Wall Street ditutup di area merah pada perdagangan Selasa (11/8). Pelemahan terjadi ketika investor semakin meragukan kesempatan tercapainya kesepakatan nan bisa meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Saham perusahaan teknologi besar turut menekan pasar. Amazon turun 2,1 persen, sedangkan Alphabet terkoreksi 3,8 persen. Keduanya menjadi pemberat utama bagi indeks S&P 500 dan Nasdaq.
Mengutip Reuters, S&P 500 turun 0,32 persen ke level 7.728,20. Nasdaq melemah 0,6 persen menjadi 26.445,45, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,34 persen ke 53.791,85.
Ketidakpastian juga tetap membayangi pasar setelah Iran menyatakan Selat Hormuz bakal tetap ditutup. Sekretaris baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan jalur strategis tersebut baru bakal dibuka jika Amerika Serikat mengubah sikap dan menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang.
Kondisi tersebut turut menopang nilai minyak. Harga minyak mentah berjangka Brent memperkuat di sekitar level tertinggi dalam sepekan dalam perdagangan nan berfluktuasi. Di pasar saham, indeks sektor daya S&P 500 naik 1,1 persen.
Analis strategi investasi Baird Ross Mayfield menilai kesempatan tercapainya kesepakatan nan dapat diterima seluruh pihak tetap susah diwujudkan. Ketidakpastian tersebut kemudian ikut mendorong nilai minyak.
“Seperti nan terjadi selama berbulan-bulan, memang sangat susah untuk mencapai kesepakatan nan dapat diterima semua pihak. Harga minyak sedikit lebih tinggi lantaran memperhitungkan ketidakpastian nan lebih besar,” kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, Louisville, Kentucky.
Meski bentrok Timur Tengah beberapa kali memicu volatilitas pasar, Mayfield menilai dampaknya sejauh ini belum menjadi gangguan besar bagi pasar saham.
“Pasar memang beberapa kali berfluktuasi akibat bentrok ini, tetapi bentrok tersebut belum menjadi halangan besar seperti nan dibayangkan banyak orang," ungkapnya.
Di sisi lain, saham SpaceX juga terkoreksi nyaris 4 persen. Pelemahan saham-saham tersebut membikin indeks utama Wall Street berhujung lebih rendah.
Namun, tekanan terhadap pasar secara keseluruhan relatif terbatas. Jumlah saham nan menguat di S&P 500 tetap lebih banyak dibandingkan saham nan turun, dengan rasio 1,2 banding 1.
S&P 500 mencatat 22 rekor tertinggi baru dan satu rekor terendah baru. Nasdaq membukukan 108 rekor tertinggi baru dan 75 rekor terendah baru.
Di tengah kondisi tersebut, saham perusahaan pengelola aset pengganti justru menguat. Apollo Global naik 6,2 persen, sedangkan Blackstone melonjak nyaris 4 persen.
Kedua perusahaan tersebut merupakan bagian dari sejumlah lembaga finansial nan baru-baru ini bekerja sama dengan Nvidia untuk membentuk platform pembiayaan komputasi. Platform itu ditargetkan dapat mengerahkan biaya lebih dari USD 500 miliar.
Kinerja finansial perusahaan nan solid sebelumnya menjadi salah satu katalis penguatan pasar. Laporan finansial kuartalan nan kuat membantu S&P 500 mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu.
Sementara itu, Nasdaq tetap berada sekitar 2 persen di bawah level penutupan tertinggi sepanjang masa nan dicapai pada 2 Juni.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·