ilustrasi(Antara)
Dinamika hubungan internal di jejeran teras Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus memantik perhatian dari penduduk akar rumput (nahdliyin). Salah satu pandangan muncul dari tokoh ustad kampung sekaligus kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, nan menyoroti pentingnya pertimbangan kepemimpinan jelang persiapan Muktamar NU ke-35. Khalilur menilai ketegangan nan terjadi di tubuh PBNU saat ini tidak bisa hanya dipandang secara sederhana sebagai perseteruan individual antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf. Menurutnya, terdapat polarisasi struktural nan lebih luas dan melibatkan pola relasi kerja di masa lalu.
"Konflik organisasi sebesar NU selalu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perbedaan visi, komunikasi, hingga persaingan pengaruh di sekitar pusat kekuasaan organisasi. Namun, pola nan terus berulang dari fase ke fase patut menjadi bahan renungan bersama," ujar Khalilur melalui keterangannya, Sabtu (27/6).
Berdasarkan pengamatan sosiologis dan sejarah organisasi, Khalilur memetakan adanya dua faksi dominan nan saat ini kerap berseberangan pandangan dalam mengelola roda organisasi PBNU. Kelompok pertama diidentifikasikan sebagai bagian dari lingkaran Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, dan Bendahara Umum PBNU H Gudfan Arif Ghofur. Kelompok kedua diidentifikasikan berada di lingkar Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni.
Menurut analisisnya, pola perbedaan pandangan ini sebenarnya merupakan eksalasi lama nan polanya berulang sejak beberapa periode kepengurusan di tingkat bagian maupun wilayah. Isu mendasar nan kerap memicu ketegangan mendatar umumnya berakar pada pemisah kewenangan serta domain kerja teknis antara jejeran Syuriah (dewan penasihat/keagamaan) dan Tanfidziyah (dewan pelaksana harian).
Lebih lanjut, Khalilur membujuk seluruh penduduk nahdliyin untuk menilai secara bening dan objektif mengenai figur kepemimpinan seperti apa nan dibutuhkan oleh PBNU di masa depan. Ia mendorong agar Muktamar NU ke-35 bisa melahirkan sosok pucuk ketua nan mengutamakan keteduhan dan kesederhanaan hidup, serta bertindak sebagai perekat seluruh unsur jam'iyah.
Pihaknya merefleksikan kembali sejarah emas NU nan pernah dipimpin oleh figur-figur pemersatu seperti Rais Aam KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz. Kedua tokoh legendaris tersebut dinilai selalu dikenang publik lantaran kedalaman ilmu, keteduhan sikap, serta kemampuannya merawat persatuan di tengah perbedaan.
"NU terlalu besar untuk terus-menerus disibukkan oleh bentrok elite. Sudah saatnya Muktamar NU ke-35 menghadirkan kepemimpinan nan tidak lagi mewariskan pertengkaran berkepanjangan, melainkan kepemimpinan nan bisa mempersatukan seluruh penduduk nahdliyin," pungkasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·