Jakarta -
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono menegaskan pentingnya pemilahan sampah sebagai kunci untuk mewujudkan sasaran penurunan emisi pada sektor limbah. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.
"Yang mau saya soroti adalah pengelolaan sampah seperti WTE, RDF Plant, berisiko tidak melangkah jika tidak ada pemilahan nan baik, sehingga apa nan dilakukan di hulu, seperti pemilahan kelihatannya sepele, tapi pengaruhnya signifikan, termasuk pada capaian NDC kami," ujar Diaz dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Hal ini disampaikan oleh Diaz dalam aktivitas Ministerial Dialogue on Climate Change: Akselerasi Pencapaian NDC melalui Nilai Ekonomi Karbon. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 nan diselenggarakan oleh KLH/BPLH, bertempat di JICC, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diaz menjelaskan KLH/BPLH adalah lembaga nan bertanggung jawab atas pencapaian sasaran sektor limbah dalam NDC. Mengingat besarnya sasaran penurunan emisi nan kudu dicapai, diperlukan beragam upaya dan langkah strategis untuk mewujudkannya.
"Untuk sektor limbah, pengampunya di KLH dan ada sasaran untuk menurunkan 40 juta ton dari sektor limbah, perihal ini dilakukan dengan beragam langkah dari hulu hingga hilir," jelas Diaz.
Pada tahap hulu, Diaz menyampaikan upaya reduksi emisi pada subsektor limbah padat dilakukan melalui penguatan praktik pengomposan nan didukung oleh pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
"Pertama, kita lakukan dengan pengomposan dan melakukan pemilahan, di wilayah Rorotan ada RDF Plant dan kita mulai memberlakukan program pemilahan di Jakarta Utara, setelah pemilahan bisa dijadikan bubur nan kelak dibawa ke peternak maggot," jelasnya.
Selain di tingkat rumah tangga, KLH/BPLH juga mendorong penerapan pengelolaan sampah nan baik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Sekolah Rakyat. Dengan begitu, program-program prioritas nasional Presiden turut berkontribusi dalam upaya pengurangan sampah dan pengendalian emisi.
"Untuk SPPG dan Sekolah Rakyat, kita mempromosikan composting di sana untuk meningkatkan metode pengomposan," katanya.
Untuk timbulan sampah nan jumlahnya lebih besar, KLH/BPLH sedang mempersiapkan teknologi seperti waste-to-energy (WTE) dan RDF nan bisa mengelola sampah dari 1.000-2.500 ton per hari.
"WTE sudah banyak dibahas dan batch 1 sudah selesai, batch 2 sedang proses lelang di Danantara, ini termasuk Jogja, Bogor Raya dan sebagainya, jika RDF di Rorotan, mereka sudah mulai operasional lagi untuk 800 ton per hari, saya rasa tinggal ditingkatkan saja," pungkas Diaz.
Sebagai informasi, turut datang dalam aktivitas ini adalah Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Penasihat Utama Menteri Kehutanan Edo Mahendra, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi, Staf Ahli Menteri Perindustrian Andi Rizaldi, Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto, dan Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Ahmad Aris.
(ega/ega)
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·