Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mendorong transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk terus bisa menghadirkan akibat nyata bagi masyarakat, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan.
Menurut Eddy, perjalanan panjang BUMN mulai dari era Perusahaan Negara (PN), transformasi menjadi korporasi modern di bawah Kementerian BUMN, hingga menjadi perusahaan nan kompetitif di tingkat dunia menunjukkan perubahan nan luar biasa dalam tata kelola dan keahlian bisnis.
Namun, transformasi tersebut kudu memasuki babak berikutnya, ialah menciptakan nilai nan tidak hanya bagi pemegang saham (shareholder value), tetapi juga bagi masyarakat luas (stakeholder value).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keberhasilan BUMN memang tercermin dari meningkatnya nilai perusahaan, nilai saham, dividen kepada negara, maupun pangsa pasar. Namun pertanyaan nan jauh lebih krusial adalah apakah keberhasilan tersebut juga menghadirkan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial, mengurangi kesenjangan, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga kelestarian lingkungan hidup," ujar Eddy, Jumat (7/6/2026).
Hal tersebut disampaikan Eddy Soeparno saat memberikan sambutan sebagai Ketua Dewan Juri Kehormatan TJSL & CSR Award BUMN Track 2026.
Eddy menilai konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) telah berkembang jauh melampaui aktivitas filantropi alias support sosial sesaat. Saat ini TJSL merupakan bagian nan tidak terpisahkan dari strategi upaya nan berorientasi pada keberlanjutan.
"BUMN kudu tampil sebagai agent of change sekaligus agent of social justice. Kehadiran BUMN kudu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui program-program nan bisa meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ekonomi rakyat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan," tegasnya.
Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa bumi upaya saat ini menghadapi perubahan paradigma nan sangat besar. Keputusan investasi tidak lagi hanya mempertimbangkan parameter keuangan, tetapi juga semakin dipengaruhi oleh keahlian lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan alias Environmental, Social, and Governance (ESG).
Menurutnya, isu-isu seperti perubahan iklim, efisiensi energi, transisi menuju daya bersih, pengelolaan limbah, hingga jejak karbon perusahaan sekarang menjadi bagian dari parameter nan diperhatikan penanammodal global.
"Hari ini penanammodal tidak hanya memandang besarnya earning per share, tetapi juga gimana perusahaan mengelola carbon footprint-nya. Kinerja lingkungan sekarang menjadi aspek nan memengaruhi nilai perusahaan, daya saing, apalagi keputusan investasi," jelas Eddy.
Karena itu, dia menilai penerapan TJSL kudu terintegrasi dengan strategi ESG perusahaan sehingga bisa menghasilkan faedah ekonomi sekaligus memberikan akibat sosial dan lingkungan nan berkelanjutan.
"Program TJSL adalah investasi jangka panjang nan memperkuat reputasi perusahaan, meningkatkan kepercayaan investor, menjaga keberlanjutan bisnis, sekaligus memperbesar nilai perusahaan di masa depan," ujarnya.
Waketum PAN ini mengapresiasi penyelenggaraan TJSL & CSR Award BUMN Track 2026 nan dinilainya menjadi ruang pembelajaran sekaligus arena untuk mendorong lahirnya praktik-praktik terbaik tanggung jawab sosial perusahaan di lingkungan BUMN.
"Ke depan, keberhasilan BUMN kudu diukur melalui tiga dimensi sekaligus, ialah keahlian ekonomi nan sehat, faedah sosial nan nyata, dan kualitas lingkungan nan terus terjaga. Ketiga aspek tersebut merupakan fondasi utama bagi BUMN untuk terus tumbuh secara berkepanjangan sekaligus memberikan faedah sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara," tutup Eddy.
(akd/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·