Megawati: Pak Prabowo Sama Saya Bersahabat

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Ketua Umum PDIP, Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri, saat meresmikan pembaharuan Istana Gebang nan terletak di Jl. Sultan Agung No.59, Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026). Foto: Dok. PDIP

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato setelah meresmikan pembaharuan Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, pada Senin (15/6).

Dalam pidato tersebut, Megawati menyampaikan beberapa pendapatnya mengenai nilai pangan hingga demo mahasiswa nan kemarin ramai dibahas. Meski begitu, Megawati menekankan dirinya dan Presiden Prabowo Subianto tidak bermusuhan.

Di tengah kritiknya terhadap kondisi ekonomi, Megawati secara unik menyampaikan bahwa dirinya bukan musuh Presiden Prabowo Subianto. Ia menunjukkan bukti kedekatan mereka saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, guna menepis upaya pihak mana pun nan mau membenturkan mereka.

“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan, berkawan ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu kawan saya," tuturnya.

"Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya? Nggak ada. Nanti baru orang teman-temannya nan maunya mem-berang-ko-kan (membenturkan), ‘Oh Ibu Mega itu coba gitu mau melawan Pak Prabowo’. Nanti bisa saya jawab. Jangan gitu dong! Kalian tuh kudu berani, lantaran negara kita ini punya tata hukumnya,” jelas Megawati.

Soroti Harga Pangan hingga Demo Mahasiswa

Dalam pidatonya, Megawati menyoroti nilai pangan nan belakangan sedang naik.

Megawati mencontohkan khususnya cabe nan dilaporkan mencapai Rp 180.000 per kilogram di sejumlah daerah. Di hadapan ribuan kader dan simpatisan nan memadati laman Istana Gebang, Megawati mengakui bahwa nilai kebutuhan pokok sedang melonjak.

Ia apalagi berbincang langsung dan meminta audiens menyebut nilai cabe di wilayah masing-masing.

"Harga-harga di sini udah pada naik apa belum? Cabe harganya berapa? Seratus ribu? Enam puluh ribu? Di wilayah timur saya dapat laporan cabe itu harganya Rp 180.000. Wes ora usah mangan lombok (sudah tidak usah makan cabai) wes ora usah. Atau apa? Bikin aktivitas menanam cabe di rumah sendiri,” ujar Megawati.

Namun, dia mengingatkan bahwa dalam menyampaikan keluhan mengenai kebijakan ekonomi, masyarakat dan kader partai kudu memahami tata langkah serta etika dalam sistem norma tata negara, terutama lantaran PDIP saat ini berada di luar pemerintahan.

"Saya tahu nilai udah pada naik. Tapi saya juga tahu tata cara. Saya tidak ada dalam pemerintahan. Ya saya bakal menyampaikan, tapi menyampaikannya ke siapa? Yaitu ke DPR dari fraksi PDI Perjuangan. Gitu lho. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” tegasnya.

Di sisi lain, Megawati juga menyoroti dinamika kerakyatan hari ini, termasuk tindakan penyampaian pendapat oleh mahasiswa seperti nan dilakukan BEM UI. Alih-alih mempersoalkan aktivitas mahasiswa, Megawati justru menyentil pengawalan ketat abdi negara keamanan dan membujuk seluruh komponen bangsa untuk meneladani keberanian mahasiswa dalam bersikap teguh tanpa rasa takut di negara demokrasi.

"Kemarin saya lihat BEM UI itu demo. Wah, kok saya tuh mikir 'ini sopo toh yo?' Ya apa boleh buat, polisinya toh, lampau Angkatan Daratnya. Terus saya tuh mikirnya begini, mahasiswa itu masuk tidak sebagai penduduk negara Indonesia? Masuk! Itu menunjukkan apa? Hati kalian itu tidak teguh! Jadi mestinya jangan takut. Kalau iya ya iya, jika tidak ya tidak. Nah saya berani ngomong gini, terus saya mau ditangkap? Ayo! Mana di sini ada polisi? Panggil sini!” cetus Megawati.

Ia menekankan pentingnya mentalitas merdeka nan kudu dimiliki penduduk negara.

Soal Harga Pangan: Prihatin pada Petani

Ketua Umum PDIP, Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri, saat meresmikan pembaharuan Istana Gebang nan terletak di Jl. Sultan Agung No.59, Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026). Foto: Dok. PDIP

Selain menyoroti kenaikan nilai di tingkat konsumen, Megawati juga menyampaikan keprihatinannya pada nasib petani sebagai "Soko Guru" bangsa. Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme nan diajarkan Bung Karno melalui dialognya dengan Pak Marhaen di Bandung, Megawati menegaskan pentingnya mengorganisir petani agar berdikari dan bisa mewujudkan kedaulatan pangan.

Untuk itu, dia kembali mengingatkan petunjuk nan telah dia keluarkan sejak tahun 2021 kepada seluruh struktur partai untuk menggalakkan penanaman 10 jenis tanaman pangan pendamping beras guna mencegah ancaman kelaparan.

"Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan petunjuk ke seluruh wilayah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa nan sudah mengerjakan? Jangan sombong jika jadi personil PDI Perjuangan. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tapi saya tetap bisa berteriak seperti ini. Mbok ya semangat!” selorohnya.

Megawati mengingatkan kembali pesan mendasar dari Bung Karno bahwa urusan perut rakyat adalah prioritas absolut nan kudu dipenuhi demi mencegah terjadinya kerusuhan.

"Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan. Makanya kenapa saya tadi nanya nilai sudah naik apa belum,” pungkasnya.

Peresmian pembaharuan Istana Gebang nan dihadiri ribuan kader dan ketua partai itu berjalan khidmat. Setelah pidato dan penekanan sirine selesai, Megawati berbareng keluarga, jejeran petinggi partai, dan sahabatnya, melangkah masuk untuk berkeliling meninjau interior rumah masa mini Bung Karno tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan