NUS Business School: Bukan Teknologi, Masa Depan AI RI Ditentukan Kualitas SDM

Sedang Trending 21 jam yang lalu
Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore alias NUS Business School Tan Hong Ming dalam obrolan dengan media di Jakarta, Selasa (18/8/2026). Foto: Dok. APRW Asia

Indonesia berambisi menjadi negara berpendapatan tinggi nan berkekuatan saing global. Namun, kesempatan kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) terbesar di Indonesia dinilai tidak terletak pada sekadar mengambil teknologi, melainkan pada "human dividend" alias sumber daya manusia (SDM) unggul.

Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore alias NUS Business School Tan Hong Ming mengatakan SDM nan unggul kudu mempunyai keahlian, pertimbangan matang, serta support lembaga untuk mengonversi AI menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi.

Menurutnya, jika selama ini bingkisan demografi Indonesia dipandang sebagai salah satu kelebihan utama, kehadiran AI sekarang menggeser konsentrasi sumber daya manusia pada peningkatan keahlian dan kapabilitasnya.

"Selama puluhan tahun, 'bonus' tersebut selalu diukur dari jumlah tenaga kerja. Keberadaan AI mengubah perihal tersebut," kata dia dalam sebuah obrolan dengan media di Saigon, Menara Astra, Jakarta, Selasa (18/8).

Contohnya, kata dia, seorang tenaga kerja nan dibekali keahlian dalam AI, sekarang bisa lebih melakukan banyak hal. Alhasil, produktivitas kian ditentukan oleh kapabilitas tenaga kerja, bukan lagi jumlahnya. Teknologinya sudah ada.

"Pertanyaan besarnya kini: siapkah SDM kita mencetak nilai tambah dari AI?" lanjutnya.

Keberhasilan AI Ada pada Manusia, Bukan Teknologi

Indonesia mempunyai populasi lebih dari 280 juta jiwa dan merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai ekonomi digital mencapai nyaris USD 100 miliar pada 2025, menjadikannya pasar digital terbesar di ASEAN. Di saat nan sama, Indonesia ditopang oleh sekitar 65 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) nan menyumbang 60 persen PDB nasional serta menyerap 97 persen tenaga kerja. Potensi ini membuka ruang produktivitas dan penemuan berbasis AI secara masif.

"Saat ini, pembahasan tetap berkutat pada pekerjaan nan bakal tergantikan oleh AI. Saya rasa ini kurang tepat. Tujuan AI tak boleh hanya sebatas otomatisasi, melainkan peningkatan kapasitas. AI harusnya membantu kita memecahkan masalah nan lebih besar, membikin keputusan nan lebih tepat, dan melahirkan nilai-nilai baru," terangnya.

NUS Business School. Foto: Dok. NUS

Menurut dia, perusahaan nan memakai AI hanya untuk mengotomatisasi tugas mungkin bisa menghemat biaya dalam jangka pendek. Namun, entitas nan memakai AI untuk memberdayakan manusianya justru bakal memetik nilai jangka panjang nan jauh lebih besar.

Alih-alih menganggap AI sebagai ancaman bagi manusia, Tan menekankan pentingnya bagi sebuah entitas alias perusahaan untuk merestrukturisasi pola kerja mereka, mempertajam daya pikir, meningkatkan kapabilitas SDM, dan mendorong tenaga kerja untuk lebih berkembang, sembari hal-hal krusial tetap berada di tangan manusia.

Namun, membangun bingkisan SDM menjadi SDM unggulan bukanlah perkara mudah. Kendati mengambil AI terbukti kian pesat di sektor manufaktur, jasa keuangan, kesehatan, logistik, hingga konsumsi di Indonesia, banyak perusahaan tetap menemui hambatan untuk mengukur dan memperluas mengambil AI hingga membuahkan hasil.

Kelangkaan pegawai, prasarana digital nan belum merata, serta tingkat kesiapan AI nan berbeda-beda, tetap menjadi halangan utama, khususnya bagi upaya skala kecil.

Menurut dia, human dividend memerlukan tiga tahap investasi agar dapat berkembang. Pertama, setiap entitas memerlukan literasi AI agar tenaga kerja memahami langkah menggunakannya secara efektif.

Kedua, jejeran ketua kudu mempunyai kapabilitas untuk merancang ulang pola kerja agar AI dapat memperkuat peran manusia, bukan sekadar otomatisasi. Tujuannya adalah memungkinkan orang-orang mencapai hasil nan sebelumnya susah alias mustahil diraih.

"Ketiga, setiap entitas kudu membangun budaya belajar berkepanjangan seiring dengan perkembangan AI nan dinamis," terangnya.

Gedung Mochtar Riady di NUS Business School. Foto: Dok. NUS
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan