Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkap luas kebakaran rimba dan lahan (karhutla) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai sekitar 202 ribu hektare. Angka tersebut disebut sudah melampaui luas karhutla pada periode nan sama pada 2019 dan 2023.
Raja Juli mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah lantaran Indonesia saat ini menghadapi kejadian El Nino nan semestinya secara siklus baru terjadi pada 2027. Namun, kejadian El Nino justru datang lebih sigap pada 2026.
“Pada tujuh bulan pertama tadi 2026 luas Karhutla tercatat 202 ribu hektare. Angka ini memang lebih tinggi dibanding 2019-2023, tetap jauh lebih rendah dibanding 2015 nan mencapai 600 ribu hektare. Dari total luas tersebut, sekitar 57% alias 115.896 hektare ya berada di area hutan,” jelas Raja Juli saat rapat dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).
“Yang warna hijau itu area hutan, sementara 43% ya itu di APL. Ini juga menunjukkan bahwa pekerjaan juga tidak hanya di kementerian kita ini, tapi juga di kementerian nan mengurus di sektor APL,” lanjutnya.
Raja Juli menjelaskan, El Nino selama ini dikenal sebagai siklus nan terjadi secara periodik sekitar empat tahunan. Fenomena tersebut tercatat terjadi pada 2015, 2019, dan 2023. Dengan pola itu, El Nino berikutnya semestinya baru terjadi pada 2027.
Namun, kondisi suasana saat ini menunjukkan kejadian tersebut datang lebih cepat.
“El Nino merupakan siklus empat tahunan dan terjadi secara periodik. Kalau ada nan merah itu berfaedah El Nino. Jadi ada terjadi 2015, kemudian 2019, 2023, dan mestinya 2027 baru El Nino-nya bakal datang,” tutur Raja Juli.
“Namun sekarang ya climate change is real, ya, rupanya justru cepat, satu tahun sebelumnya,” sambungnya.
Raja Juli pun membandingkan luas karhutla pada sejumlah periode El Nino. Pada 2015, luas karhutla secara keseluruhan mencapai sekitar 2,61 juta hektare. Kemudian pada 2019 mencapai 1,6 juta hektare dan pada 2023 sekitar 1,16 juta hektare.
Sementara pada Januari-Juli 2026, luas karhutla telah mencapai sekitar 202 ribu hektare.
“Pada tahun 2015, ini nan menjadi referensi kita lantaran El Nino-nya sama, nyaris sama dengan 2015, Karhutla mencapai sekitar 2,61 juta hektare. Pada tahun 2019 1,6 juta hektare, pada tahun 2023 1,16 juta hektare. Di luar El Nino alhamdulillah terkontrol, termasuk tahun nan lampau ya 2025 itu juga menurun dari 2024,” katanya.
Raja Juli mengatakan nomor 202 ribu hektare tersebut tetap berkarakter sementara lantaran proses pengecekan di lapangan tetap berlangsung.
El Nino 2026 Sangat Kuat
Selain luas karhutla nan meningkat, pemerintah juga mewaspadai kondisi suasana nan dapat memperburuk potensi kebakaran dalam beberapa bulan ke depan.
Raja Juli mengatakan berasas pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino nan terjadi pada 2026 sekarang berada pada kategori sangat kuat.
“Dari sisi kondisi iklim, berasas info BMKG, hasil pemantauan menunjukkan bahwa El Nino saat ini berada pada intensitas nan sangat kuat. Ini kudu kita garisbawahi. Di awal tahun ada prediksi El Nino cepat, tapi dikatakan moderat,” kata Raja Juli.
“Kemudian beranjak menjadi kuat dan baru bulan nan lalu, BMKG secara resmi mengatakan El Nino pada saat ini sangat kuat, sering dikatakan El Nino Godzilla, meski teman-teman BMKG kurang pas dengan istilah itu. Istilah baku mereka adalah sangat kuat,” sambungnya.
Dia menjelaskan kondisi tersebut tercermin dari indeks Nino 3.4 nan mencapai +2,19. Angka tersebut menggambarkan kondisi suhu muka laut di Samudra Pasifik nan lebih hangat dari kondisi normal dan dapat berakibat pada berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan akibat karhutla lantaran berkurangnya curah hujan dapat membikin vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.
Tak hanya El Nino, pemerintah juga mewaspadai kejadian Indian Ocean Dipole (IOD). Raja Juli mengatakan IOD diprediksi memasuki fase positif pada September-November 2026.
“Selain El Nino, kondisi IOD alias Indian Ocean Dipole diprediksi memasuki fase positif pada September hingga November 2026. Kondisi ini berpotensi semakin mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia,” ungkap dia.
Raja Juli menyebut kondisi El Nino 2026 mempunyai kemiripan dengan El Nino kuat pada 2015. Bahkan, indeks Nino 3.4 pada 2026 saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan periode Juli-September 2015.
“Juli sampai September 2015 Indeks Nino nya hanya +1,5. Sementara sekarang sudah 2,19 artinya lebih tinggi dari itu. Namun di bulan November 2015 +2,57. Jadi kita berambisi kita tidak bakal sampai di 2,57 seperti di 2015. Tapi per hari ini, itu lebih tinggi dari 2015, ialah +1,5,” jelas Raja Juli.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·