Jakarta, CNBC Indonesia - Vietnam sukses mencuri perhatian bumi industri. Negara nan dua dasawarsa lampau tetap berjuntai pada impor baja separuh jadi sekarang resmi masuk jejeran 10 produsen baja terbesar dunia, sekaligus menyalip Indonesia sebagai produsen baja terbesar di Asia Tenggara.
Produksi baja Vietnam diprediksi mencapai 24,7 juta ton, sedangkan produksi baja Indonesia diperkirakan berada di kisaran 19 juta ton per tahun.
Padahal, baja bukan sekadar komoditas industri biasa. Material ini dijuluki sebagai "Mother of Industry" alias ibu dari seluruh industri lantaran menjadi fondasi utama bagi sektor konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, perkapalan hingga pertahanan.
Data World Steel Association menunjukkan Vietnam menempati posisi ke-10 produsen baja mentah (crude steel) terbesar bumi pada April 2026 setelah memproduksi 2,1 juta ton baja, naik 4% dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Capaian tersebut membikin Vietnam menggeser Italia dari daftar 10 besar produsen baja dunia.
Keberhasilan Vietnam menjadi bukti transformasi besar nan telah berjalan selama bertahun-tahun. Pada awal 2000-an, industri baja negara tersebut tetap mengandalkan impor billet untuk memenuhi kebutuhan bangunan domestik.
Namun sejak 2010, Vietnam mulai membangun industri baja nan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Produksi tidak lagi hanya berfokus pada baja konstruksi, tetapi juga merambah baja untuk sektor manufaktur, galangan kapal, energi, hingga pertahanan.
Peran besar dalam transformasi ini dimainkan oleh Hoa Phat Group melalui kompleks baja terpadu Hoa Phat Dung Quat. Fasilitas tersebut memproduksi beragam jenis baja berbobot tambah tinggi, mulai dari baja teknik, baja pegas, baja kawat las, hingga baja rel kereta cepat.
Produksi baja mentah Vietnam melonjak dari 20 juta ton pada 2023 menjadi 24,6 juta ton pada 2025. Dalam dua tahun, kapabilitas produksinya tumbuh sekitar 23%.
Hoa Phat sendiri memproduksi sekitar 11 juta ton baja mentah sepanjang 2025 alias setara 44,7% dari total produksi nasional Vietnam. Tahun ini perusahaan tersebut menargetkan produksi lebih dari 14 juta ton.
Tingginya kebutuhan pembangunan infrastruktur, area industri, sektor energi, dan ekspansi manufaktur juga menjadi pendorong utama pertumbuhan konsumsi baja domestik Vietnam. Pada 2025, konsumsi baja nasional mencapai 24,1 juta ton alias naik 12,9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, keberhasilan Vietnam belum cukup untuk menantang penguasa sesungguhnya industri baja dunia.
China Tetap Raja "Ibu Industri" Dunia
Jika Vietnam baru masuk 10 besar bumi dan Indonesia berada di jejeran 15 besar, maka China bermain di level nan berbeda.
World Steel Association mencatat produksi baja mentah bumi mencapai 1,85 miliar ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, China menghasilkan 960,8 juta ton alias setara 52% dari total produksi global.
Artinya, lebih dari separuh baja bumi berasal dari satu negara.
Dominasi tersebut membikin China layak disebut sebagai raja industri baja dunia sekaligus penguasa "ibu industri" dunia. Posisi China apalagi jauh meninggalkan negara lain.
India nan berada di posisi kedua hanya menghasilkan 164,9 juta ton alias sekitar 8,9% dari total produksi global. Sementara Amerika Serikat memproduksi 82 juta ton dan Jepang 80,7 juta ton.
Korea Selatan mencatat produksi 61,9 juta ton, Vietnam sekitar 24,7 juta ton, sedangkan Indonesia mencapai 19 juta ton.
Besarnya produksi China membikin arah industri baja bumi sangat berjuntai pada kondisi ekonomi negara tersebut. Ketika sektor properti China melambat, nilai bijih besi dan batu bara kokas dunia ikut tertekan. Sebaliknya, saat Beijing menggulirkan stimulus pembangunan infrastruktur, permintaan bahan baku dan nilai komoditas langsung melonjak.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·