Jakarta, CNBC Indonesia- Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari optimistis terhadap potensi Indonesia mengembangkan daya baru terbarukan (EBT) melalui listrik tenaga surga (PLTS) sejalan dengan besarnya potensi PLTS RI nan mencapai 3,3 Terrawatt.
Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan PLTS mengenai kesiapan lahan sehingga upaya pengembangan PLTS lewat PLTS terapung dan PLTS Atap. Selain itu persoalan perizinan juga tetap menjadi tantangan pengusaha PLTS utamanya mengenai sinkronisasi kebijakan di pusat dan wilayah serta persoalan skala proyek nan cukup mini untuk wilayah terpencil menyebabkan pengusaha kesulitan untuk mendapatkan akses pembiayaan.
Sementara Program and Policy Manager CERAH, Wicaksono Gitawan menyoroti program Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia untuk mempercepat transisi daya dan pensiun awal PLTU nan belum efektif. Dimana JETP nan diluncurkan 4 tahun lampau nan tetap menghadapi hambatan pembiayaan hingga kompleksitas perencanaan pensiun awal PLTU batu bara
Implementasi JETP di fase ke-2 ini diharapkan dapat difokuskan untuk melakukan pensiun awal PLTU sekaligus phase-in EBT. Namun proses transisi daya berkeadilan kudu memenuhi 4 variable ialah keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan pengakuan dan keadilan restorative.
Lalu seperti apa tantangan dan strategi nan dibutuhkan untuk mempercepat penerapan transisi daya sekaligus mempercepat pensiun awal PLTU? Selengkapnya simak perbincangan Shania Alatas dengan Program and Policy Manager CERAH, Wicaksono Gitawan dan Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Senin, 14/09/2026)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·