Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan mata duit franc Swiss sekarang menjadi akibat tak terduga dari langkanya manuver intervensi campuran antara Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk menopang yen. Situasi mengejutkan ini justru membawa angin segar bagi beragam perusahaan dan kreator kebijakan di Swiss nan selama bertahun-tahun telah berjuang keras menghadapi kekuasaan kekuatan mata duit lokal mereka.
Mengutip Channel News Asia, Rabu (19/8/2026), nilai tukar franc sebenarnya tetap 12% lebih kuat terhadap euro jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, meskipun baru-baru ini mulai mengalami sedikit pelemahan. Kekuatan nan terus menekan pertumbuhan ekonomi dan membikin ekspor negara tersebut lebih mahal ini didorong oleh rentetan surplus transaksi melangkah Swiss nan gigih, finansial publik nan sehat, inflasi nan sangat rendah, serta derasnya aliran biaya safe-haven.
Di pasar global, baik yen maupun franc sangat dipengaruhi oleh manuver carry trade kurs asing (valas). Mata duit ini bakal melemah ketika para penanammodal meminjamnya akibat tawaran suku kembang nan rendah, di mana biaya tersebut kemudian bakal langsung dijual kembali untuk membeli aset dengan imbal hasil nan lebih tinggi di tempat lain, dengan sasaran utamanya sering kali adalah pasar negara berkembang.
Yen sejatinya telah lama menjadi mata duit pendanaan pilihan utama di pasar. Namun, mata duit ini diperkirakan bakal tetap bergolak dan resah lantaran para pedagang sekarang sangat waspada terhadap akibat intervensi lanjutan, nan secara langsung memicu dimulainya rotasi modal ke franc Swiss.
Manajer Portofolio Senior Neuberger Berman, Fredrik Repton, menyoroti dinamika pergeseran selera para penanammodal tersebut. Menurutnya, keahlian franc nan baik telah memicu para penanammodal untuk memburu mata duit Negeri Alpen itu.
"Pelaku pasar bakal memikirkan tentang merotasi beberapa posisi pendanaan mereka. Jika Anda memandang keahlian euro-Swiss, itu mungkin lebih instruktif tentang gimana lingkungan pasar telah terbentuk," paparnya.
Saat ini, franc berada di kisaran 0,9385 nan mendekati level terlemahnya dalam kurun waktu sekitar satu tahun terhadap euro. Angka tersebut turun sekitar 4% dari level tertinggi 11 tahun di bulan Maret nan berada di dekat 0,9, serta ambruk nyaris 7% dari level tertinggi 11 tahun terhadap dolar AS pada Januari lalu.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, bank asal Belanda, Rabobank, pada pekan lampau juga telah merevisi naik sasaran 9 hingga 12 bulan untuk pasangan euro/franc Swiss menjadi 0,95 dari sebelumnya 0,94. Langkah taktis ini mencerminkan ekspektasi kuat bahwa franc bakal terus melemah ke depannya.
Kepala Pasar Global ING, Chris Turner, membeberkan bahwa intervensi di Jepang baru-baru ini telah mendorong pelepasan posisi jual yen secara masif. Hal tersebut sukses mendongkrak jumlah posisi nan beredar menjadi jauh lebih dekat dengan posisi franc.
"Dibutuhkan banyak perihal untuk beranjak dari yen sebagai mata duit pendanaan, tetapi ada banyak perihal di luar sana nan dapat menghilangkan kebiasaan orang-orang tersebut," ungkapnya.
Faktor lain nan membikin penanammodal berpikir dua kali untuk bertaruh melawan yen mencakup ekspektasi kenaikan suku kembang Jepang dan spekulasi bahwa Dana Investasi Pensiun Pemerintah (GPIF) raksasa milik Jepang dapat mengalihkan alokasi menuju investasi domestik.
Kepala Strategi FX G10 Global BofA, Adarsh Sinha, menjelaskan daya tarik franc sebagai pengganti carry trade nan paling logis untuk menggantikan mata duit Jepang. Suku kembang Swiss saat ini diketahui ditahan di nomor 0%, jauh di bawah level suku kembang Jepang nan sekarang dipatok sebesar 1%.
"Suku kembang Swiss tidak hanya lebih rendah dari yen Jepang, tetapi volatilitas franc juga lebih rendah," ucapnya.
Setiap pelemahan franc akibat pergeseran penggunaannya untuk mendanai carry trade dipastikan bakal disambut dengan sangat baik oleh Bank Nasional Swiss (SNB). Otoritas moneter tersebut apalagi sebelumnya telah menyatakan dengan tegas bahwa mereka siap untuk kombinasi tangan jika diperlukan demi melemahkan mata uangnya.
Terkait keselarasan kepentingan antarnegara dalam pergeseran tren pasar valas ini, Turner kembali memberikan konklusi bahwa sebenarnya situasi ini telah diinginkan oleh baik publik Jepang dan Swiss.
"Orang Jepang menginginkan yen nan lebih kuat, orang Swiss menginginkan franc nan lebih lemah, jadi itu masuk akal," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·