Wamenkes: RI Targetkan Mandiri Transplantasi Organ, Tak Perlu Berobat ke LN

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Klinik transplantasi organ di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut, pemerintah menargetkan Indonesia bisa berdikari dalam jasa transplantasi organ, sehingga masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar negeri.

Hal itu disampaikan Dante usai meninjau pengembangan transplantasi hati di Rumah Sakit Umum Fatmawati, nan sekarang menjadi rumah sakit pemerintah ketiga nan melakukan prosedur tersebut.

“Ini memang bukan nan pertama di Indonesia, sudah ada dua rumah sakit milik pemerintah lainnya, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Sardjito nan sudah melakukan proses transplantasi hepar alias transplantasi hati. Dan Fatmawati ini sebagai kasus nan ketiga,” ujar Dante dalam konvensi pers di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4).

Menurut Dante, pengembangan transplantasi dilakukan melalui kerjasama internasional, salah satunya dengan Seoul National University Hospital di bawah supervisi Profesor Kwang Woong Lee.

Ia menekankan, kerja sama tersebut bermaksud mempercepat transfer pengetahuan dan keahlian kepada tenaga medis Indonesia agar bisa melakukan transplantasi secara mandiri.

“Jadi kita harapkan kelak dengan bekerja sama dengan Profesor Lee ada transfer knowledge, ada transfer skill ke dokter-dokter tim transplan hepar di Rumah Sakit Fatmawati ini sehingga ada learning curve nan terus melangkah dan akhirnya bisa mandiri,” ungkap Dante.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengenai progres Transplantasi Hati di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Terus Kembangkan Layanan Transplantasi

Dante menambahkan, pemerintah bakal terus mengembangkan jasa transplantasi dengan menyiapkan sejumlah kandidat pasien sebagai bagian dari proses pembelajaran tim medis.

“Dan proses transplantasi ini bakal kita kembangkan terus, ada beberapa kandidat nan siap kelak untuk dilakukan transplantasi dan kita pilihkan sebagai learning curve. Saya tadi sarankan untuk kasus-kasus nan sederhana dulu nan tidak banyak komplikasi,” jelas Dante.

Selain itu, dia menekankan pentingnya kerja tim multidisiplin dalam setiap prosedur transplantasi, mulai dari master bedah hingga ahli lain nan terlibat dalam perawatan pasien.

“Yang paling krusial juga setelah proses setelah dilakukan transplantasi, maka ada tim nan bekerja secara holistik, ada dari master bedah nan melakukan transplantasi, ada master penyakit dalam, ada master radiologi nan melakukan evaluasi, ada master jantung, ada master anestesi dan sebagainya, timnya sudah lengkap,” katanya.

Klinik transplantasi organ di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Disupervisi master dari Korsel

Dalam penyelenggaraan transplantasi hati di RS Fatmawati, sedikitnya lima master bedah digestif terlibat langsung di bawah supervisi Profesor Lee nan telah berilmu melakukan ribuan transplantasi di Korea Selatan.

“Beliau sudah melakukan transplantasi sekitar lebih dari 2 ribu transplantasi di Korea. Jadi beliau sudah berilmu sekali untuk melakukan transplantasi hepar ini dan kita harapkan proses pembelajaran ini bisa membikin kita lebih mandiri,” katanya.

Direktur Medik dan Keperawatan RS Fatmawati, Muhammad Azhari Taufik, menyampaikan pihaknya telah menyiapkan akomodasi unik untuk mendukung pengembangan transplantasi organ, termasuk klinik transplantasi.

Ia menegaskan, pengembangan jasa ini bermaksud agar masyarakat Indonesia bisa mendapatkan jasa kesehatan terbaik tanpa kudu pergi ke luar negeri.

“Intinya adalah masyarakat Indonesia dapat mendapatkan pelayanan nan paling mutakhir dan tidak perlu ke luar negeri,” kata Azhari.

“Mudah-mudahan Fatmawati bisa berkontribusi untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” lanjutnya.

Transplantasi di RI Semakin Baik

Sementara Kwang Woong Lee dari Seoul National University Hospital menilai program transplantasi di Indonesia menunjukkan perkembangan nan signifikan meski jumlah kasus tetap terbatas.

“Meskipun jumlahnya tetap sangat sedikit, baru tiga kasus, saya sangat senang memandang banyak perkembangan dalam kunjungan ini,” ujarnya.

Ia juga menilai, Indonesia telah menyelesaikan tahap dasar dalam pengembangan transplantasi dan siap melangkah ke tahap lebih lanjut.

“Saya dapat menyimpulkan bahwa Fatmawati sekarang telah menyelesaikan tahap training dasar. Sekarang saatnya belajar dari kasus dan meningkatkan ke teknologi nan lebih maju,” jelas dia.

Lee menambahkan, kerjasama ini menjadi spesial lantaran diinisiasi langsung oleh pemerintah Indonesia.

“Namun, pemerintah Indonesia nan memulai proyek ini. Itu sebabnya saya sangat senang,” tutur dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan