaran sistem menganggap aktivitas mereka mencurigakan.
Ibu Rumah Tangga di Indonesia Juga Ikutan
Itha awalnya membagikan info mengenai pekerjaan tersebut melalui media sosial. Ia memandang aktivitas melatih AI sebagai kesempatan bagi orang-orang nan sebelumnya tidak mempunyai pekerjaan, terutama ibu rumah tangga.
"Karena saya pikir mudah terus dapat duit, kenapa enggak di-share," cerita Itha.
Para follower-nya di IG kemudian tertarik. Mereka ini adalah orang-orang Indonesia nan juga tinggal di Indonesia. Praktis, Itha kemudian membikin grup Telegram untuk mereka. Kini, grup tersebut mempunyai sekitar 3.500 anggota.
Banyak personil grup merupakan ibu rumah tangga. Namun, pekerjanya tidak hanya perempuan. Sejumlah laki-laki juga ikut mengerjakan task, termasuk mereka nan sudah mempunyai pekerjaan utama dan mengerjakannya pada malam hari.
"Banyak tuh nan ngerjain mereka malam. Ribut deh tuh grup jika malam," kata Itha.
Menurut Itha, sebagian personil grup apalagi awalnya tidak terbiasa dengan teknologi maupun bahasa Inggris. Namun, mereka berupaya mempelajarinya lantaran pekerjaan tersebut memberikan tambahan penghasilan.
Belakangan, sejumlah task rumah tangga untuk pekerja di Indonesia apalagi mensyaratkan adanya narasi dalam bahasa Inggris. Itha kemudian menyarankan personil grup menggunakan support AI untuk menerjemahkan kalimat nan perlu diucapkan.
Akankah Robot Menggantikan Pekerjaan Rumah Tangga?
Di kembali kesempatan mendapatkan penghasilan, Itha menyadari perkembangan robot humanoid juga menimbulkan kekhawatiran. Ia kerap menerima komentar dari masyarakat mengenai kemungkinan pekerjaan rumah tangga, termasuk asisten rumah tangga (ART), nantinya digantikan robot.
Namun, Itha memandang perkembangan teknologi dari sisi nan berbeda. Menurutnya, teknologi bukan hanya menghilangkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan jenis pekerjaan baru.
Pekerjaan nan sekarang dilakukannya menjadi salah satu contohnya. Aktivitas mencuci piring, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lain nan sebelumnya tidak dianggap sebagai pekerjaan digital sekarang justru menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi AI.
"Teknologi kan makin maju, pikiran kita juga pasti semakin maju, ada lagilah kelak pasti. Kayak ini kan, with or without me pasti ada nan ngerjain kan?" ungkap dia.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·